Percakapan antara seorang Entrepreneur yg sedang galau dengan Gus Tanto Abdurrahman, semoga bisa menjadi bahan renungan kita semua…..
T : Gus.. saya pusing… masalah saya begitu banyak… orang orang sudah tidak percaya lagi sama saya… hutang banyak… istri minta cerai anak sudah tidak lagi menghargai saya… saya malu gus… saya harus bagaimana… saya ingin lari saja.. menenangkan diri dimana sebaiknya..
Gus Tanto : he he he…. hal begini saya pernah alami, saya tau persis gimana rasanya… dulupun sempat terpikir utk lari… sampai akhirnya, Allah memberikan hidayah dan maunahnya….
Saya anggap semua peristiwa buruk yang menimpa saya adalah proses pembersihan dari dosa dosa saya… yaa banyaklah… dosa riba,dan masih banyak lagi dosa lain…
Awalnya saya coba ikhtiar lalu pasrah… hasilnya… ??? gak selesai juga..
akhirnya tak balik…. pasrah total… aktifitas yg “ngemis” bantuan kemanusia yg sering kita sebut ikhtiar salah kaprah itu tidak lagi saya lakukan…
Saya gak lagi… konsultasi sana sini, saya hanya mepet Ulama yg membimbing saya… mulut saya kunci utk mengeluh sama manusia, saya kumpulkan “keluhan-keluhan” itu tiap hari lalu setelah tahajut saya tumpahkan keluhan saya ke Allah…
Saya gak lagi, mikir strategi bisnis… saya gak lagi belajar mengelak dan lari bahkan mengakali tanggung-jawab saya dgn berbagai trik dan jurus atau apapun itu namanya… krn memang hutang WAJIB dibayar…
Saya gak lagi, mengandalkan tenaga saya utk mencari solusi kesana kesini yg juga saya sebut namanya ikhtiar… karena memang itupun hanya akan saya jadikan alasan utk menjawab sang penagih hutang…
Akhirnya…. saya pasrah… pasrah total…
Saya mepeeettt ke Allah… 5 waktu jamaah.. dhuha gak pernah putus…
Sholat malem selalu saya pake buat curhat ke Allah… saya bayakin deres Qur’an… ternyata ini yg sebenarnya disebut ikhtiar…
Setelah hal ini saya lakukan ISTIQOMAH… solusi datang…. jalan selalu muncul… peluang datang dengan sendirinya…
Dan tidak perlu extra capek utk mengeksekusi akan berbuah hasil yg secara nalar jika kerja dengan fisik dan otak dalam waktu sesingkat itu tdk mungkin dapat hasil yg sebesar itu…
Akhirnya… ikhtiar saya ke langit… bukan lagi mengandalkan otak dan logika… karena memang rizky itu hal ghaib… tdk akan pernah bisa di raba dengan yg serba indra… hanya dengan kejernihan dan ketenangan hati saja…
AKHIRNYA aktifitas fisik kerja yg saya lakukan saya niatkan bukan lagi untuk hasil, tapi dalam rangka mensyukuri nikmat sdh diberi anggota badan yg lengkap, dan saya niatkan “SETOR” keringat ke Allah…
terserah Allah setoran keringat saya mau “dihargai” dgn bentuk rizky seperti apa…
KUNCINYA…
Jangan pernah ngelawan takdir Allah…
Kondisi apapun saat ini yakinkan bahwa itu adalah kondisi terbaik buat kita menurut Allah…
Gak ada kata TAPI dalam menjalankan takdir Allah… mau enak ayooo… mau menderita ayooo…. mau banyak masalah ayooo…. Apapun kondisinya jangan pernah ada perlawanan terhadap takdir Allah…
T: kog gitu gus…Tapi gus masalah saya… hutang saya… istri saya…
Gus anto: Yah emang gitu, emang kalo banyak masalah kenapa, emang klo banyak utang kenapa… , emang kalo istri minta cerai kenapa.. emang kalau anak gak lagi percaya kenapa… ya biarin aja.. lha wong itu kehendak Allah… bukankah smua hal dimuka bumi in terjadi atas kehendak dan izin Allah… ya sudah di adepin… anteeeeeeeeeeeeeeeeeeeng…. diadepin jangan lari…
Saya: tapi gus…
Gus Tanto: stttttttttttttttt……… sudah… gak usah nglawan takdir Allah….
Dijalanin saja, gak usah protes… itu cara Allah memuliaknmu jika memang Allah satu satunya tujuanmu…
Saya: Subhanallah…. iya gus iya…
Gus Tanto: Subhanallah saja belum cukup…. klo hati sudah bisa ngomong terucap lewat mulut, karena paham betul bahwa takdir Allah sedang berjalan…
Harusnya yang terucap:
Alhamdulillah… Akhirnya saya ngrasain juga punya utang banyak… resikonya paling di omelin deptcolector, dan setau saya gak ada cerita di omelin deptcolektor trus mati gitu gak ada cerita…
Alhamdulillah… Akhirnya saya ngrasain juga di hinakan orang… jadi begini rasanya dihina orang… gini rasanya gak punya harga diri… Alhamdulillah Yah…
Alhamdulillah… akhirnya ngrasain digugat cerai ama istri… yah sudah apa adanya kita sampaikan klo tidak bisa menerima kondisi kita yah sudah, mau cerai sekarang mau nanti sama saja… krn pada dasarnya istrinya tdk mau menerima kondisi kesusahan,…
Saya: Tapi gus… beraaaaaaaaatt
Gus Tanto: stttttttttttt jangan nglawan takdir Allah… saya gak pernah bilang kalau ini ringan… memang mendekatkan diri dan berjuang menjadi kekasih Allah itu bukan hal yg mudah… perlu perjuangan, perlu pengorbanan… dan yang paling berat adalah MENGORBANKAN SMUA HAL YG BERHUBUNGAN DENGAN NAFSU DAN KEINGINAN KITA… jadi ah sudah lahhhh…… itu pilihan… , mau dengan cara ini silahkan kalau ada cara lain menyelesaikan masalahmu dengan tuntas selain ke Allah, nanti tlg kasih tau saya… saya ingin tau juga….
Gus Tanto (Tanto Abdurrahman)
*Gus Tanto (Tanto Abdurrahman) adalah seorang entrepreneur, Ustadz, pembimbing Spiritual, bertempat tinggal di Jogja.
Silahkan ke FB : Gus Tanto (Tanto Abdurrahman)
Sumber : http://kampungwirausaha.com
Barangsiapa mendirikan karena Allah suatu Masjid, niscaya Allah mendirikan untuknya seperti yang ia telah dirikan itu, di dalam surga (HR. Bukhari dan Muslim)
Tampilkan postingan dengan label Dahsyatnya Sedekah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dahsyatnya Sedekah. Tampilkan semua postingan
Selasa, 01 Oktober 2013
Rabu, 26 September 2012
Sembuh dari Gagal Ginjal
Ada seorang wanita yang mengalami gagal ginjal -–kita memohon kepada Allah, semoga Dia memberikan keselamatan, kesehatan, dan kesembuhan bagi kaum muslimin yang sakit–. Ia sudah berulang kali memeriksakan dan mengobatkan sakit yang dideritanya tersebut. Akhirnya, ia mencari-cari sekiranya ada orang yang mau merelakan ginjalnya untuk disumbangkan kepada dirinya, ia siap membayar dengan uang sejumlah 20.000 riyal.
Tersebarlah berita tersebut di kalangan orang-orang ketika itu, hingga ada salah seorang wanita yang mendengar kabar tersebut yang akhirnya langsung menuju ke rumah sakit untuk mendonorkan ginjalnya. Ia menyetujui seluruh ketentuan-ketentuan yang diajukan kepadanya sebelum menjalani operasi.
