Tampilkan postingan dengan label zakat online. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label zakat online. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 September 2012

Batu Ginjal dan Sedekah

Kisah berikut ini disampaikan oleh Ustad Sayyid Juwail. Sebuah keluarga yang terdiri atas bapak dan anak laki-laki tinggal di sebuah rumah sederhana. Ibu anak itu telah rneninggal beberapa tahun yang lalu. Suatu hari, si bapak mengeluhkan sakit yang luar biasa, yang tidak diketahui sebabnya. Karena tak tahan lagi, dia dan anaknya pergi ke dokter untuk mengetahui penyakitnya.
Setelah dokter memeriksanya lewat komputer, ternyata si bapak menderita sakit batu ginjal. Dokter menyarankan agar dilakukan operasi untuk mengeluarkan batu tersebut. Lalu, bapak dan anaknya kembali ke rumah untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum operasi dilakukan.
Keesokan paginya, si anak pegi ke kantor seperti biasa. Hari ini, tepat satu bulan dia bekerja di kantor tersebut. Itu berarti dia akan menerima gaji pertamanya. Tentu saja, dia sangat gembira. Dan yang lebih menggembirakan, dia bisa meringankan biaya operasi bapaknya.
Di tengah perjalanan pulan, si anak melihat seorang kakek tua yang fakir. Bajunya kumal. Wakahnya menampakan kelelahan.
Si anak sangat kasihan melihat keadaan kakek tua itu. Dia sempat bimbang, menolong bapaknya atau bersedekah ? Dia pun memutuskan untuk bersedekah kepada kakek tua itu. Semua gaji pertamanya dia sedekahkan, disertai doa semoga Allah menyembuhkan bapaknya. Si anak tidak bisa membayangkan seandainya bapaknya seperti kakek tua itu. Setelah menyerahkan sedekahnya, cepat-cepat dia pulang. Dia mencemaskan bapaknya yang sedang sakit sendirian di rumah.
Sesampainya di rumah, si anak mengetuk pintu. Ternyata dia disambut bapaknya dengan wajah gembira.
“Alhamdulillah, Anakku. Beberapa saat yang lalu, Bapak merasa sakit sekali. Lalu Bapak pergi ke WC untuk buang air kecil. Tanpa disengaja, batunya keluar. Sekarang, Bapak merasa nyaman, tidak sakit lagi”.
Kontan saja, si anak menangis karena sangat bahagia mendengar cerita bapaknya. Segala puji bagi Allah yang telah mendengar doa hamba-Ny.
 
Sumber : disini

Senin, 06 Agustus 2012

Paling Paling

Oleh : Anwar Sani 

Kalau kata orang Betawi, Carlos Slim Helu paling-paling dah. Bagaimana tidak. Dalam tiga tahun terakhir berturut-turut, pengusaha Meksiko ini selalu jadi orang paling kaya di dunia versi Majalah Forbes (9/3/2012). Tahun ini, harta kekayaannya mencapai $69 miliar. Jurnlah in! setara dengan Rp 627,84 Triliun atau sepertiga jumlah utang luar negeri Indonesia.

Selain itu, Helu juga dinobatkan sebagai orang paling dermawan di dunia. Tahun ini, meski hartanya berkurang $5 miliar daripada tahun lalu akibat turunnya harga saham raksasa telekomunikasi America Movil miliknya, tetap saja Helu menyumbangkan 90% kekayaannya melalui Yayasan Carlos Slim dan Yayasan Telmex.



Li Ka-Shingjuga orang yang paling-paling. Masih menurut Forbes, dia orang Asia pating kaya pada tahun 2012. Bahkan pengusaha Hongkong ini terrnasuk dalam jajaran 10 orang paling kaya di dunia dengan total kekayaan US$ 25,5 miliar dan memiliki 270.000 orang tenaga kerja yang tersebar di 53 negara.

Dia pun orang paling dermawan di Asia. Melalui Li Ka-Shing Foundation, CEO Cheung Kong Holdings Limited dan Hutchison Whampoa Limited ini menyumbangkan lebih dari US$ 1,6 miliar untuk mengembangkan pendidikan dan penelitian medis.

Joe Vitale, penulis spiritual marketing, menyimpulan bahwa semakin kita rela dan banyak bersedekah, semakin banyak pula yang kita dapatkan. Lihatlah, selalu saja orang-orang paling dermawan di dunia, juga adalah yang paling kaya di dunia.

Majalah Fortune pernah merilis daftar manusia paling tajir di muka burni pada 2007, berturut-turut adalah : Carlos Slim Helu dengan kekayaan 60 Milyar USD,William Henry Gates III alias Bill Gates dengan : 58 milyar USD, dan Warren Buffet dengan 42 Milyar . Ternyata, di tahun yang sama mereka bertiga pula manusia yang paling banyak berderma.



Itu bukan kebetulan. Benar, para rnilyuner kelas dunia itu telah bekerja keras untuk mendapatkan rejekinya di dunia.Tapi sebagian dari sukses besar mereka juga merupakan feed back dari derma mereka yang sangat besar. Sebab, Allah adalah Ar-Rahman, yaitu Yang Maha Pengasih terhadap seluruh makhluk (Tafsir Basmalah dalam Kitab Tafsir ibnu Jarir Ath-Thabari).

Sifat Allah SWT itu diakui Joe Vitale. Dla bilang, 'To give in order to get" adalah suatu hukum universal (sunatullah sosial) seperti yang terangkum dalam bukunya The Greatest Money-Making Secret secret in  History!

Kita bersyukur, yang paling dermawan dari berbagai umat beragarna di dunia, tetaplah kaum muslimin. Hasil survei The CNN Wire, London, pada 20 Juli 2011, menyebutkan, di antara berbagai agama, umat Islam memiliki persentasi kedermawanan tertinggi yakni 61 persen. Sedangkan Kristiani 24 persen, Budha 20 persen, dan Hindu 33 persen.

Lebih bersyukur lagi, di antara Negeri Muslim, Indonesia meraih kedermawanan dengan motivasi agama tertinggi. Sebanyak 91 persen Muslim Indonesia paling dermawan dibanding Arab Saudi 71 persen dan Turki yang hanya 33 persen.

Hasil itu tidak mengherankan, karena penelitian sebelumnya sudah menyatakan bahwa Bangsa Indonesia yang mayoritas (88,2%) Muslim adaiah bangsa paling gemar bersedekah dalam bentuk senyum. Sebagaimana wasiat Nabi Muhammad SAW: "Senyummu kepada saudaramu adaiah sedekah" (HR Imam Tirmidzi).

Berdasarkan hasil survei The Smiling Report 2009 yang dilansir AB Better Business yang berbasis di Swedia, Indonesia adaiah negara paling murah senyum di dunia dengan skor 98%.

Tapi, senyuman saja tidak mengenyangkan tetangga yang kelaparan. Padahal, pesan Nabi SAW, laisal mu'minu billadzii yasyba'u wajaaruhu ja'al 'uniloa dzanbihii. "Bukanlah berlman orang yang kenyang perutnya, sedangkan tetangganya kelaparan hingga tampak tulang rusuknya" (HR Bukhari dari Ibnu Abbas ra).

Karena itu, kita wabil khusus para pengusaha Muslim, harus iri pada prestasi kedermawanan orang-orang seperti Carlos Helu dan Ka-Shing. Kata Rasulullah, "Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu orang yang Allah berikan harta lalu ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu lalu ia mengajarkannya kepada orang lain" (HR Muslim dari Ibnu Mas'ud ra).

Maka marilah kita panjatkan Al Fatihah untuk para pengusaha dermawan Indonesia seperti Sandiaga Salahuddin Uno (Saratoga Capital), A Pramono (Ayam Bakar Mas Mono), Jody Broto Suseno (Waroeng Steak), Supriyanto (Sanaya Cake&Bakery), dan lain-lain. Semoga kelak mereka termasuk dalam jajaran orang yang paling-paling dah.

Sumber : DAQU Edisi 002 - tahun V - Mei 2012/Jumadil Akhir 1433 H 

Minggu, 24 Juni 2012

Sedekahnya Tukang Tambal Ban

Seorang Tukang tambal ban. Lima tahun yang lalun seringkali terkena obrakan, sebab lapaknnya atau tempatnya berada di tepi jalan. Suatu ketika, di pagi hari, ada seorang temannya yang mampir ke tempatnya.