Di hari yang telah ditentukan, perempuan yang sakit tersebut menemui sang pendonor, ternyata ia sedang menangis. Karena heran melihat keadaannya, ia pun bertanya, “Apakah Anda merasa terpaksa dan keberatan dengan operasi yang akan Anda jalani?” Wanita pendonor itu berkata, “Sebenarnya tidak ada yang mendorongku untuk mendonorkan ginjalku selain kemiskinan yang menimpa diriku dan karena aku sangat membutuhkan uang.”
Wanita pendonor itu kembali menangis tersedu-sedu, maka wanita yang sedang sakit itu menenangkannya dengan mengatakan, “Silahkan engkau ambil uang ini, dan aku tidak menghendaki sesuatu pun darimu…”. Beberapa hari kemudian perempuan yang sakit tersebut kembali ke rumah sakit. Ketika tim dokter memeriksa penyakitnya, begitu terkejutnya mereka, karena tidak mendapati sedikit pun bekas sakit pada dirinya. Al-hamdulillah, ternyata Allah telah menyembuhkannya.
Sumber : disini
Senin, 24 September 2012
Batu Ginjal dan Sedekah
Kisah berikut ini disampaikan
oleh Ustad Sayyid Juwail. Sebuah keluarga yang terdiri atas bapak dan anak
laki-laki tinggal di sebuah rumah sederhana. Ibu anak itu telah rneninggal
beberapa tahun yang lalu. Suatu hari, si bapak mengeluhkan sakit yang luar biasa,
yang tidak diketahui sebabnya. Karena tak tahan lagi, dia dan anaknya pergi ke
dokter untuk mengetahui penyakitnya.
Setelah dokter memeriksanya lewat
komputer, ternyata si bapak menderita sakit batu ginjal. Dokter menyarankan agar
dilakukan operasi untuk mengeluarkan batu tersebut. Lalu, bapak dan anaknya
kembali ke rumah untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum operasi dilakukan.
Keesokan paginya, si anak pegi ke
kantor seperti biasa. Hari ini, tepat satu bulan dia bekerja di kantor
tersebut. Itu berarti dia akan menerima gaji pertamanya. Tentu saja, dia sangat
gembira. Dan yang lebih menggembirakan, dia bisa meringankan biaya operasi bapaknya.
Di tengah perjalanan pulan, si
anak melihat seorang kakek tua yang fakir. Bajunya kumal. Wakahnya menampakan
kelelahan.
Si anak sangat kasihan melihat
keadaan kakek tua itu. Dia sempat bimbang, menolong bapaknya atau bersedekah ?
Dia pun memutuskan untuk bersedekah kepada kakek tua itu. Semua gaji pertamanya
dia sedekahkan, disertai doa semoga Allah menyembuhkan bapaknya. Si anak tidak
bisa membayangkan seandainya bapaknya seperti kakek tua itu. Setelah
menyerahkan sedekahnya, cepat-cepat dia pulang. Dia mencemaskan bapaknya yang
sedang sakit sendirian di rumah.
Sesampainya di rumah, si anak
mengetuk pintu. Ternyata dia disambut bapaknya dengan wajah gembira.
“Alhamdulillah, Anakku. Beberapa
saat yang lalu, Bapak merasa sakit sekali. Lalu Bapak pergi ke WC untuk buang
air kecil. Tanpa disengaja, batunya keluar. Sekarang, Bapak merasa nyaman,
tidak sakit lagi”.
Kontan saja, si anak menangis
karena sangat bahagia mendengar cerita bapaknya. Segala puji bagi Allah yang
telah mendengar doa hamba-Ny.
Sumber : disini
Label:
Dahsyatnya Sedekah,
IMSA,
islamic masjid,
muslim indonesia amerika,
online zakat,
renovasi mushola,
Sakit Ginjal,
sedekah online,
zakat online
Minggu, 23 September 2012
MENJUAL HARTA UNTUK SEDEKAH, ISTRI SEMBUH DARI PENYAKIT JANTUNG
Pak Arif baru saja membereskan barang-barangnya di kantor.
Ketika Pak Arif hendak pulang, tiba-tiba HP-nya bordering. Seorang dokter
mengabarkan kalau istrinya sedang kritis di ICU. Tiba-tiba saja, istrinya
pingsan di rumah dan langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan
perawatan. Dari hasil pemeriksaan awal, istri Pak Arif dinyatakan menderita
penyakit jantung yang akut. Kecil kemungkinan istri Pak Arif sembuh. Tentu
saja, kabar ini mengejutkan Pak Arif. Dia sedih sekaligus pusing tujuh
keliling.
Di tengah perjalanan pulang ke rumah, Pak Arif teringat
kisah kawannya yang bersedekah untuk kesembuhan anaknya yang lumpuh. Kini, anak
itu telah kembali sehat dan bisa berjalan lagi.
Setibanya di rumah, Pak Arif cepat-cepat mengumpulkan
barang-barang berharganya untuk segera dijual. Setelah itu, Pak Arif,
menyedekahkan semua uang hasil penjualan tersebut dengan niat untuk kesembuhan
istrinya. Seusai bersedekah, dia kembali ke rumah sakit.
Ketika sampai di rumah sakit, Pak Arif mendapat kabar baik dari dokter yang memeriksa istrinya. Beberapa saat lalu, bertepatan dengan dia bersedekah, istrinya mulai sadar. Kondisi istrinya berangsung-angsur membaik hingga bisa dipindahkan ke ruang pasien. Setelah beberapa hari, istri Pak Arif sudah diijinkan pulang dan dinyatakan sembuh total. Subhanallah, walhamdulillah walailahailallah allahuakbar ….
Sumber : buku Kehebatan
Sedekah : Kisah-kisah Seru Tentang Kedermawanan
dan Kemurahan Hati karya Fuad Abdurrahman hal 125-126
Label:
Dahsyatnya Sedekah,
dengan sedekah istri sembuh sakit jantung,
IMSA,
masjide,
panitia bangun mushola,
proposal pembangunan masjid,
sedekah mushola,
sedekah online,
sedekah tolak bencana
Minggu, 24 Juni 2012
Sedekahnya Tukang Tambal Ban
Seorang Tukang tambal ban. Lima tahun yang lalun seringkali
terkena obrakan, sebab lapaknnya atau tempatnya berada di tepi jalan.
Suatu ketika, di pagi hari, ada seorang temannya yang mampir ke
tempatnya.
Ketika mereka asyik berbicara, tiba-tiba seorang pengemis berdiri meminta. Si Tukang tambal ban merasa terganggu dengan kehadiran pengemis tersebut. Dia menolaknya, dan pengemis itupun berlalu. Demikian berturut-turut hingga ada beberapa pengemis yang selalu ditolaknya.
Kawannya bertanya. “Disini banyak pengemis yang datang ya?.”
“Wah, kalau dituruti, sehari bisa puluhan orang. Saya selalu menolak mereka. Buat apa mengajari orang malas.” Kata si Tukang tambal itu.
Kawannya diam sejenak. Lalu berbicara, “Kalau boleh menyatakan, sebaiknya jika ada pengemis jangan ditolak. Meskipun seratus perak. berikanlah kepadanya!.”
Si tukang tambal ban tersenyum kecut dan menanggapi dengan sikap
dingin. “Pengemis sekarang bukanlah orang yang benar-benar miskin. Di
daerahnya, mereka meiliki rumah besar, ternak banyak dan sawah luas.
Mengemis dibuat sebagai mata pencaharian. Jika menuruti pengemis, bisa
bangkrut aku. Sedangkan sejak pagi tak satupun kendaraan yang berhenti
untuk mengisi angin ataupun minta ditambal.”
Temannya berusaha menasehati dengan bijak,”Berpikir begitu
boleh-boleh saja. Tetapi saya tetap yakin bersedekah itu lebih
bermanfaat dan menguntungkan diri sendiri. Aku menggemarkan diri
bersedekah sudah beberapa tahun lalu.”
“Kamu berbicara begitu karena memang sudah pantas melakukan sedekah,
sebab penghasilanmu besar, punya mobil dan rumah bagus. Sedangkan
diriku!? hanyalah seorang tukang tambal ban.tidak lebih dan tidak
kurang!”
“Aku dulu juga seperti dirimu…… Kau tahu kan? Kehidupanku compang camping. Sekarang makan, besok harus hutang ke tetangga. Tetapi aku tidak pernah berhenti bersedekah. Maaf, ini bukan pamer ataupun membanggakan diri, tetapi maksudku berbagi pengalaman denganmu. Setiap ke masjid, aku selalu memasukan uang meskipun hanya recehan. Setiap ada pengemis datang selalu kuberi jika memang masih ada uang, tetapi kalau lagi tidak ada …air minum saja juga sudah sangat senang. Itu kulakukan secara istiqomah, Dan sungguh, aku mengalami sebuah kejadian luar biasa. Rejekiki sangat lancar, setiap ada rencana selalu berhasil, setiap transaksi selalu sukses, apa saja yang kulakukan selalu membawa berkah hingga kamu lihat sendiri seperti sekarang ini.” kata temannya itu menambahkan.
Si tukang tambal ban tidak segera menjawab. Dia tampaknya sedang
berpikir. Temannya lalu berkata lagi, “Memberi sedekah tidak harus
kepada pengemis. kamu bisa mengulurkan tanganmu kepada sanak saudara
atau siapa saja.asalkan ikhlas.”
“Benar… dan sedekah yang lebih tinggi harganya ialah ketika dirimu
dalam keadaan sempit. Jangan menunggu kaya baru bersedekah. Saat
sekarang ini kamu harus memulainya.” begitu temannya dengan sangat bijak
dan mengena memberikan saran.
Si tukang tambal ban mulai bisa menangkap makna memberi, dari
kata-kata temannya tadi terutama kondisi dulu yang menyatakan kalau
dirinya juga berawal dari orang yang tidak punya karena tidak punya
pekerjaan tetap. Maka dia pantas dipercaya karena keadaanya memang sudah
mapan dibandingkan dengan dirinya.
Keesokan harinya si Tukang tambal ban mulai menyediakan uang recehan.
Selama uang recehan masih ada, ia tidak pernah menolak pengemis yang
datang. Kecuali jika sudah habis jatahnya baru ia menolaknya, bahkan
setiap pergi ke masjid dia tidak pernah melupakan sedekah ke kotak
infaq.
Semenjak itu rejekinya lancar. Setiap hari sejak pagi hingga petang sambung menyambung motor yang berhenti minta ditambalkan ataupun sekedar mengisi angin. Bahkan dua keponakannya yang menganggur diajaknya membantu pekerjaan itu.
Sekarang si Tukang tambal ban telah memiliki tabungan. Dari
tabungannya dia mampu menyewa tempat dan membangunnya meskipun tidak
permanen. Sehingga dia kini bisa bekerja dengan tenang karena tidak
harus dikejar-kejar polisi pamong praja.
Seiring waktu, si Tukang tambal ban tidak hanya melayani jasa
menambal atau mengisi angin. tetapi berkembang menjadi sebuah usaha ban
kanisir. Bahkan dia mempunyai puluhan pelanggan perusahaan jasa
angkutan. Kalau dulu dia menerima uang recehan dari pelanggannya.
Sekarang dia menerima cek dari perusahaan sebagai pembayaran ban
kanisir. Anak buahnya semakin bertambah.
Keadaan hidup si tukang tambal ban telah mapan. Dia bisa membeli
rumah dan mobil. Setiap tahun zakat malnya dibagikan di kampung
halamannya untuk orang-orang miskin dan yatim piatu. Bahkan dia telah
berangkat haji bersama istrinya,
Si Tukang tambal ban berhasil membuka tabir misteri keajaiban
sedekah. Sekarang dia benar-benar percaya bahwa sedekah itu sangat
memberikan manfaat yang luar biasa seperti saran temannya dulu yang
diawalnya dia tanggapi dengan sikap dingin. Subhanalloh…………..
Label:
bantu mushola,
contoh proposal masjid,
Dahsyatnya Sedekah,
IMSA,
kisah sedekah,
online zakat,
zakat online
Selasa, 19 Juni 2012
Sedekah Indah Seorang Dokter
Di satu tempat di Jakarta ada rumah yang bisa dibilang cukup mewah. Rumah
itu adalah kediaman keluarga dr.
Juni Tjahjati. Selain sebagai tempat tinggal, rumah itu
sehari-hari dipakai Juni sebagai tempat praktek. Banyak pasien berobat setiap
hari ke sana yang kadang membuat tukang parkir harus ekstra keras mengatur
kendaraan.
Jika kita berdiri tepat menghadap rumah itu dari seberang jalan tampaklah
dua buah hiasan berbentuk pagar kecil bersusun di atap rumah. Di bagian tengah
pagar besi yang tidak memagari apapun itu terpampang lambang cinta berbentuk
hati dicat warna emas. Lambang itu seperti ingin berkata bahwa semua aktivitas
dalam rumah dan tempat praktek itu didasari oleh cinta.
Tanpa ragu, dokter itu membantu tetangganya yang dioperasi di rumah sakit.
Semua biaya ia tanggung. Hidupnya pun tampak berkah dan berlimpah rezeki.
Beberapa tahun lalu, seorang laki-laki bernama Mustofa datang ke
rumah itu. Ia menggigil kedinginan. Ia baru pulang dari Bogor, memenuhi
undangan kawannya untuk memancing. Sebuah kecelakaan kecil terjadi: kakinya
tertusuk bambu. Mustofa adalah tetangga Juni, sehari-hari berjualan es jus
sambil menjadi tukang parkir di tempat praktek itu. Seorang dokter menanganinya
dengan memeriksa dan memberi obat.
“Waktu itu dokter Juni sedang keluar negeri,” ujar Mustofa.
Pengobatan diberikan kepada Mustofa secara cuma-cuma. Ia dapat kembali
pulang dengan tenang. Tapi seminggu kemudian ia kembali datang karena ia mulai
merasakan sakit yang lebih parah. Mustofa sulit menggerakkan mulut dan menelan
makanan. Juni yang sudah pulang langsung memberi pertolongan. Bapak empat anak
itu disuntik dua kali, diberi obat dan disuruh balik lagi beberapa hari
kemudian. Menyadari kemungkinan Mustofa menderita tetanus, Juni melakukan
operasi kecil, mengeluarkan potongan bambu kecil yang tertanam di kaki Mustofa.
Tapi beberapa hari kemudian, Mustofa semakin parah karena racun tetanus
ternyata sudah menjalar ke tubuhnya menginfeksi syaraf dan ototnya hingga kaku
dan tak bisa digerakkan. Juni kemudian bertindak cepat dengan membawa Mustofa
ke rumah sakit agar bisa dirawat dengan fasilitas lebih memadai. Ia tak bisa
mengiringi tetangganya itu tapi mengontak teman-temannya yang ada di rumah
sakit agar Mustofa ditangani dengan baik.
“Jangan ditinggal sebelum Pak Mus dapat ruang inap dan ditangani dokter,”
ujar Juni kepada supirnya yang mengantar.
Mobil pun melaju ke RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo) Jakarta. Di RSCM
ada suami Juni, dr.
Ismail, seorang ahli Ortopedi, yang sehari-hari berpraktek dan
mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tapi, ternyata., RSCM
tak ada ruangan kosong. Mustofa lalu dilarikan ke RS Persahabatan. Kembali tak
ada ruang kosong. Ismail lalu mengontak koleganya di RS Fatmawati. Ada ruang
kosong di rumah sakit itu. Mustofa langsung dibawa ke sana.