Ketika mereka asyik berbicara, tiba-tiba seorang pengemis berdiri meminta. Si Tukang tambal ban merasa terganggu dengan kehadiran pengemis tersebut. Dia menolaknya, dan pengemis itupun berlalu. Demikian berturut-turut hingga ada beberapa pengemis yang selalu ditolaknya.

Kawannya bertanya. “Disini banyak pengemis yang datang ya?.”

“Wah, kalau dituruti, sehari bisa puluhan orang. Saya selalu menolak mereka. Buat apa mengajari orang malas.” Kata si Tukang tambal itu.

Kawannya diam sejenak. Lalu berbicara, “Kalau boleh menyatakan, sebaiknya jika ada pengemis jangan ditolak. Meskipun seratus perak. berikanlah kepadanya!.”

Si tukang tambal ban tersenyum kecut dan menanggapi dengan sikap dingin. “Pengemis sekarang bukanlah orang yang benar-benar miskin. Di daerahnya, mereka meiliki rumah besar, ternak banyak dan sawah luas. Mengemis dibuat sebagai mata pencaharian. Jika menuruti pengemis, bisa bangkrut aku. Sedangkan sejak pagi tak satupun kendaraan yang berhenti untuk mengisi angin ataupun minta ditambal.”

Temannya berusaha menasehati dengan bijak,”Berpikir begitu boleh-boleh saja. Tetapi saya tetap yakin bersedekah itu lebih bermanfaat dan menguntungkan diri sendiri. Aku menggemarkan diri bersedekah sudah beberapa tahun lalu.”

“Kamu berbicara begitu karena memang sudah pantas melakukan sedekah, sebab penghasilanmu besar, punya mobil dan rumah bagus. Sedangkan diriku!? hanyalah seorang tukang tambal ban.tidak lebih dan tidak kurang!”

“Aku dulu juga seperti dirimu…… Kau tahu kan? Kehidupanku compang camping. Sekarang makan, besok harus hutang ke tetangga. Tetapi aku tidak pernah berhenti bersedekah. Maaf, ini bukan pamer ataupun membanggakan diri, tetapi maksudku berbagi pengalaman denganmu. Setiap ke masjid, aku selalu memasukan uang meskipun hanya recehan. Setiap ada pengemis datang selalu kuberi jika memang masih ada uang, tetapi kalau lagi tidak ada …air minum saja juga sudah sangat senang. Itu kulakukan secara istiqomah, Dan sungguh, aku mengalami sebuah kejadian luar biasa. Rejekiki sangat lancar, setiap ada rencana selalu berhasil, setiap transaksi selalu sukses, apa saja yang kulakukan selalu membawa berkah hingga kamu lihat sendiri seperti sekarang ini.” kata temannya itu menambahkan.

Si tukang tambal ban tidak segera menjawab. Dia tampaknya sedang berpikir. Temannya lalu berkata lagi, “Memberi sedekah tidak harus kepada pengemis. kamu bisa mengulurkan tanganmu kepada sanak saudara atau siapa saja.asalkan ikhlas.”

“Benar… dan sedekah yang lebih tinggi harganya ialah ketika dirimu dalam keadaan sempit. Jangan menunggu kaya baru bersedekah. Saat sekarang ini kamu harus memulainya.” begitu temannya dengan sangat bijak dan mengena memberikan saran.

Si tukang tambal ban mulai bisa menangkap makna memberi, dari kata-kata temannya tadi terutama kondisi dulu yang menyatakan kalau dirinya juga berawal dari orang yang tidak punya karena tidak punya pekerjaan tetap. Maka dia pantas dipercaya karena keadaanya memang sudah mapan dibandingkan dengan dirinya.

Keesokan harinya si Tukang tambal ban mulai menyediakan uang recehan. Selama uang recehan masih ada, ia tidak pernah menolak pengemis yang datang. Kecuali jika sudah habis jatahnya baru ia menolaknya, bahkan setiap pergi ke masjid dia tidak pernah melupakan sedekah ke kotak infaq.

Semenjak itu rejekinya lancar. Setiap hari sejak pagi hingga petang sambung menyambung motor yang berhenti minta ditambalkan ataupun sekedar mengisi angin. Bahkan dua keponakannya yang menganggur diajaknya membantu pekerjaan itu.

Sekarang si Tukang tambal ban telah memiliki tabungan. Dari tabungannya dia mampu menyewa tempat dan membangunnya meskipun tidak permanen. Sehingga dia kini bisa bekerja dengan tenang karena tidak harus dikejar-kejar polisi pamong praja.

Seiring waktu, si Tukang tambal ban tidak hanya melayani jasa menambal atau mengisi angin. tetapi berkembang menjadi sebuah usaha ban kanisir. Bahkan dia mempunyai puluhan pelanggan perusahaan jasa angkutan. Kalau dulu dia menerima uang recehan dari pelanggannya. Sekarang dia menerima cek dari perusahaan sebagai pembayaran ban kanisir. Anak buahnya semakin bertambah.

Keadaan hidup si tukang tambal ban telah mapan. Dia bisa membeli rumah dan mobil. Setiap tahun zakat malnya dibagikan di kampung halamannya untuk orang-orang miskin dan yatim piatu. Bahkan dia telah berangkat haji bersama istrinya,

Si Tukang tambal ban berhasil membuka tabir misteri keajaiban sedekah. Sekarang dia benar-benar percaya bahwa sedekah itu sangat memberikan manfaat yang luar biasa seperti saran temannya dulu yang diawalnya dia tanggapi dengan sikap dingin. Subhanalloh…………..

Senin, 18 Juni 2012

Seorang Tukang Becak Yang Dermawan

Bai Fang Li, Tukang Becak yang dermawan, yang menjadi Penyumbang Ratusan Juta untuk Yatim Piatu, tak perlu menggembar-gemborkan sudah berapa banyak kita menyumbang orang karena mungkin belum sepadan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bai Fang Li ini. Kebanyakan dari kita menyumbang kalau sudah kelebihan uang. Jika hidup pas-pasan keinginan menyumbang bahkan nyaris tak ada.




Bai Fang Li berbeda. Ia menjalani hidup sebagai tukang becak. Hidupnya sederhana karena memang hanya tukang becak. Namun semangatnya tinggi. Pergi pagi pulang malam mengayuh becak mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya. Ia tinggal di gubuk sederhana di Tianjin, China.


Ia hampir tak pernah beli makanan karena makanan ia dapatkan dengan cara memulung. Begitupun pakaiannya. Apakah hasil membecaknya tak cukup untuk membeli makanan dan pakaian? Pendapatannya cukup memadai dan sebenarnya bisa membuatnya hidup lebih layak. Namun ia lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an anak tak mampu.
Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun. Saat itu ia tak sengaja melihat seorang anak usia 6 tahunan yang sedang menawarkan jasa untuk membantu ibu-ibu mengangkat belanjaannya di pasar. Usai mengangkat barang belanjaan, ia mendapat upah dari para ibu yang tertolong jasanya.

Namun yang membuat Bai Fang Li heran, si anak memungut makanan di tempat sampah untuk makannya. Padahal ia bisa membeli makanan layak untuk mengisi perutnya. Ketika ia tanya, ternyata si anak tak mau mengganggu uang hasil jerih payahnya itu untuk membeli makan. Ia gunakan uang itu untuk makan kedua adiknya yang berusia 3 dan 4 tahun di gubuk di mana mereka tinggal. Mereka hidup bertiga sebagai pemulung dan orangtuanya entah di mana.

Bai Fang Li yang berkesempatan mengantar anak itu ke tempat tinggalnya tersentuh. Setelah itu ia membawa ketiga anak itu ke yayasan yatim piatu di mana di sana ada ratusan anak yang diasuh. Sejak itu Bai Fang Li mengikuti cara si anak, tak menggunakan uang hasil mengayuh becaknya untuk kehidupan sehari-hari melainkan disumbangkan untuk yayasan yatim piatu tersebut.


Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya. Pada tahun 2001 usianya mencapai 91 tahun. Ia datang ke yayasan itu dengan ringkih. Ia bilang pada pengurus yayasan kalau ia sudah tak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk. Saat itu ia membawa sumbangan terakhir sebanyak 500 yuan atau setara dengan Rp 675.000.

Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya menyumbang ke yayasan tersebut. Tahun 2005, Bai Fang Li meninggal setelah terserang sakit kanker paru-paru.

Melihat semangatnya untuk menyumbang, Bai Fang Li memang orang yang luar biasa. Ia hidup tanpa pamrih dengan menolong anak-anak yang tak beruntung.  Meski hidup dari mengayuh becak (jika diukur jarak mengayuh becaknya sama dengan 18 kali keliling bumi), ia punya kepedulian yang tinggi yang tak terperikan.

Sumber : disini

Rabu, 13 Juni 2012

Berkat Sedekah, Tukang Becak Itu Mengunjungi Baitullah


Pak Parman, demikian orang-orang memanggilnya. Dia hanyalah seorang tukang becak. Sudah bisa ditebak, berapa kekayaannya? Dia hanya punya tempat tinggal, dan itu pun kost di tempat yang kumuh, yang gentengnya sewaktu-waktu bisa bocor karena hujan. Meski begitu, Pak Parman memiliki budi yang sangat mulia. Kemiskinan yang merenggut kehidupannya, tidak menutup mata batinnya untuk selalu berbagi kepada orang lain.

Siapa kira orang miskin tidak bisa naik haji. Karena sedekah, tukang becak yang satu ini justru mendapatkan keberkahan untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Tapi, bukan harta yang bisa ia sumbangkan. Sebab, untuk makan sehari-hari saja sulit, apalagi berniat untuk berbagi harta kepada orang lain. Maka, yang hanya bisa dilakukan Pak Parman adalah “sedekah jasa”. Yaitu, setiap hari Jum’at ia menggratiskan semua penumpang yang naik becaknya. Ini adalah hal yang luar biasa. Tidak semua orang bisa melakukannya, apalagi orang miskin seperti dirinya. Maka, atas kebaikannya itulah, suatu “keberkahan hidup” kemudian menghampirinya.

Suatu ketika, di hari Jum’at pertama bulan Ramadhan, tiba-tiba, ada orang yang kaya raya mobilnya mogok. Kebetulan, mogoknya tidak jauh dari pangkalan becak Pak Parman. Orang kaya itu pun bertanya kepada supirnya, “Pir, kalau naik becak kira-kira ongkosnya berapa ya?”
“Paling juga dua sampai tiga ribuan,” jawab supir kepada majikannya.

Orang kaya tersebut pun memutuskan naik becak karena sebenarnya jarak dirinya dengan rumahnya sudah lumayan dekat. Maka, dipanggillah tukang becak yang ada di pangkalan tersebut dan kebetulan Pak Parman yang datang. Lalu, digoeslah becak itu oleh Pak Parman menuju rumah orang kaya tersebut. Setelah sampai di tempat, Pak Parman dikasih uang 10 ribu dan tidak usah dikembalikan. Namun, oleh Pak Parman uang itu ditolaknya.

“Kenapa Bapak menolaknya?” tanya orang kaya itu..

“Saya sudah meniatkan dari dulu, kalau setiap Jum’at saya menggratiskan semua penumpang yang naik becak saya,” jawabnya jujur.

Setelah itu, Pak Parman pun pergi meninggalkan orang kaya tersebut. Rupanya, kejadian itu sangat membekas di hati orang kaya tersebut. Orang kaya seperti dirinya saja tidak pernah sedekah, ini orang miskin malah melakukannya dengan begitu tulus. Lalu, dikejarlah Pak Parman. Setelah dapat, Pak Parman pun dikasih uang satu juta. Orang kaya itu pikir, Pak Parman akan menerimanya karena uangnya besar. Tapi, Pak Parman tetap menolaknya. Lalu, dinaikkan lagi menjadi dua juta dan tetap Pak Parman menolaknya. Alasan Pak Parman sama: dia tidak menerima uang sepeser pun di hari Jum’at untuk jasa ojek becaknya. Sebab, dia sudah meniatkannya untuk bersedekah. Subhanallah!

Tapi, hal ini justru membuat orang kaya tersebut semakin penasaran. Maka Jum’at berikutnya (di hari Ramadhan juga), orang kaya itu pun naik becak lagi. Ia sengaja meninggalkan supirnya untuk pulang ke rumah sendiri dan dia lebih memilih berhenti di pangkalan itu untuk bisa naik becak Pak Parman. Maka diantarlah orang kaya tersebut ke rumahnya oleh Pak Parman. Setelah sampai, Pak Parman pun diberikan uang yang lebih besar lagi, kali ini 10 juta. Orang kaya itu pikir Pak Parman akan tergoda oleh uang sebanyak itu. Tapi, lagi-lagi, perkiraannya meleset. Pak Parman, sekali lagi, menolak uang yang bagi dia itu sebenarnya sangat besar. Apalagi, sebentar lagi akan Lebaran dan uang itu pasti akan berguna buat dirinya dan keluarganya. Tapi, orangtua itu menolaknya dengan halus.

Kejadian ini benar-benar membuat orang kaya tersebut tidak mengerti. Kenapa orang miskin seperti Pak Parman tidak mau menerima uang sebesar itu? Padahal, uang itu bisa ia gunakan selama berbulan-bulan. Namun, rasa penasaran orang kaya itu rupanya tidak pernah berhenti. Jum’at berikutnya, dia pun naik becak milik Pak Parman lagi. Namun, kali ini ia minta diantarkan ke tempat yang lain.

“Pak, antarkan saya ke rumah Bapak,” pinta orang kaya.

“Memangnya, ada apa, Pak?” jawab Pak Parman polos.

“Pokoknya, antarkan saya saja.”

Akhirnya, Pak Parman terpaksa mengantarkan orang kaya itu ke rumahnya. Mungkin orang kaya itu hanya ingin menguji: apakah tukang becak itu benar-benar orang miskin ataukah tidak? Mereka pun akhirnya sampai di rumah Pak Parman. Betapa terkejutnya orang kaya itu, karena rumah yang dimaksud hanyalah sebuah rumah kost yang sangat jelek. Gentengnya sewaktu-waktu bisa roboh karena terpaan air hujan. Karena sangat iba melihat kejadian itu, orang itu pun merogoh uangnya sejumlah Rp. 25 juta.

“Ini Pak, uang sekedarnya dari saya. Mohon Bapak menerimanya,” pinta orang kaya kepada Pak Parman.
Apa reaksi Pak Parman? Ternyata, dengan halus dia pun tetap menolaknya. Hal ini benar-benar sangat mengejutkan orang kaya itu. Bagaimana bisa orang semiskin dia menolak uang pemberian sebesar Rp. 25 juta? Kalau bukan dia adalah lelaki yang luar biasa, yang memiliki budi yang sangat luhur.

Akhirnya orang kaya itu pun menyerah. Dia benar-benar kalah dengan ketulusan hati Pak Parman. Ia percaya bahwa apa yang dilakukan Pak Parman benar-benar tulus dari hatinya. Ia benar-benar tidak tergoda oleh indahnya dunia dan kilaunya uang jutaan rupiah. Mungkin ia satu pribadi yang langka dari 1000 orang yang ada, yang sewaktu-waktu hanya muncul di dunia. Luar biasa!

Tapi, orang kaya itu berjanji bahwa suatu saat ia akan memberikan yang terbaik buat tukang becak yang berhati mulia tersebut. Sebab, mungkin, baru kali ini hatinya terusik lalu disadarkan oleh orang miskin yang hanya seorang tukang becak. Dan waktu pun terus berlalu.

Lebaran telah tiba. Pak Parman dan orang kaya itu tidak bertemu lagi. Menjelang Lebaran Haji (Idul Adha), orang kaya itu kembali menemui Pak Parman di rumah kostnya. Kembali ia pun datang di hari Jum’at. Mudah-mudahan kali ini niatnya tidak sia-sia. Setelah mereka bertemu, di depan Pak Parman orang kaya kemudian bicara terus terang, “Pak, mohon kali ini niat baik saya diterima. Bapak dan istri serta anak Bapak akan saya berangkatkan haji ke Tanah Suci. Sekali lagi, mohon Bapak menerima niat baik saya ini?”

Pak Parman menangis di depan istri dan anak semata wayangnya. Pergi ke Mekkah saja tidak pernah ia bayangkan sejak dulu, ini apalagi ia dan keluarganya akan diberangkatkan naik haji. Ini benar-benar hadiah yang sangat luar biasa dari Allah swt. Tawaran orang kaya itu pun diterima Pak Parman dengan setulus hati.
Maka, Pak Parman dan keluarganya pun akhirnya pergi haji. Ya, seorang tukang becak yang miskin tapi memiliki hati yang sangat mulia akhirnya bisa melihat keagungan Ka’bah di Mekkah al-Mukarramah dan makam Nabi Muhammad saw di Madinah. Kebaikannya dibalas oleh Allah. Ia yang menolak satu juta, dua juta, 10 juta, hingga Rp. 25 juta, tapi Allah menggantinya dengan haji ke Baitullah, bersama istri dan anaknya! Jadi, berapa kali lipatkah keberkahan yang didapatkan Pak Parman karena sedekah yang ia lakukan setiap hari Jum’at?! Subhanallah!

Bahkan, tidak saja dihajikan secara gratis, Pak Parman akhirnya dibuatkan rumah oleh orang kaya tersebut. Maka, semakin berkahlah hidup si tukang becak berhati mulia itu. Dan sejak itu, Pak Parman pun bisa tinggal di sebuah tempat yang nyaman dan tidak memikirkan lagi uang untuk kost di bulan berikutnya.

Demikian kisah tukang becak yang bisa naik haji karena sedekah yang dilakukannya. Apakah kita sudah seperti Pak Parman? Dia yang miskin masih memikirkan untuk berbagi untuk orang lain, apalagi kita yang mungkin lebih mampu dibandingkan dia. Mudah-mudahan kita bisa mengikuti jejaknya, terutama dalam hal ketulusannya dalam berbagi! Amin.

sumber : disini

Selasa, 12 Juni 2012

SEDEKAH BERBUAH PELAMINAN

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah: 256)


Poros sedekah memang tak lain adalah niat yang baik. Sumber kebaikan adalah Allah maka sewajarnyalah kita mengharapkan kebaikan dari-Nya. Caranya tak lain dengan berdekat-dekat dengannya dan berusaha menjalankan apa yang Dia perintahkan dan meninggalkan apa yang Dia larang.

Kisah ini dialami seorang guru madrasah di kota Bekasi. Namanya adalah Ustadz Ahmad. Laki-laki ini sehari-hari mengabdi di madrasah mengajar murid-murid Tsanawiyah pelajaran agama. Jarak antara rumahnya dengan tempat ia mengajar cukup jauh. Tapi terdorong rasa pengabdian ia hampir tak pernah absen mengajar. Keuntungannya, ia bisa menumpang mobil guru lain yang juga mengajar di madrasah yang sama.

Pekerjaan Ahmad tak mendatangkan income yang besar. Malah kalau dihitung rata-rata kebutuhan hidup orang Jakarta penghasilannya cukup minim. Ia harus pandai-pandai mengatur keuangannya. Tapi semua ia hadapi dengan rasa syukur. “Rezeki mah ada yang ngatur,” begitu katanya suatu waktu.    

Yang menjadi beban pikirannya adalah pasangan hidup. Wajar saja, usianya saat ini sudah menginjak angka 33, usia yang sangat layak untuk beristri. Masalah rezeki menurutnya tak terlalu sulit. Dapat dikit maka yang dibelanjakan sedikit, kalau kebetulan dapat agak banyak barulah dia bisa membeli kebutuhan hidupnya yang lain seperti baju dan sepatu. Tapi kalau masalah jodoh, singguh menjadi satu misteri bagi dirinya.

Masalah ini cukup menjadi beban pikirannya. Ia sadar Allah memang mengatur jodoh tiap-tiap hamba-Nya. Tapi ia juga sadar, sebagai makhluk ia harus berikhtiar karena itulah tuntunan yang diberikan agama. Maka Ahmad cukup gencar mencari-cari siapa kira-kira yang bisa ia jadikan istri untuk mendampingi hidupnya.
Salah satu bagian dari ikhtiarnya adalah bersedekah. Ahmad selalu rutin bersedekah ke masjid setiap shalat Jum’at. Jumlah memang tak terlalu besar, 5-10 ribu rupiah. Kalau kebetulan ia dapat gaji, ia akan meningkatkan sedekahnya itu menjadi 20 ribu rupiah. Demikianlah memang kemampuan sedekah yang dimiliki Ahmad mengingat penghasilan yang tak seberapa, hanya beberapa ratus ribu saja perbulan. Tapi ia selalu konsisten melakukan itu. Terselip doa agar sedekah itu bisa mendatangkan kebaikan baginya. Tak hanya masalah jodoh tapi juga masalah yang lainnya.


Demikianlah. Hal itu berjalan dalam beberapa bulan. Terselip keyakinan di hatinya bahwa doanya pastilah didengar Allah pada waktu dan keadaan yang tepat. Di luar itu ia memperbanyak ibadah. Itu semua membuat hatinya tenang dalam menjalani hari-harinya.

Tiga Wanita
Dalam waktu yang berjalan, Ahmad berkenalan dengan seorang wanita. Wanita ini ternyata seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi di daerah Jakarta Timur. Pertemuannya waktu halal bi halal idul fitri di kampungnya. Wanita tersebut ternyata masih tetangga dengannya. Ahmad tak mengenalinya karena memang sebagian besar waktunya tidak ia habiskan di rumah melainkan mengajar dan sebelumnya menuntut ilmu di pesantren.

Acara halal bi halal itu adalah mengunjungi rumah para ustadz dan sesepuh desa. Yang mengikutinya adalah kalangan anak-anak muda. Ahmad ditunjuk untuk menjadi salah satu koordinator karena ia relatif paling senior dibanding lainnya. Saat itulah ia berkenalan dengan wanita muslimah tersebut.

Sadar bahwa wanita yang ia dekati masih kuliah, Ahmad tak terlalu menaruh harap. Tapi ia menjalin hubungan baik. Di luar itu, ia juga menjalin komunikasi dengan 2 orang wanita lainnya. Wanita-wanita ini rata-rata menerimanya dengan baik, karena Ahmad memang laki-laki yang baik, santun dan tahu etika bergaul dengan lawan jenis.

Tak ingin lama-lama terjebak dengan hubungan yang tak menentu, Ahmad mulai ancang-ancang untuk menawari ketiga wanita itu posisi sebagai istrinya. Untuk menguatkan hatinya ia semakin memperbanyak ibadah dan tetap rutin bersedekah. Untuk bersedekah ia kali ini menemui salah seorang ustadznya yang menjadi pengurus sebuah masjid di dekat daerahnya. Ia membicarakan maksud hatinya kepada sang ustadz. Kali ini ia ingin bersedekah lebih besar dari biasanya yakni Rp. 50 ribu. Sang ustadz mengabarkan, kebiasaan di masjidnya, kalau ada orang bersedekah minimal 50 ribu ke atas maka akan diumumkan kepada jamaah dan didoakan. Macam-macam hajat orang bersedekah itu akan disebut dan dimintakan kepada Allah agar niat yang bersangkutan terkabul.

“Jujur saya ingin mendapat jodoh ustadz,” ujar Ahmad.
“O ya tidak apa-apa bagus sekali itu,” ujar ustadznya.

Maka Ahmad pun menyerahkan uang 50 ribu itu. Tapi ia berpesan agar namanya tak usah disebut. Demikianlah. Ahmad menunaikan sedekahnya. Ia tak tahu apakah sedekahnya betul-betul diumumkan atau tidak. Ia juga tak tahu apakah niatnya itu masuk dalam daftar doa yang dibacakan panitia masjid kepada jamaah. Tapi hatinya sudah ikhlas bersedekah seraya memanjatkan doa kepada-Nya.