“Sampai di sana, saya langsung disambut dokter dengan hormat. Sepertinya
dokter itu teman baik dr. Juni atau suaminya, dr. Ismail,” ujar Mustofa
mengenang.
Sampai di Fatmawati Mustofa tak sadarkan diri. Ia dirawat berhari-hari di
sana sampai kesadarannya pulih. Dalam sakitnya itu, Mustofa ditunggui oleh
istrinya.
Setelah beberapa hari di rumah sakit, datanglah lembar tagihan berobat.
Mustofa dan istrinya terkaget-kaget, karena di situ tertera angka 13 juta
rupiah. Tentu saja ia tak memiliki uang sebesar itu apalagi ia belum pulih
benar. Perlu beberapa hari lagi untuk menginap agar ia bisa pulih sampai
sediakala.
Tapi, rupanya, kecemasan itu hanya terjadi sesaat saja, sebab rupanya dr.
Juni sudah menangung biaya berobat Mustofa. Tak terbilang rasa terima kasih
Mustofa dan istrinya. Apalagi Juni juga turut menjenguk Mustofa dan bahkan
memberi istri Mustofa uang untuk pegangan selama menunggui suaminya dirawat.
“Saya tak punya uang sepeser pun. Semua biaya ditanggung dokter Juni. Saya
tak tahu berapa jumlah pastinya. Tapi kira-kira 20 juta rupiah,” ujar Mustofa
mengenang sambil terharu.
Mustofa sampai tak habis pikir kenapa ada orang sebaik itu. Ia hanya
tetangga dan bukan saudara. Bisa dikatakan ia juga hidup dari dr. Juni karena
ia berjualan es di depan Praktek dr.Juni, selain memarkir kendaraan. Ia tak
dimintai uang sedikit pun berjualan di depan tempat praktek itu seperti yang
lazim terjadi. Bahkan ia juga tak dimintai uang listrik, padahal sehari-hari ia
memakai listrik untuk blender es jus.
Saat anak nomor tiganya menderita kecelakaan, kembali Juni dengan ringan
membantu Mustofa. Waktu itu, anak Mustofa tertabrak kendaraan bermotor dan
kakinya patah. Kaki anak berusia 6 tahun itu diberi pen yang diukur
sendiri oleh suami dr. Juni. Kembali Mustofa tak membayar sepeserpun biaya
pengobatan itu karena semua ditanggung dr. Juni.
Berkah Sedekah
Sekalipun menolak untuk membeberkan lebih lanjut, sedekah memang merupakan
amal yang masyhur dilakukan Juni. Ini diakui pula oleh para warga di sekitar
rumahnya. Tangannya begitu ringan menolong. Kadang ada kaum dhuafa yang berobat
dengan membayar semampunya atau gratis sama-sekali. Jika melihat kehidupan Juni
yang dilimpahi rezeki benarlah ungkapan al-Qur’an dalam surat al-Baqarah ayat
256 yang menyebut bahwa
“Perumpamaan orang-orang
yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan
jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram
oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika
hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah
Maha Melihat apa yang kamu perbuat.”
Tempat prakteknya tampak ramai, membuat rezekinya seakan tidak pernah putus.
Pasien yang berobat di sana juga sangat senang karena diobati dengan penuh
perhatian. Selain itu, Juni juga memiliki beberapa kendaraan dan perusahaan
yang ia kelola di bidang kesehatan, makanan, laboratorium, penyewaan gedung,
perawatan kecantikan, dan lain sebagainya. Dahulu, sebelum meraih semuanya,
Juni malah hidup sederhana; berbisnis salon dan membuka toko sepatu karena ia
merasa tak patut mencari uang berlebih dari pengabdiannya sebagai dokter.
Satu hal yang patut dicontoh adalah Juni tampak enggan untuk menceritakan
itu semua. Baginya itu hal biasa saja. “Kebetulan saya bisa membantu, ya saya
bantu,” ujarnya.
Saat masih menjadi dokter puskesmas di daearah Jawa Timur tahun 90-an, Juni
juga sudah sering bersedekah. Ia bahkan pernah mengobati pasien yang memerlukan
transfusi darah dengan mengambil darahnya sendiri. Lagi-lagi jika ada pasien
yang tak mampu dan perlu dirujuk ke rumah sakit, ia bersedia mengantarkan
dengan menggunakan biaya akomodasi dari dirinya sendiri.
Menolong sepertinya sudah menjadi etika utama dokter ini. Semua hal
dikebelakangkan dan keselamatan pasienlah yang diutamakan.
“Ada perasaan lega dan senang jika pasien yang kita tolong bisa selamat, dan
bisa berbagi itu merupakan satu kenikmatan sendiri,” ujar Juni.
Tak hanya itu, Juni juga kerap mengalamatkan sedekah pada pembangunan
masjid. Beberapa masjid sudah ia sumbang. Ada di antaranya yang dibangun bagi
kaum pinggiran di wilayah Tebet, Jakarta Selatan.
Banyak orang yang memiliki penghasilan besar, namun selalu merasa tidak
cukup. Bahkan tidak jarang pengeluaran mereka lebih besar dari penghasilan yang
didapat. Tapi itu tak berlaku jika melihat kehidupan dr. Juni. Rezeki seperti
mengalir deras padanya, dari berbagai jalan, karena setiap rezeki yang ia
dapatkan juga ia sedekahkan kemana-mana.
“Barangsiapa membawa
amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan
barangsiapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan
melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya
(dirugikan).”
Demikian Allah berkata dalam firman-Nya.
Jadi, sebetulnya, setiap harta yang kita sedekahkan justru akan kembali
dengan berlipat ganda. Satu dikurang satu sama dengan sepuluh, bukan nol.
Itulah rumus sedekah. Dengan memberi, seseorang akan mendapatkan lebih banyak,
tidak berkurang atau habis.
Label:
bantu mushola,
contoh proposal masjid,
Dahsyatnya Sedekah,
IMSA,
sedekah dokter,
sedekah mushola
Rabu, 13 Juni 2012
Berkat Sedekah, Tukang Becak Itu Mengunjungi Baitullah
Pak Parman,
demikian orang-orang memanggilnya. Dia hanyalah seorang tukang becak. Sudah
bisa ditebak, berapa kekayaannya? Dia hanya punya tempat tinggal, dan itu pun
kost di tempat yang kumuh, yang gentengnya sewaktu-waktu bisa bocor karena
hujan. Meski begitu, Pak Parman memiliki budi yang sangat mulia. Kemiskinan
yang merenggut kehidupannya, tidak menutup mata batinnya untuk selalu berbagi
kepada orang lain.
Tapi, bukan harta yang bisa ia sumbangkan. Sebab, untuk makan sehari-hari
saja sulit, apalagi berniat untuk berbagi harta kepada orang lain. Maka, yang
hanya bisa dilakukan Pak Parman adalah “sedekah jasa”. Yaitu, setiap hari
Jum’at ia menggratiskan semua penumpang yang naik becaknya. Ini adalah hal yang
luar biasa. Tidak semua orang bisa melakukannya, apalagi orang miskin seperti
dirinya. Maka, atas kebaikannya itulah, suatu “keberkahan hidup” kemudian
menghampirinya.
Suatu ketika, di hari Jum’at pertama bulan Ramadhan, tiba-tiba, ada orang
yang kaya raya mobilnya mogok. Kebetulan, mogoknya tidak jauh dari pangkalan
becak Pak Parman. Orang kaya itu pun bertanya kepada supirnya, “Pir, kalau naik
becak kira-kira ongkosnya berapa ya?”