Selang beberapa waktu, Ahmad pun menunaikan maksudnya untuk menanyakan langsung kepada tiga orang wanita yang berteman baik dengannya tawaran untuk menjadi istrinya. Ia sadar ia memang bukan laki-laki berkecukupan. Yang ada dihatinya adalah niat ibadah kepada-Nya, menyempurnakan separuh agamanya. Ia berniat tak ada hal yang akan ia tutup-tutupi perihal dirinya, pekerjaannya, juga penghasilannya kepada para wanita itu. 

Wanita pertama yang ia datangi menerima baik maksud Ahmad. Tapi ia mengajukan syarat untuk tidak menikah dalam tahun 2010 ini. Ia masih punya tanggungan membiayai adiknya yang kuliah. Ahmad pun mafhum. Perempuan ini tak bisa memenuhi niatnya.

Wanita kedua juga demikian. Ia menerima dengan baik tapi merasa belum punya kesiapan. Ia tak bisa jika harus menikah di tahun ini juga. Ahmad pun kembali mafhum dan memaklumi penjelasan itu. 

Wanita ketiga adalah wanita tetangganya yang pertama kali ia kenal di acara halal bi halal idul fitri tahun 2009 lalu. Wanita ini juga menerima dengan baik tapi juga merasa siap kalau ia sudah menyelesaikan studinya. Saat kabar itu didengar oleh orang tua si wanita, ternyata responnya juga baik. Masalah kuliah dinilai tak akan menjadi penghalang karena si wanita tetap bisa melanjutkan kuliahnya walaupun statusnya menikah.

Demikianlah. Dengan dukungan orangtuanya, si wanita menjadi berpikiran lain. Apalagi Ahmad yang ia lihat memang adalah laki-laki baik, mengerti agama dan memiliki kemampuan untuk menjadi imamnya. Jadi sayang juga kalau dilewatkan. Akhrinya ia menyanggupi tawaran itu, bersedia dilamar dan melangsungkan pernikahan tahun ini juga.

Ahmad sangat bersyukur dengan hal itu. Tak henti ia mengucapkan tahmid. Apalagi, ia tak dibebankan biaya sedikitpun untuk menyelenggarakan pernikahannya. Semuanya ditanggung oleh keluarga besarnya. Tentu ini adalah berkah yang tak terkira, karena ia tak perlu susah-susah mencari uang seperti beberapa orang teman sebayanya yang harus menyiapkan uang sendiri untuk membiayai pernikahan mereka. Dengan berbaju pengatin warna hijau, Ahmad duduk di pelaminan bersama istrinya.

Keyakinan Ahmad pun terbukti. Niat yang baik, ikhtiar yang baik, serta sedekah yang baik, pastilah berbuah sesuatu kebaikan pula. Kini ia mendapat bukti sendiri bagaimana sedekah memang merupakan sebuah pohon subur yang berbuah lebat. Setelah menikah ia semakin merutinkan dirinya untuk senantiasa bersedekah. Sebaik, dan semampu yang ia bisa. [ ]

sumber : disini

Kamis, 07 Juni 2012

Percaya Janji Allah atau Janji syetan?


sedekah“Saya nggak pernah mau memberi pinjaman kalau ada yang datang berhutang..” kata guru saya. Menurutnya, kalau dia meminjamkan uang, bisa jadi uang itu tidak pernah dikembalikan lagi kepadanya. Kalaupun misalnya dikembalikan, tetap saja uang kembali itu hanya sejumlah uang yang dia pinjamkan.

“Beda dengan sedekah. Kalau saya memberi sedekah, minimal akan dikembalikan 10x lipat, dan itu sudah dijanjikan Tuhan dalam Kitab Suci. Jadi daripada dia minjam sama saya, lebih baik saya beri saja dia uang sesuai kebutuhannya dan saya anggap sedekah saja” sambungnya enteng.

Saya hanya bisa tertawa geli mendengar alasannya.. Sekilas seperti bercanda. Tapi saya tahu betul karakter guru saya itu. Dia memang gemar memberi sedekah.. Bahkan dia punya cita- cita memberangkatkan orang lain pergi berhaji sebanyak 100 orang, dan sebagiannya sudah berhasil dia berangkatkan.

Begitulah, kalau sifat dermawan sudah menjadi karakter atau kebiasaan… Buat kita yang baru- baru belajar sedekah, pasti deh banyak mikirnya.. Mau sedekah yang agak gede aja pakai mikir berulang kali.. Trus saking kebanyakan mikirnya, sedekahnya nggak jadi.
Hal lain yang membuat kita berat untuk bersedekah itu selaras dengan keyakinan kita akan janji-Nya. Coba kita perhatikan poin dibawah ini.
- Tuhan berjanji ; “Menikahlah! jika miskin, Aku yang akan mengayakan”.. Yakinkah kita? Kalau yakin, pasti kita buru- buru nikah
- Tuhan berjanji ; “Sedekahlah (beri nafkahlah) maka Aku akan memberi nafkah kepadamu.” Yakinkah kita? Kalau yakin, pasti kita buru- buru sedekah
Mari sejenak kita renungkan dari ayat ini kenapa kita masih kikir?
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. 
Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. ( Al Baqarah 267- 268)
Jadi, kita percaya janji Allah atau janji syaitan? :D

sumber : www.pecintasedekah.com

Matematika Allah


 http://duels.cz/galerie/matematika.jpg

Saat sedang menjalankan tugas negara (begitulah kelakar saya ketika menunaikan tugas kemanusiaan), saya berkesempatan berdiskusi dengan salah satu staf yang menjadi bagian dari tim yang berangkat kali ini.  Sambil meminggirkan mobil, menyeruput es cendol, ditemani semilir angin sawah, saya iseng bertanya, “Agus, saya dengar anda kuliah S-2?” “Iya mas, alhamdulillah satu semester lag,i” jawab agus. “Wah mantap, beasiswa ya?” saya terus menimpali. “Gak mas, biaya sendiri. Walaupun gaji saya habis 70%-nya untuk kuliah, tapi saya percaya matematika Allah karena niat saya meningkatkan kualitas dan menghidupi keluarga pasti akan dibantu oleh yang Maha Kaya,” demikian agus berseloroh meyakinkan saya.

Setiba di rumah malam hari, saya masih merenungi ungkapan tegas rekan saya ini tentang matematika Allah dan kembali ke ingatan saya 5 tahun lalu saat saya iseng menyapa office boy di kantor saya yang baru seminggu menikah.  Usia Jono –demikian saya memanggilnya – baru 19 tahun, menghidupi 2 adik yang masih SMP dan seorang nenek. Ibunya sudah meninggal dan bapaknya entah ke mana pergi. Jono menikahi tetangganya yg berusia 18 tahun. Saat saya tanya kok berani, dia menjawab santai “kan ada Allah yang menjamin hidup saya”.

Hari ini pula saya dipertemukan dengan tukang kerupuk yang tunanetra, Salim yang dengan percaya dirinya berjualan dari gang ke gang, demi menjaga sebuah kemandirian hidup tanpa harus merengek iba kepada setiap orang.  Dari pagi sampai petang bergerilya dibantu tongkat besi yg sudah berkarat, demi sebuah harga diri, dia akan marah bila ada orang yang memberinya uang tapi tidak beli kerupuknya.

“Saya bukan pengemis, saya penjual kerupuk dan saya pantang menerima uang tanpa ada membeli kerupuk saya. Alhamdulillah, dari jualan kerupuk saya bisa ngontrak dan hidupi istri dan anak saya.” Sontak saya bisu sesaat dan emosi saya ada pada titik terendah saat pria ini berhenti bicara.

Saya yakin banyak cerita yang semirip di atas di mana kadang akal kita menangkap ketidakmungkinan seseorang bertahan hidup dengan akses dan kemampuan yang terbatas, logika berfikir kita normatif menyangkal realita yang ada, bahwa seseorang tetap bisa memenuhi kebutuhan dasar dengan situasi yang kita anggap kurang berpihak kepadanya.