“Paling juga dua sampai tiga ribuan,” jawab supir kepada majikannya.
Orang kaya tersebut pun memutuskan naik becak karena sebenarnya jarak
dirinya dengan rumahnya sudah lumayan dekat. Maka, dipanggillah tukang becak
yang ada di pangkalan tersebut dan kebetulan Pak Parman yang datang. Lalu,
digoeslah becak itu oleh Pak Parman menuju rumah orang kaya tersebut. Setelah
sampai di tempat, Pak Parman dikasih uang 10 ribu dan tidak usah dikembalikan.
Namun, oleh Pak Parman uang itu ditolaknya.
“Kenapa Bapak menolaknya?” tanya orang kaya itu..
“Saya sudah meniatkan dari dulu, kalau setiap Jum’at saya menggratiskan
semua penumpang yang naik becak saya,” jawabnya jujur.
Setelah itu, Pak Parman pun pergi meninggalkan orang kaya tersebut. Rupanya,
kejadian itu sangat membekas di hati orang kaya tersebut. Orang kaya seperti
dirinya saja tidak pernah sedekah, ini orang miskin malah melakukannya dengan
begitu tulus. Lalu, dikejarlah Pak Parman. Setelah dapat, Pak Parman pun
dikasih uang satu juta. Orang kaya itu pikir, Pak Parman akan menerimanya
karena uangnya besar. Tapi, Pak Parman tetap menolaknya. Lalu, dinaikkan lagi
menjadi dua juta dan tetap Pak Parman menolaknya. Alasan Pak Parman sama: dia
tidak menerima uang sepeser pun di hari Jum’at untuk jasa ojek becaknya. Sebab,
dia sudah meniatkannya untuk bersedekah. Subhanallah!
Tapi, hal ini justru membuat orang kaya tersebut semakin penasaran. Maka
Jum’at berikutnya (di hari Ramadhan juga), orang kaya itu pun naik becak lagi.
Ia sengaja meninggalkan supirnya untuk pulang ke rumah sendiri dan dia lebih
memilih berhenti di pangkalan itu untuk bisa naik becak Pak Parman. Maka
diantarlah orang kaya tersebut ke rumahnya oleh Pak Parman. Setelah sampai, Pak
Parman pun diberikan uang yang lebih besar lagi, kali ini 10 juta. Orang kaya
itu pikir Pak Parman akan tergoda oleh uang sebanyak itu. Tapi, lagi-lagi,
perkiraannya meleset. Pak Parman, sekali lagi, menolak uang yang bagi dia itu
sebenarnya sangat besar. Apalagi, sebentar lagi akan Lebaran dan uang itu pasti
akan berguna buat dirinya dan keluarganya. Tapi, orangtua itu menolaknya dengan
halus.
Kejadian ini benar-benar membuat orang kaya tersebut tidak mengerti. Kenapa
orang miskin seperti Pak Parman tidak mau menerima uang sebesar itu? Padahal,
uang itu bisa ia gunakan selama berbulan-bulan. Namun, rasa penasaran orang
kaya itu rupanya tidak pernah berhenti. Jum’at berikutnya, dia pun naik becak milik
Pak Parman lagi. Namun, kali ini ia minta diantarkan ke tempat yang lain.
“Pak, antarkan saya ke rumah Bapak,” pinta orang kaya.
“Memangnya, ada apa, Pak?” jawab Pak Parman polos.
“Pokoknya, antarkan saya saja.”
Akhirnya, Pak Parman terpaksa mengantarkan orang kaya itu ke rumahnya.
Mungkin orang kaya itu hanya ingin menguji: apakah tukang becak itu benar-benar
orang miskin ataukah tidak? Mereka pun akhirnya sampai di rumah Pak Parman.
Betapa terkejutnya orang kaya itu, karena rumah yang dimaksud hanyalah sebuah
rumah kost yang sangat jelek. Gentengnya sewaktu-waktu bisa roboh karena
terpaan air hujan. Karena sangat iba melihat kejadian itu, orang itu pun
merogoh uangnya sejumlah Rp. 25 juta.
“Ini Pak, uang sekedarnya dari saya. Mohon Bapak menerimanya,” pinta orang
kaya kepada Pak Parman.
Apa reaksi Pak Parman? Ternyata, dengan halus dia pun tetap menolaknya. Hal
ini benar-benar sangat mengejutkan orang kaya itu. Bagaimana bisa orang
semiskin dia menolak uang pemberian sebesar Rp. 25 juta? Kalau bukan dia adalah
lelaki yang luar biasa, yang memiliki budi yang sangat luhur.
Akhirnya orang kaya itu pun menyerah. Dia benar-benar kalah dengan ketulusan
hati Pak Parman. Ia percaya bahwa apa yang dilakukan Pak Parman benar-benar
tulus dari hatinya. Ia benar-benar tidak tergoda oleh indahnya dunia dan
kilaunya uang jutaan rupiah. Mungkin ia satu pribadi yang langka dari 1000
orang yang ada, yang sewaktu-waktu hanya muncul di dunia. Luar biasa!
Tapi, orang kaya itu berjanji bahwa suatu saat ia akan memberikan yang terbaik
buat tukang becak yang berhati mulia tersebut. Sebab, mungkin, baru kali ini
hatinya terusik lalu disadarkan oleh orang miskin yang hanya seorang tukang
becak. Dan waktu pun terus berlalu.
Lebaran telah tiba. Pak Parman dan orang kaya itu tidak bertemu lagi.
Menjelang Lebaran Haji (Idul Adha), orang kaya itu kembali menemui Pak Parman
di rumah kostnya. Kembali ia pun datang di hari Jum’at. Mudah-mudahan kali ini
niatnya tidak sia-sia. Setelah mereka bertemu, di depan Pak Parman orang kaya
kemudian bicara terus terang, “Pak, mohon kali ini niat baik saya diterima.
Bapak dan istri serta anak Bapak akan saya berangkatkan haji ke Tanah Suci.
Sekali lagi, mohon Bapak menerima niat baik saya ini?”
Pak Parman menangis di depan istri dan anak semata wayangnya. Pergi ke
Mekkah saja tidak pernah ia bayangkan sejak dulu, ini apalagi ia dan
keluarganya akan diberangkatkan naik haji. Ini benar-benar hadiah yang sangat
luar biasa dari Allah swt. Tawaran orang kaya itu pun diterima Pak Parman
dengan setulus hati.
Maka, Pak Parman dan keluarganya pun akhirnya pergi haji. Ya, seorang tukang
becak yang miskin tapi memiliki hati yang sangat mulia akhirnya bisa melihat
keagungan Ka’bah di Mekkah al-Mukarramah dan makam Nabi Muhammad saw di
Madinah. Kebaikannya dibalas oleh Allah. Ia yang menolak satu juta, dua juta,
10 juta, hingga Rp. 25 juta, tapi Allah menggantinya dengan haji ke Baitullah,
bersama istri dan anaknya! Jadi, berapa kali lipatkah keberkahan yang
didapatkan Pak Parman karena sedekah yang ia lakukan setiap hari Jum’at?! Subhanallah!
Bahkan, tidak saja dihajikan secara gratis, Pak Parman akhirnya dibuatkan
rumah oleh orang kaya tersebut. Maka, semakin berkahlah hidup si tukang becak
berhati mulia itu. Dan sejak itu, Pak Parman pun bisa tinggal di sebuah tempat yang
nyaman dan tidak memikirkan lagi uang untuk kost di bulan berikutnya.