Tapi itulah matematika Allah. Matematika yang sukar dinalar lewat perantara otak manusia. Matematika yang justeru menuntun kita untuk senantiasa menjaga derajat syukur kita di hadapan Allah dan mengusik mental kemandirian kita untuk tetap konsisten, optimis dalam menjalankan hidup.  Agus, Jono dan Salim adalah representasi matematika Allah yang harusnya menuntun kita menjadi pribadi yang bertakwa, bersyukur dan optimis dalam meraih kesuksesan dunia akhirat.  Allah jamin rizki hambanya.  … Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (at Thalaq : 3).

Allah berfirman,
“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap tia Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap tiap sesuatu.” (Ath Thalaq: 3)

sumber : disini 

Selasa, 29 Mei 2012

Menolonglah Jika Ingin Ditolong

Di momen tahun baru ini, saya teringat setahun yang lalu saat hari-hari menjelang tahun baru 2011.  Saat itu saya yang kuliah di UGM menghabiskan waktu minggu tenang di rumah saya di Bogor, Jawa Barat. Setelah empat hari di rumah, saya berencana kembali lagi ke Jogja pada 1 Januari 2011 karena pada tanggal 3 Januari UAS akan dimulai.
.
Dua hari sebelum pulang ke Jogja, saya berencana membeli tiket kereta api untuk ke Jogjakarta. Sebenarnya saya ingin membeli tiket tersebut di agen travel, tetapi karena sedang ada gangguan system, maka saya harus langsung membeli tiket di Gambir.

Akhirnya, saya memutuskan untuk berangkat ke Gambir dengan menggunakan kereta dari stasiun Bogor. Setelah membeli tiket Pakuan Express, saya harus menunggu sekitar 45 menit sampai kereta diberangkatkan. Saya menunggu di dalam gerbong kereta sambil membaca koran. Tiket kereta saya masukkan ke dalam dompet supaya tidak hilang. Lima menit sebelum kereta diberangkatkan,  saya berniat mempersiapkan tiket kereta, agar ketika ada petugas yang memeriksa, saya tidak perlu repot-repot mencari lagi.
.
Saat itu saya baru sadar bahwa dompet saya tidak ada. Saya ingat betul dompet itu saya letakkan di pangkuan saya,  tetapi setelah mencari hingga ke kolong kursi, dompet tersebut tidak saya temukan. Karena kereta akan segera diberangkatkan, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari kereta. Tepat ketika saya turun dari kereta, pintu kereta ditutup dan kereta langsung berjalan.
.
Saat itu saya langsung menuju ruang informasi untuk meminta petugas mengumumkan berita kehilangan agar bila ada orang yang menemukan dompet saya, bisa langsung menghubungi petugas stasiun kereta api.
.
Saat itu saya bingung karena di dalam dompet saya, selain uang tunai juga berisi surat-surat penting seperti KTP, KTM, SIM, STNK, dan ATM yang tidak mudah dibuat ulang, harus melalui prosedur yang cukup panjang.
.
Setelah mengabarkan ayah saya, beliau bilang akan segera menjemput saya di stasiun. Ketika sedang menunggu ayah saya, tiba-tiba ada seorang ibu dengan tiga orang anaknya yang terlihat kebingungan. Ada dorongan dalam diri saya untuk menghampiri ibu tersebut. Kepada saya, ibu tersebut bercerita bahwa ia baru saja turun dari kereta ekonomi dan tersadar bahwa tas yang dibawanya sudah dirobek orang dan dompet serta handphone ibu ini dicopet. Ia bilang, ia tidak bisa pulang ke rumahnya karena semua uangnya ia taruh di dompet.
.
Saya pun bercerita kepada ibu itu bahwa saya pun baru kehilangan dompet di kereta. Namun,  saya teringat bahwa saya masih menyimpan uang sebesar Rp20.000 di saku celana. Akhirnya saya tanya kepada ibu itu, berapa ongkos untuk pulang ke rumahnya, dan ibu itu bilang sekitar 15.000. Akhirnya saya berikan semua uang saya agar ibu itu dan anak-anaknya bisa pulang ke rumah. Awalnya ibu tersebut menolak, karena berpikir saya juga memerlukan uang itu untuk pulang, namun setelah saya bilang bahwa saya akan dijemput ayah saya, ibu itu pun mau menerima dan ia mendoakan agar dompet saya dapat ditemukan.
.
Dua hari kemudian, ketika saya sudah di Jogjakarta, saya sedang bingung bagaimana saya harus mengurus surat-surat saya yang hilang, terutama STNK, karena menurut kepolisian, saya harus membuat berita kehilangan di koran atau radio terlebih dahulu jika ingin mengurus pergantian STNK. Di tengah-tengah kebingungan tersebut, saya menerima telepon dari ayah saya bahwa ada seseorang yang datang ke rumah (di Bogor) untuk mengembalikan dompet saya yang hilang di stasiun kereta tersebut.
.
Ayah saya bilang, semua surat-surat saya masih lengkap, tidak ada yang hilang satupun. Rasanya saya tidak percaya bahwa saya tidak perlu repot-repot mengurus pergantian surat-surat saya yang hilang yang tentunya akan sangat merepotkan dan memerlukan waktu lama.
.
Tiba-tiba saya teringat ibu yang waktu itu saya tolong di stasiun kereta. Saya ingat bahwa dia mendoakan agar dompet saya dapat ditemukan kembali. Saat itu saya merasakan kebaikan Allah Swt begitu nyata. Karena saya ikhlas membantu ibu yang sedang kesusahan tersebut, dan rela memberikan uang saya yang tersisa agar ibu itu dan anak-anaknya bisa pulang, Allah Swt membalasnya dengan membuat dompet saya kembali dan saya pun tidak perlu repot-repot mengurus pergantian surat-surat yang hilang.
.
Padahal, saat saya menolong ibu itu, saya tidak berpikir sama sekali Allah akan mengganti uang yang saya berikan kepada Ibu itu dengan balasan yang setimpal untuk saya. Saat itu, saya murni hanya ingin membantu ibu itu dan anak-anaknya agar bisa pulang ke rumah. Setelah dompet saya kembali, saya membayangkan apa jadinya bila Allah tidak bermurah hati kepada saya dengan membuat dompet saya kembali.
.
Tentunya saya akan kehilangan banyak waktu untuk mengurus surat-surat saya yang hilang padahal saat itu saya sedang menjalani UAS. Dan tentunya uang yang saya keluarkan untuk mengurus surat-surat saya yang hilang jumlahnya jauh di atas uang 20.000 yang saya berikan kepada ibu di stasiun itu.
.
Setelah mengalami keajaiban sedekah itu, terkadang “memancing rezeki” dengan bersedekah saya gunakan sebagai salah satu ikhtiar saya untuk mendapatkan sesuatu yang saya inginkan :D 

sumber : disini

Minggu, 27 Mei 2012

The Joy of Giving

What is the ultimate purpose of life? It's to give. Start giving. See the joy of giving. - Narayanan Krishnan
 
Lahir di Madurai, Tamil Nadu pada tahun 1981. Narayanan Krishnan bekerja sebagai seorang koki dan memenangkan penghargaan kemudian terpilih untuk bekerja di sebuah hotel yang elit di Swiss. Dan sebelum ia berangkat ke Eropa, ia berkunjung ke keluarganya. Pada waktu itulah ia melihat seorang lansia yang kelaparan dan memakan limbah dari kemanusiaannya. Lalu, ia bergegas ke hotel terdekat dan bertanya apa yang mereka punya saat itu, kemudian ia memberikan makanan itu kepada lansia tersebut. Ia berkata, "Percayalah, saya belum pernah melihat orang makan dengan begitu cepat, dan saat ia memakan makanan itu, matanya berkaca-kaca. Itu adalah airmata kebahagiaan."

Pada tahun 2002, Krishnan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Dan ingin melayani tunawisma di Madurai, Tamil Nadu. Pada tahun 2003, ia berhasil mendirikan organisasi non-profitnya yang bernama Akshaya Trust yang membantu untuk memberi makan kepada para tuna wisma dan cacat mental di Madurai. Ia menyediakan sarapan, makan siang dan makan malam untuk 400 fakir miskin dan lansia. Ia juga membantu mereka menggunting rambut, mencukur dan memandikan dengan tujuan untuk memberikan martabat lebih untuk orang-orang yang dilayaninya.

Ia tidak hanya memasak sendiri, ia juga menghantar dan tidak segan untuk memeluk dan menyuapi mereka yang sangat haus dan lapar akan kasih sayang. Krishnan terpilih menjadi TOP 10 di CNNHeroes 2010.
Ia tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang pahlawan. Ia sekarang menjadi pahlawan pun bukan seperti pahlawan yang ada di film-film seperti Superman, atau Spiderman. Ia benar-benar pahlawan yang nyata di dunia. Iatidak pernah menyangka bahwa ia akan menjadi seorang pahlawan bagi banyak orang. Karena pada awalnya ia berpikir, ia bisa memberikan makan kepada banyak tamu di hotel, masakan ia membiarkan orang-orangnya hidup dalam kelaparan di luar sana ? Ia ingin terus turun ke jalan-jalan dan memberikan makanan kepada mereka yang terlupakan, yang terabaikan, terlebih ia ingin memberikan kasih kepada mereka.
 
Memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi pekerja sosial seperti yang dilakukan oleh Krishnan bukan sesuatu yang mudah. Bahkan sulit sekali untuk di lakukan. Tetapi, Krishnan mengajak kita semua untuk mulai memberi dan rasakan kebahagiaan dengan memberi. Mulailah dari hal yang kecil. Dan mulailah dari lingkungan kita sendiri. Bukan hanya sekadar memberi makanan atau nominal uang, tetapi kasih dan perlakuan yang tulus yang Anda berikan, itu adalah yang terpenting dalam memberi. See and feel the joy of giving.

Krishnan berkata, "Food is one part. Love is another part. So, the food will give them physical nutrition. The love and affection which you show will give them mental nutrition."

sumber : disini

Selasa, 22 Mei 2012

Tangan-tangan Tidak Terlihat

Greeting from Melbourne! Sekarang saya sedang ada di Melbourne dan pengen sharing gimana ceritanya saya bisa sampai di sini. Selain karena “the power of mind setting”, saya bisa sampai disini karena “tangan-tangan tidak terlihat”.
.
Sebenernya saya juga ga tau kenapa memilih Melbourne sebagai kota yang dituju, walaupun yang tinggal di sini kebanyakan bilang kota ini hidupnya cuma sampe jam 5 sore. Dan ternyata emang bener! Tadi sore saya baru aja ke Melbourne Central dan sekitar jam 5an mereka sudah siap-siap mau tutup toko.
.
Jadi begini ceritanya, di kampus saya memang mengharuskan setiap muridnya untuk melakukan internship atau magang. Seperti kebanyakan orang, beberapa bulan kemaren saya mencoba apply ke beberapa perusahaan yang ada di Melbourne. Seperti jalanan yang tidak selalu mulus, begitu juga nasib aplikasi lamaran pekerjaan saya. Ada yang nolak lah, ada yang ga bales lah, dll.
.
Sampai akhirnya ada satu perusahaan yang membalas email saya. Awalnya mereka minta sample kerjaan yang pernah saya buat. Pertamanya agak ga pede gitu buat ngasih, tapi setelah dapet dorongan yang gede banget dari orang-orang terdekat, saya pun memberanikan diri untuk ngasih ke mereka, dan ternyata mereka suka! Senengnya ga kebeli lho, dan dari situ saya belajar banyak dari orang bule yang menghargai hasil karya orang.
.
Setelah saya kirim hasil kerjaan, mereka jadi ngegantung ga jelas gitu. Saya sempet cerita ke kakak, dan dia bilang, “keep positive thinking aja. Berusaha dan berdoa maksimal, hasil akhirnya nanti biar Allah yang atur.” Saya pun juga sudah mengilhami dalam-dalam kata-kata ini. Saya percaya bahwa semua memang sudah ada yang mengatur, yang penting kita berusaha dan berdoa maksimal.
.
Kalo kata Muhammad Assad di blog Notes From Qatar waktu dia ingin mengejar cita-cita, “Kalo emang dibolehin kesana, pasti Allah akan mempermudah segala sesuatunya. Kalo ga dibolehin, coba berdoa lagi ke Allah minta dipikirin lagi karena saya pengen banget kesana.” Agak konyol sih, tapi ya bener juga.
.
Di masa-masa menunggu, saya coba memastikan lagi dengan nanya ke mereka, “Could you be specifically explain me what to do next? So I can meet your expectation. Thank you and look forward to receiving your reply.” Langsung saya pencet SENT!
.
Ditunggu-tunggu mereka balesnya agak lama juga hampir sekitar seminggu. Gila seminggu itu gw deg-degan mampus. Tiap kali buka email takut. Galau. Ah masa-masa itu..
.
Ga disangka, waktu dia bales, dia nanya-nanya detail gitu saya mau tinggal dimana nanti di Melbourne, bisa kerjanya mulai bulan apa, dst. Yak, makin digantung aja saya, soalnya dia ngasih statement yang bilang, “Yes we accept you to work in our company.” Dapet balesan gitu saya jadi rancu, takut disangka kepedean.
.
Saya pun lalu memberanikan diri untuk bertanya, “I just would like to confirm, are you accepting me to work as intern?” dan mereka menjawab, “Yes we are accepting you to do internship here.” Kira-kira seperti ini jawaban mereka.
.
25 March 2011
Dear Jessica,
Liqouid would be pleased to offer you an internship at our design studio in Melbourne during the month of May and June.
Yours sincerely,
Sue Palmer
Director
.
Wowww!! Ga nyangka!! Saya inget banget terima email itu pas lagi di kelas, dan saya pun senyum-senyum sendiri ga jelas hahaha.. Abis itu ada lagi yang bikin saya pusing yaitu soal visa dan segala tetekbengeknya itu. Walaupun rencananya internship 2 bulan, tapi ternyata embassy cuma ngasih sebulan. Yaudah lah gpp juga, yang penting pengalamannya.
.
Inilah ruang kerja saya selama internship di Melbourne.
.

Kalau saya ingat-ingat lagi, banyak cara yang saya lakukan buat sampe ke Melbourne. Believe it or not, ini bukan cara-cara yang ribet tapi sangat simple, yaitu mind setting. Menurut saya ini keren banget, karena setelah ngeliat hasilnya saya bener-bener kaget dan ga percaya! I call this, “The power of mind setting”.
.
Pertama-tama dengan menempel notes kecil di depan meja belajar dengan tulisan “Internship in Australia”. Hal ini untuk memotivasi karena lebih mudah untuk divisiualisasikan. Kedua, sama seperti yang Kak Assad selalu bilang, SEDEKAH. Iseng-iseng saya coba praktekkin.
.
Jadi waktu menunggu jawaban dari perusahaan tempat magang itu, saya pergi ke supermarket, dan ngeliat ada orang jualan tissue gitu di pinggir jalan. Di dompet saya waktu itu cuma ada sekitar S$25 karena ya emang ga rencana mau belanja banyak. Akhirnya saya pake duit untuk belanja S$10 aja dan sisanya saya sedekahin untuk orang yang jualan tissue tadi itu, yang buka lapak di deket MRT (Mass Rapid Transportation).
.
Harga tissuenya sih cuma S$1, tapi saya kasih dia S$15. Sebenernya sih ga seberapa ya cuma S$15 dolar. Cuma karena waktu itu kondisinya duit saya emang tinggal segitunya dan saya bener-bener tulus ngasihnya. Ditambah lagi orang itu sangat terlihat bahagia waktu dapet duit itu. Dia bilang, “Thank you so much, God bless you.” Ahhh.. I suddenly feel so blessed!
.
Setelah ngeliat hasilnya yang sangat luar biasa, saya jadi teringat kata-kata nyokap dan Kak Assad yang selalu nanemin setiap orang untuk bersedekah. Nyokap pernah bilang, “Itulah alasan kenapa orang harus terus berbuat baik. Dengan berbuat baik, maka akan semakin banyak tangan-tangan tidak terlihat yang menolong kita kapanpun dan dimanapun, atau ada aja rezeki yang datang ke kita.”
.
Mungkin bisa dibilang seperti hukum tabur tuai. Contoh misalkan kita nanam jambu, ya pasti tumbuhnya juga jambu kan? Ga mungkin tumbuhnya jadi apel atau manga. Sama saja saat kita menanam kebaikan atau kejahatan, hasilnya akan sama persis dengan apa yang kita tanam. Jadi jangan merasa pernah rugi saat menolong orang lain atau berbuat kebaikan, karena yang akan memetik hasilnya itu kita sendiri.
.
Tenang aja, semua kebaikan kita sudah pasti akan dicatat dan pasti akan dibayar lunas sama Tuhan, dan mungkin saja plus bonus. Akhirnya saya merasa sangat bersyukur bisa mendapat kesempatan magang di Melbourne. Pengalaman dan gaji yang saya terima jauh banget kalo dibandingkan dengan sedekah saya yang ‘cuma’ S$15. Balasan dari sedekah memang sangat luar biasa!
.
Ini beberapa foto sebelum balik ke Indonesia. Foto pertama di tempat duduk besar bernama The Giant’s Chair. Gede banget emang kursinya.
.
Foto kedua waktu bareng 2 bos saya, mereka ngajak ke salah satu tempat terkenal gitu di Melbourne bernama Great Ocean Road. Kok malah kaya foto Ayah, Ibu dan anak ya? Hehehe…
.
Lastly thanks for sharing many stories about sedekah, Kak. Even though I am not a muslim, but I prove it so many times about the power of sedekah and it works! :) 