Demikian kisah tukang becak yang bisa naik haji karena sedekah yang
dilakukannya. Apakah kita sudah seperti Pak Parman? Dia yang miskin masih
memikirkan untuk berbagi untuk orang lain, apalagi kita yang mungkin lebih
mampu dibandingkan dia. Mudah-mudahan kita bisa mengikuti jejaknya, terutama
dalam hal ketulusannya dalam berbagi! Amin.
sumber : disini
Label:
bantu mushola,
contoh proposal masjid,
Dahsyatnya Sedekah,
IMSA,
Jangan Beri Allah Sisa Hartamu,
Membeli Kebahagiaan. sedekah super story,
online zakat,
panitia bangun mushola,
zakat online
Selasa, 12 Juni 2012
SEDEKAH BERBUAH PELAMINAN
“Dan perumpamaan orang-orang yang
membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa
mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh
hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan
lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha
Melihat apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah: 256)
Poros sedekah memang tak lain adalah niat yang baik. Sumber kebaikan adalah
Allah maka sewajarnyalah kita mengharapkan kebaikan dari-Nya. Caranya tak lain
dengan berdekat-dekat dengannya dan berusaha menjalankan apa yang Dia
perintahkan dan meninggalkan apa yang Dia larang.
Kisah ini dialami seorang guru madrasah di kota Bekasi. Namanya adalah
Ustadz Ahmad. Laki-laki ini sehari-hari mengabdi di madrasah mengajar
murid-murid Tsanawiyah pelajaran agama. Jarak antara rumahnya dengan tempat ia
mengajar cukup jauh. Tapi terdorong rasa pengabdian ia hampir tak pernah absen
mengajar. Keuntungannya, ia bisa menumpang mobil guru lain yang juga mengajar
di madrasah yang sama.
Pekerjaan Ahmad tak mendatangkan income
yang besar. Malah kalau dihitung rata-rata kebutuhan hidup orang Jakarta
penghasilannya cukup minim. Ia harus pandai-pandai mengatur keuangannya. Tapi
semua ia hadapi dengan rasa syukur. “Rezeki mah
ada yang ngatur,”
begitu katanya suatu waktu.
Yang menjadi beban pikirannya adalah pasangan hidup. Wajar saja, usianya
saat ini sudah menginjak angka 33, usia yang sangat layak untuk beristri.
Masalah rezeki menurutnya tak terlalu sulit. Dapat dikit maka yang dibelanjakan
sedikit, kalau kebetulan dapat agak banyak barulah dia bisa membeli kebutuhan
hidupnya yang lain seperti baju dan sepatu. Tapi kalau masalah jodoh, singguh
menjadi satu misteri bagi dirinya.
Masalah ini cukup menjadi beban pikirannya. Ia sadar Allah memang mengatur
jodoh tiap-tiap hamba-Nya. Tapi ia juga sadar, sebagai makhluk ia harus
berikhtiar karena itulah tuntunan yang diberikan agama. Maka Ahmad cukup gencar
mencari-cari siapa kira-kira yang bisa ia jadikan istri untuk mendampingi
hidupnya.
Salah satu bagian dari ikhtiarnya adalah bersedekah. Ahmad selalu rutin
bersedekah ke masjid setiap shalat Jum’at. Jumlah memang tak terlalu besar,
5-10 ribu rupiah. Kalau kebetulan ia dapat gaji, ia akan meningkatkan
sedekahnya itu menjadi 20 ribu rupiah. Demikianlah memang kemampuan sedekah
yang dimiliki Ahmad mengingat penghasilan yang tak seberapa, hanya beberapa
ratus ribu saja perbulan. Tapi ia selalu konsisten melakukan itu. Terselip doa
agar sedekah itu bisa mendatangkan kebaikan baginya. Tak hanya masalah jodoh
tapi juga masalah yang lainnya.
Demikianlah. Hal itu berjalan dalam beberapa bulan. Terselip keyakinan di
hatinya bahwa doanya pastilah didengar Allah pada waktu dan keadaan yang tepat.
Di luar itu ia memperbanyak ibadah. Itu semua membuat hatinya tenang dalam
menjalani hari-harinya.
Tiga Wanita
Dalam waktu yang berjalan, Ahmad berkenalan dengan seorang wanita. Wanita
ini ternyata seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi di daerah Jakarta Timur.
Pertemuannya waktu halal bi halal idul fitri di kampungnya. Wanita tersebut
ternyata masih tetangga dengannya. Ahmad tak mengenalinya karena memang
sebagian besar waktunya tidak ia habiskan di rumah melainkan mengajar dan
sebelumnya menuntut ilmu di pesantren.
Acara halal bi halal itu adalah mengunjungi rumah para ustadz dan sesepuh
desa. Yang mengikutinya adalah kalangan anak-anak muda. Ahmad ditunjuk untuk
menjadi salah satu koordinator karena ia relatif paling senior dibanding
lainnya. Saat itulah ia berkenalan dengan wanita muslimah tersebut.
Sadar bahwa wanita yang ia dekati masih kuliah, Ahmad tak terlalu menaruh
harap. Tapi ia menjalin hubungan baik. Di luar itu, ia juga menjalin komunikasi
dengan 2 orang wanita lainnya. Wanita-wanita ini rata-rata menerimanya dengan
baik, karena Ahmad memang laki-laki yang baik, santun dan tahu etika bergaul
dengan lawan jenis.
Tak ingin lama-lama terjebak dengan hubungan yang tak menentu, Ahmad mulai
ancang-ancang untuk menawari ketiga wanita itu posisi sebagai istrinya. Untuk
menguatkan hatinya ia semakin memperbanyak ibadah dan tetap rutin bersedekah.
Untuk bersedekah ia kali ini menemui salah seorang ustadznya yang menjadi
pengurus sebuah masjid di dekat daerahnya. Ia membicarakan maksud hatinya
kepada sang ustadz. Kali ini ia ingin bersedekah lebih besar dari biasanya
yakni Rp. 50 ribu. Sang ustadz mengabarkan, kebiasaan di masjidnya, kalau ada
orang bersedekah minimal 50 ribu ke atas maka akan diumumkan kepada jamaah dan
didoakan. Macam-macam hajat orang bersedekah itu akan disebut dan dimintakan
kepada Allah agar niat yang bersangkutan terkabul.
“Jujur saya ingin mendapat jodoh ustadz,” ujar Ahmad.
“O ya tidak apa-apa bagus sekali itu,” ujar ustadznya.
Maka Ahmad pun menyerahkan uang 50 ribu itu. Tapi ia berpesan agar namanya
tak usah disebut. Demikianlah. Ahmad menunaikan sedekahnya. Ia tak tahu apakah sedekahnya
betul-betul diumumkan atau tidak. Ia juga tak tahu apakah niatnya itu masuk
dalam daftar doa yang dibacakan panitia masjid kepada jamaah. Tapi hatinya
sudah ikhlas bersedekah seraya memanjatkan doa kepada-Nya.
Selang beberapa waktu, Ahmad pun menunaikan maksudnya untuk menanyakan
langsung kepada tiga orang wanita yang berteman baik dengannya tawaran untuk
menjadi istrinya. Ia sadar ia memang bukan laki-laki berkecukupan. Yang ada
dihatinya adalah niat ibadah kepada-Nya, menyempurnakan separuh agamanya. Ia
berniat tak ada hal yang akan ia tutup-tutupi perihal dirinya, pekerjaannya,
juga penghasilannya kepada para wanita itu.
Wanita pertama yang ia datangi menerima baik maksud Ahmad. Tapi ia
mengajukan syarat untuk tidak menikah dalam tahun 2010 ini. Ia masih punya
tanggungan membiayai adiknya yang kuliah. Ahmad pun mafhum. Perempuan ini tak
bisa memenuhi niatnya.
Wanita kedua juga demikian. Ia menerima dengan baik tapi merasa belum punya
kesiapan. Ia tak bisa jika harus menikah di tahun ini juga. Ahmad pun kembali
mafhum dan memaklumi penjelasan itu.
Wanita ketiga adalah wanita tetangganya yang pertama kali ia kenal di acara
halal bi halal idul fitri tahun 2009 lalu. Wanita ini juga menerima dengan baik
tapi juga merasa siap kalau ia sudah menyelesaikan studinya. Saat kabar itu
didengar oleh orang tua si wanita, ternyata responnya juga baik. Masalah kuliah
dinilai tak akan menjadi penghalang karena si wanita tetap bisa melanjutkan
kuliahnya walaupun statusnya menikah.
Demikianlah. Dengan dukungan orangtuanya, si wanita menjadi berpikiran lain. Apalagi Ahmad yang ia lihat memang adalah laki-laki baik, mengerti agama dan memiliki kemampuan untuk menjadi imamnya. Jadi sayang juga kalau dilewatkan. Akhrinya ia menyanggupi tawaran itu, bersedia dilamar dan melangsungkan pernikahan tahun ini juga.
Ahmad sangat bersyukur dengan hal itu. Tak henti ia mengucapkan tahmid.
Apalagi, ia tak dibebankan biaya sedikitpun untuk menyelenggarakan
pernikahannya. Semuanya ditanggung oleh keluarga besarnya. Tentu ini adalah
berkah yang tak terkira, karena ia tak perlu susah-susah mencari uang seperti
beberapa orang teman sebayanya yang harus menyiapkan uang sendiri untuk
membiayai pernikahan mereka. Dengan berbaju pengatin warna hijau, Ahmad duduk
di pelaminan bersama istrinya.
Keyakinan Ahmad pun terbukti. Niat yang baik, ikhtiar yang baik, serta
sedekah yang baik, pastilah berbuah sesuatu kebaikan pula. Kini ia mendapat
bukti sendiri bagaimana sedekah memang merupakan sebuah pohon subur yang
berbuah lebat. Setelah menikah ia semakin merutinkan dirinya untuk senantiasa
bersedekah. Sebaik, dan semampu yang ia bisa. [ ]
sumber : disini
Label:
Dahsyatnya Sedekah,
IMSA,
keajaiban sedekah,
online zakat,
panitia bangun mushola,
proposal masjid,
proposal pembangunan masjid,
sedekah berbuah pelaminan,
zakat online
Selasa, 22 Mei 2012
Tangan-tangan Tidak Terlihat
Greeting
from Melbourne! Sekarang saya sedang ada di Melbourne dan pengen sharing gimana
ceritanya saya bisa sampai di sini. Selain karena “the power of mind setting”,
saya bisa sampai disini karena “tangan-tangan tidak terlihat”.
.
Sebenernya
saya juga ga tau kenapa memilih Melbourne sebagai kota yang dituju, walaupun
yang tinggal di sini kebanyakan bilang kota ini hidupnya cuma sampe jam 5 sore.
Dan ternyata emang bener! Tadi sore saya baru aja ke Melbourne Central dan
sekitar jam 5an mereka sudah siap-siap mau tutup toko.
.
Jadi
begini ceritanya, di kampus saya memang mengharuskan setiap muridnya untuk
melakukan internship atau magang. Seperti kebanyakan orang, beberapa bulan
kemaren saya mencoba apply ke beberapa perusahaan yang ada di Melbourne.
Seperti jalanan yang tidak selalu mulus, begitu juga nasib aplikasi lamaran
pekerjaan saya. Ada yang nolak lah, ada yang ga bales lah, dll.
.
Sampai
akhirnya ada satu perusahaan yang membalas email saya. Awalnya mereka minta
sample kerjaan yang pernah saya buat. Pertamanya agak ga pede gitu buat ngasih,
tapi setelah dapet dorongan yang gede banget dari orang-orang terdekat, saya
pun memberanikan diri untuk ngasih ke mereka, dan ternyata mereka suka!
Senengnya ga kebeli lho, dan dari situ saya belajar banyak dari orang bule yang
menghargai hasil karya orang.
.
Setelah
saya kirim hasil kerjaan, mereka jadi ngegantung ga jelas gitu. Saya sempet
cerita ke kakak, dan dia bilang, “keep positive thinking aja. Berusaha dan
berdoa maksimal, hasil akhirnya nanti biar Allah yang atur.” Saya pun juga
sudah mengilhami dalam-dalam kata-kata ini. Saya percaya bahwa semua memang
sudah ada yang mengatur, yang penting kita berusaha dan berdoa maksimal.
.
Kalo
kata Muhammad Assad di blog Notes From Qatar waktu dia ingin mengejar
cita-cita, “Kalo emang dibolehin kesana, pasti Allah akan mempermudah segala
sesuatunya. Kalo ga dibolehin, coba berdoa lagi ke Allah minta dipikirin lagi
karena saya pengen banget kesana.” Agak konyol sih, tapi ya bener juga.
.
Di
masa-masa menunggu, saya coba memastikan lagi dengan nanya ke mereka, “Could
you be specifically explain me what to do next? So I can meet your expectation.
Thank you and look forward to receiving your reply.” Langsung saya pencet SENT!
.
Ditunggu-tunggu
mereka balesnya agak lama juga hampir sekitar seminggu. Gila seminggu itu gw
deg-degan mampus. Tiap kali buka email takut. Galau. Ah masa-masa itu..
.
Ga
disangka, waktu dia bales, dia nanya-nanya detail gitu saya mau tinggal dimana
nanti di Melbourne, bisa kerjanya mulai bulan apa, dst. Yak, makin digantung
aja saya, soalnya dia ngasih statement yang bilang, “Yes we accept you to work
in our company.” Dapet balesan gitu saya jadi rancu, takut disangka kepedean.
.
Saya
pun lalu memberanikan diri untuk bertanya, “I just would like to confirm, are
you accepting me to work as intern?” dan mereka menjawab, “Yes we are accepting
you to do internship here.” Kira-kira seperti ini jawaban mereka.
.
25 March 2011
Dear Jessica,
Liqouid would be pleased to offer you an internship at our design
studio in Melbourne during the month of May and June.
Yours sincerely,
Sue Palmer
Director
.
.
Inilah
ruang kerja saya selama internship di Melbourne.
.
Kalau saya ingat-ingat lagi, banyak cara
yang saya lakukan buat sampe ke Melbourne. Believe it or not, ini bukan
cara-cara yang ribet tapi sangat simple, yaitu mind setting. Menurut
saya ini keren banget, karena setelah ngeliat hasilnya saya bener-bener
kaget dan ga percaya! I call this, “The power of mind setting”.
.
Pertama-tama dengan menempel notes kecil
di depan meja belajar dengan tulisan “Internship in Australia”. Hal ini
untuk memotivasi karena lebih mudah untuk divisiualisasikan. Kedua, sama
seperti yang Kak Assad selalu bilang, SEDEKAH. Iseng-iseng saya coba
praktekkin.
.
Jadi waktu menunggu jawaban dari
perusahaan tempat magang itu, saya pergi ke supermarket, dan ngeliat ada
orang jualan tissue gitu di pinggir jalan. Di dompet saya waktu itu
cuma ada sekitar S$25 karena ya emang ga rencana mau belanja banyak.
Akhirnya saya pake duit untuk belanja S$10 aja dan sisanya saya
sedekahin untuk orang yang jualan tissue tadi itu, yang buka lapak di
deket MRT (Mass Rapid Transportation).
.
Harga tissuenya sih cuma S$1, tapi saya
kasih dia S$15. Sebenernya sih ga seberapa ya cuma S$15 dolar. Cuma
karena waktu itu kondisinya duit saya emang tinggal segitunya dan saya
bener-bener tulus ngasihnya. Ditambah lagi orang itu sangat terlihat
bahagia waktu dapet duit itu. Dia bilang, “Thank you so much, God bless
you.” Ahhh.. I suddenly feel so blessed!
.