Sumber : disini 

Kamis, 17 Mei 2012

Tangkis Bencana dengan Sedekah

Tragedi kecelakaan pesawat Sukhoi memberi hikmah bahwa bencana bisa datang tiba-tiba. Bahwa itu bagian dari takdir Allah Swt, tidak dapat dibantah. Namun di sisi lain dalam Islam dikenal sedekah yang salah satu manfaatnya adalah menolak bencana. Pertanyaannya apakah benar, sedekah dapat menolak bencana ? Kisah nyata dan artikel ini mungkin dapat menjawab.


***
Diceritakan dua orang akhwat (perempuan) dari salah satu Ponpes di Bandung mengaku baru kembali dari kampung halamannya di Jawa Tengah. Keduanya bercerita, tentang kejadian  luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan bus antarkota, beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan, bus yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Bahkan para penumpang yang duduk didekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua akhwat itulah yang selamat dengan tidak terluka sedikit pun. Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya waktu itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafazdkan dzikir. 


Kalau tidak mengandung samudera hikmah dan lautan pahala, tentu Rasulullah saw tidak akan menganjurkan untuk selalu bersedekah kepada para sahabat, bahkan termasuk kepada sahabat yang paling miskin, seperti Abu Dzar Al Ghifari, Bilal dan Abu Dhamdham. Saking ‘penasaran', Abu Dzar pernah bertanya, "Wahai Nabi Allah, engkau selalu memerintahkan kepada kami untuk bersedekah, apa hakikat sedekah itu?" Rasulullah SAW menjawab dengan satu kalimat yang diulanginya tiga kali berturut-turut, "Sedekah itu sesuatu yang ajaib!"



***
Rasulullah saw bersabda, "Jika aku perintahkan kalian akan sesuatu, maka lakukanlah sebagian dari sesuatu itu semampu kalian. Akan tetapi, jika aku melarang kalian dari sesuatu, maka tinggalkanlah sesuatu itu seluruhnya (secara total). Dalam hadits qudsi, Allah SWT berfirman, "Wahai anak Adam, kosongkanlah gudangmu untuk memenuhi apa yang ada di sisi-Ku. Engkau akan selamat dari kebakaran, kebanjiran, pencurian dan kejahatan. Itu semua lebih engkau butuhka." (HR Thabrani dan Baihaqi).

Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya sedekah dapat menolak tujuh puluh pintu bencana." Karena itu Nabi saw menganjurkan agar bersedekah setiap hari, pada awal pagi dengan apa saja.
Karena bencana atau bala tidak akan menembus benteng sedekah seorang mukmin. Ujar Ibnu Al Qayyim, "Allah menolak beragam bencana dengan sedekah. Ketentuan ini telah populer, baik bagi para ulama maupun orang awam. Oleh karena itu, banyak penduduk bumi yang mengandalkan sedekah, karena mereka telah mencobanya." Ibnu Abi Aljaâ menandaskan, "Sesungguhnya sedekah menolak tujuh puluh pintu keburukan." Dalam bagian lain Ibnu Al Qayyim bertutur, "Sedekah memiliki dampak yang luar biasa untuk menolak berbagai macam bala meskipun sedekah itu dikeluarkan oleh orang yang fasik, zalim atau kafir. Dengan mengeluarkan sedekah, Allah akan menolak berbagai macam bala yang akan menimpa orang itu."

Dikisahkan Jibril memberi tahu nabi Isa as perihal kematian tukang cuci. Ketika Isa as pergi ke tempat tukang cuci itu, ia sedang mencuci. Nabi Isa terkejut karena ternyata tukang cuci itu masih hidup. Jibril turun memberi tahu Isa as, "Karena dia bersedekah dengan 3 potong roti, Allah pun menghindarkannya dari bencana kematian. Sebenarnya di dalam tumpukan pakaian yang dia bawa, ada seekor ular hitam yang akan menggigitnya. Namun Allah menyelamatkannya dari bencana itu karena sedekahnya."

Satu hari malaikat maut menemui nabi Ibrahim as dan bertanya, "Siapa anak muda yang tadi bertamu ke rumahmu?" "Ia sahabat sekaligus muridku," jawab Nabi Ibrahim. "Apa maksud kedatangannya menemuimu!" "Dia mengutarakan niatnya akan menikah esok pagi," kilah Ibrahim. " Sayang sekali ya, usia anak muda itu tidak akan sampai esok pagi," ujar malaikat maut. Setelah itu ia segera meninggalkan Nabi Ibrahim. Ternyata esok harinya Nabi Ibrahim masih melihat dan menyaksikan walimah pernikahan anak muda itu. Bahkan usia anak muda itu sampai 70 tahun. Ketika perihal tersebut ditanyakan Ibrahim kepada malaikat maut, ia menjawab, "Wahai Ibrahim, di malam menjelang pernikahannya, anak muda tersebut menyedekahkan separuh dari kekayaannya. Dan ini yang membuat Allah memutuskan untuk memanjangkan umur anak muda tersebut, hingga engkau masih melihatnya hidup."


Dalam kaitan ini, terbukti lagi kebenaran sabda Rasulullah saw, "Bersegeralah bersedekah, sebab yang namanya bencana atau bala tidak pernah mendahului sedekahah. Belilah semua kesulitanmu dengan Sedekahah. Obatilah penyakitmu dengan sedekah. Sedekah itu sesuatu yang ajaib. Sedekah menolak 70 macam bala dan bencana."

Diceritakan, bahwa di zaman Nabi Sulaiman as terjadi sepasang merpati mengadu, bahwa telurnya selalu diganggu oleh seseorang yang jahil. Sulaiman as memerintahkan kepada iblis menjaga keselamatan telur merpati itu dan mematahkan pria yang akan mengganggunya. Suatu hari si merpati datang mengadu kepada Sulaiman. Nabi Sulaiman meminta pertanggungan jawaban si iblis yang ditugasi. Si iblis berkata, "Kami tidak dapat menekuk batang leher si pengganggu itu, karena ia dikawal oleh dua malaikat. Pria yang jahil itu, sebelum keluar rumah, di pagi harinya, ia telah bersedekah sekeping roti kering kepada si pengemis."

Maka dianjurkan ketika terjadinya bencana, untuk mengasihi kaum duafa dengan bersedekah kepada mereka. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw, "Saling mengasihilah di antara kalian, niscaya kalian akan dikasihi. Orang yang mengasihi akan dikasihi oleh ar-Rahman (Allah). Saling mengasihilah di antara kalian orang-orang dimuka bumi ini, niscaya kalian akan dikasihi oleh yang ada di atas langit." Telah diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz, bahwa beliau dahulu pernah menulis perintah kepada para pembantunya ketika terjadinya gempa bumi agar mereka bersedekah. Wallahu'alam. 


sumber : disini]