Setelah ngeliat hasilnya yang sangat luar
biasa, saya jadi teringat kata-kata nyokap dan Kak Assad yang selalu
nanemin setiap orang untuk bersedekah. Nyokap pernah bilang, “Itulah
alasan kenapa orang harus terus berbuat baik. Dengan berbuat baik, maka
akan semakin banyak tangan-tangan tidak terlihat yang menolong kita
kapanpun dan dimanapun, atau ada aja rezeki yang datang ke kita.”
.
Mungkin bisa dibilang seperti hukum tabur
tuai. Contoh misalkan kita nanam jambu, ya pasti tumbuhnya juga jambu
kan? Ga mungkin tumbuhnya jadi apel atau manga. Sama saja saat kita
menanam kebaikan atau kejahatan, hasilnya akan sama persis dengan apa
yang kita tanam. Jadi jangan merasa pernah rugi saat menolong orang lain
atau berbuat kebaikan, karena yang akan memetik hasilnya itu kita
sendiri.
.
Tenang aja, semua kebaikan kita sudah
pasti akan dicatat dan pasti akan dibayar lunas sama Tuhan, dan mungkin
saja plus bonus. Akhirnya saya merasa sangat bersyukur bisa mendapat
kesempatan magang di Melbourne. Pengalaman dan gaji yang saya terima
jauh banget kalo dibandingkan dengan sedekah saya yang ‘cuma’ S$15.
Balasan dari sedekah memang sangat luar biasa!
.
Ini beberapa foto sebelum balik ke
Indonesia. Foto pertama di tempat duduk besar bernama The Giant’s Chair.
Gede banget emang kursinya.
.
Foto kedua waktu bareng 2 bos saya,
mereka ngajak ke salah satu tempat terkenal gitu di Melbourne bernama
Great Ocean Road. Kok malah kaya foto Ayah, Ibu dan anak ya? Hehehe…
.
Lastly thanks for sharing many stories
about sedekah, Kak. Even though I am not a muslim, but I prove it so
many times about the power of sedekah and it works!
Selasa, 15 Mei 2012
Sedekah Mobil Semua Lancar (Pengalaman Anwar Sani)
Tahun 2004 itu saya beringinan
memiliki sebuah mobil. Lalu saya pun membayar uang muka, yang hasil dari utang.
Dan cicilan mobil, saya minta paling lama. Agar cicilan terbayar, mobil pun
saya sewakan. Tapi, cicilan mobil tidak selalu mulus, saya tertatih membayarnya
karena penyewa sering telat membayar. Belum lagi, mobil saya pernah hilang
selama dua bulan oleh penyewa. Saya dibuat pusing karena cukup berat
mencicilnya. Tidak tahan dengan masalah cicilan, saya sampaikan hal ini kepada
ustadz Mansyur. Hasil diskusi, ustadz Masyur bilang, cara saya mencicil itu
cara lama. Kalau mau lancar, mobil harus disedekahkan. Ucapannya tentu bikin
saya terkejut. Bagaimana mungkin mobil yang saya cicil dengan susah payah itu
disedekahkan? Yang benar saja. Tapi katanya lagi, Allah yang akan membayar.
Saya tambah terkejut. Saya tahu konsep sedekah, tapi kan tidak
begini-begini amat deh.
Tapi akhirnya mobil saya sedekahkan
jua, ke sebuah pesantren. Itulah sedekah terbesar saya yang pernah saya
lakukan. Tapi semenjak itu rezeki saya berkecukupan. Cicilan selalu teratasi
dan ada saja jalannya. Yang tidak saya sangka, ada orang Freeport melihat
keberhasilan manajemen AAPU (Al Azhar Peduli Ummat , red), lalu meminta saya pindah ke sana untuk mengelola
lembaga zakat Freeport. Saya ditawari gaji tinggi plus fasilitas memadai. Tapi
pengurus AAPU menahan saya dan gaji saya dinaikan 80 persen. Cicilan mobil
makin lancer, bahkan saya mendapat mobil dari AAPU.
sumber : internet
Label:
bantu mushola,
contoh proposal masjid,
Dahsyatnya Sedekah,
mushola,
panitia bangun mushola,
proposal masjid,
proposal pembangunan masjid,
Real Story,
yusuf mansyur
Senin, 07 Mei 2012
Banyak Jalan Datangnya Rezeki
Rezeki
berupa uang itu datang dari arah yang tidak terduga-duga. Tidak semuanya bisa
pakai nalar dan logika untuk mengetahui dari mana dia datang. Sahabat saya
suatu saat bertanya kepada saya, “Mas Jamil, bagaimana agar saya tidak sibuk
mengejar-ngejar uang tetapi justru saya dikejar-kejar uang?” Ketika itu saya
menjawab, “Tempuhlah dengan dua jalan sekaligus, jalan profesional dan jalan
spiritual.”
Jalan
profesional adalah ketika kita menetapkan keahlian dan terus mengasahnya
sehingga menjadi ahli di bidang itu. Sementara jalur spiritual lakukanlah
aktivitas yang diperintahkan oleh Sang Maha Pemberi Rezeki. Apa itu?
Membahagiakan orang tua, sedekah, sholat dhuha, sholat tahajud dan lain-lain.
Sahabat
saya ini ingin bisnisnya membesar namun tidak menggunakan dana pinjaman. Dia
kumpulkan rupiah demi rupiah untuk menambah modalnya. Tetapi, setelah modal
terkumpul anaknya jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Saat saya
membesuk di rumah sakit dia mengeluh, “Mas, saya sudah mempraktikkan saran mas
Jamil kok malah hasilnya anak saya sakit, modal yang sudah saya kumpulkan
hampir habis untuk membiayai anak saya.”
Mendengar
keluhan itu saya terkejut dan hanya berkata, “Sabar, Sang Maha Kaya memiliki
banyak cara untuk memberimu rezeki. Asah terus kemampuan bisnismu dan lakukan
terus aktivitas spiritual yang membuka rezeki datang kepadamu.”
Anaknya
dirawat di rumah sakit selama tiga pekan. Saat di rawat itu, banyak sekali
orang yang membesuknya. Dan ketika sang anak diizinkan pulang dan harus
melakukan pelunasan pembayaran, sahabat saya ini terkejut. Ternyata setelah ia
melunasi semua biaya rumah sakit masih banyak “amplop-amplop” yang diterima
dari yang membesuk yang belum dibuka. Dan begitu semuanya dibuka ternyata
jumlahnya sama persis dengan uang yang dibutuhkan untuk tambahan modal
usahanya.
Saat
itulah sahabat saya kemudian bersujud, “Ya Allah, inilah caramu memberikan aku
modal, ampuni aku pernah berprasangka buruk kepada-Mu.” Saat saya berjumpa
dengannya dia langsung memeluk dan berkata, “Memang Allah memiliki banyak cara
untuk memberi rezeki kepada kita, salah satunya melalui sakitnya anak
saya.” Wallahu’alam…
Sumber : disini
---------------------------------------------------------------------
Dukungan dan Partisipasi Pembangunan Mushola Da'watul Islamiah
bisa dikirim melalui Bank Syariah Mandiri No. Rek. 7033118591 an. Iin Saein Bdn Mushola DI atau hubungi No Hp Ketua Panitia 0818-656-326 Bapak Iin Saein / Admin blog ini Gun Gun 0821-2483-5688.
Dukungan dan Partisipasi Pembangunan Mushola Da'watul Islamiah
bisa dikirim melalui Bank Syariah Mandiri No. Rek. 7033118591 an. Iin Saein Bdn Mushola DI atau hubungi No Hp Ketua Panitia 0818-656-326 Bapak Iin Saein / Admin blog ini Gun Gun 0821-2483-5688.
Langganan:
Komentar (Atom)






