Tampilkan postingan dengan label muslim indonesia amerika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muslim indonesia amerika. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 September 2012

Batu Ginjal dan Sedekah

Kisah berikut ini disampaikan oleh Ustad Sayyid Juwail. Sebuah keluarga yang terdiri atas bapak dan anak laki-laki tinggal di sebuah rumah sederhana. Ibu anak itu telah rneninggal beberapa tahun yang lalu. Suatu hari, si bapak mengeluhkan sakit yang luar biasa, yang tidak diketahui sebabnya. Karena tak tahan lagi, dia dan anaknya pergi ke dokter untuk mengetahui penyakitnya.
Setelah dokter memeriksanya lewat komputer, ternyata si bapak menderita sakit batu ginjal. Dokter menyarankan agar dilakukan operasi untuk mengeluarkan batu tersebut. Lalu, bapak dan anaknya kembali ke rumah untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum operasi dilakukan.
Keesokan paginya, si anak pegi ke kantor seperti biasa. Hari ini, tepat satu bulan dia bekerja di kantor tersebut. Itu berarti dia akan menerima gaji pertamanya. Tentu saja, dia sangat gembira. Dan yang lebih menggembirakan, dia bisa meringankan biaya operasi bapaknya.
Di tengah perjalanan pulan, si anak melihat seorang kakek tua yang fakir. Bajunya kumal. Wakahnya menampakan kelelahan.
Si anak sangat kasihan melihat keadaan kakek tua itu. Dia sempat bimbang, menolong bapaknya atau bersedekah ? Dia pun memutuskan untuk bersedekah kepada kakek tua itu. Semua gaji pertamanya dia sedekahkan, disertai doa semoga Allah menyembuhkan bapaknya. Si anak tidak bisa membayangkan seandainya bapaknya seperti kakek tua itu. Setelah menyerahkan sedekahnya, cepat-cepat dia pulang. Dia mencemaskan bapaknya yang sedang sakit sendirian di rumah.
Sesampainya di rumah, si anak mengetuk pintu. Ternyata dia disambut bapaknya dengan wajah gembira.
“Alhamdulillah, Anakku. Beberapa saat yang lalu, Bapak merasa sakit sekali. Lalu Bapak pergi ke WC untuk buang air kecil. Tanpa disengaja, batunya keluar. Sekarang, Bapak merasa nyaman, tidak sakit lagi”.
Kontan saja, si anak menangis karena sangat bahagia mendengar cerita bapaknya. Segala puji bagi Allah yang telah mendengar doa hamba-Ny.
 
Sumber : disini

Kamis, 07 Juni 2012

Percaya Janji Allah atau Janji syetan?


sedekah“Saya nggak pernah mau memberi pinjaman kalau ada yang datang berhutang..” kata guru saya. Menurutnya, kalau dia meminjamkan uang, bisa jadi uang itu tidak pernah dikembalikan lagi kepadanya. Kalaupun misalnya dikembalikan, tetap saja uang kembali itu hanya sejumlah uang yang dia pinjamkan.

“Beda dengan sedekah. Kalau saya memberi sedekah, minimal akan dikembalikan 10x lipat, dan itu sudah dijanjikan Tuhan dalam Kitab Suci. Jadi daripada dia minjam sama saya, lebih baik saya beri saja dia uang sesuai kebutuhannya dan saya anggap sedekah saja” sambungnya enteng.

Saya hanya bisa tertawa geli mendengar alasannya.. Sekilas seperti bercanda. Tapi saya tahu betul karakter guru saya itu. Dia memang gemar memberi sedekah.. Bahkan dia punya cita- cita memberangkatkan orang lain pergi berhaji sebanyak 100 orang, dan sebagiannya sudah berhasil dia berangkatkan.

Begitulah, kalau sifat dermawan sudah menjadi karakter atau kebiasaan… Buat kita yang baru- baru belajar sedekah, pasti deh banyak mikirnya.. Mau sedekah yang agak gede aja pakai mikir berulang kali.. Trus saking kebanyakan mikirnya, sedekahnya nggak jadi.
Hal lain yang membuat kita berat untuk bersedekah itu selaras dengan keyakinan kita akan janji-Nya. Coba kita perhatikan poin dibawah ini.
- Tuhan berjanji ; “Menikahlah! jika miskin, Aku yang akan mengayakan”.. Yakinkah kita? Kalau yakin, pasti kita buru- buru nikah
- Tuhan berjanji ; “Sedekahlah (beri nafkahlah) maka Aku akan memberi nafkah kepadamu.” Yakinkah kita? Kalau yakin, pasti kita buru- buru sedekah
Mari sejenak kita renungkan dari ayat ini kenapa kita masih kikir?
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. 
Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. ( Al Baqarah 267- 268)
Jadi, kita percaya janji Allah atau janji syaitan? :D

sumber : www.pecintasedekah.com

Matematika Allah


 http://duels.cz/galerie/matematika.jpg

Saat sedang menjalankan tugas negara (begitulah kelakar saya ketika menunaikan tugas kemanusiaan), saya berkesempatan berdiskusi dengan salah satu staf yang menjadi bagian dari tim yang berangkat kali ini.  Sambil meminggirkan mobil, menyeruput es cendol, ditemani semilir angin sawah, saya iseng bertanya, “Agus, saya dengar anda kuliah S-2?” “Iya mas, alhamdulillah satu semester lag,i” jawab agus. “Wah mantap, beasiswa ya?” saya terus menimpali. “Gak mas, biaya sendiri. Walaupun gaji saya habis 70%-nya untuk kuliah, tapi saya percaya matematika Allah karena niat saya meningkatkan kualitas dan menghidupi keluarga pasti akan dibantu oleh yang Maha Kaya,” demikian agus berseloroh meyakinkan saya.

Setiba di rumah malam hari, saya masih merenungi ungkapan tegas rekan saya ini tentang matematika Allah dan kembali ke ingatan saya 5 tahun lalu saat saya iseng menyapa office boy di kantor saya yang baru seminggu menikah.  Usia Jono –demikian saya memanggilnya – baru 19 tahun, menghidupi 2 adik yang masih SMP dan seorang nenek. Ibunya sudah meninggal dan bapaknya entah ke mana pergi. Jono menikahi tetangganya yg berusia 18 tahun. Saat saya tanya kok berani, dia menjawab santai “kan ada Allah yang menjamin hidup saya”.

Hari ini pula saya dipertemukan dengan tukang kerupuk yang tunanetra, Salim yang dengan percaya dirinya berjualan dari gang ke gang, demi menjaga sebuah kemandirian hidup tanpa harus merengek iba kepada setiap orang.  Dari pagi sampai petang bergerilya dibantu tongkat besi yg sudah berkarat, demi sebuah harga diri, dia akan marah bila ada orang yang memberinya uang tapi tidak beli kerupuknya.

“Saya bukan pengemis, saya penjual kerupuk dan saya pantang menerima uang tanpa ada membeli kerupuk saya. Alhamdulillah, dari jualan kerupuk saya bisa ngontrak dan hidupi istri dan anak saya.” Sontak saya bisu sesaat dan emosi saya ada pada titik terendah saat pria ini berhenti bicara.

Saya yakin banyak cerita yang semirip di atas di mana kadang akal kita menangkap ketidakmungkinan seseorang bertahan hidup dengan akses dan kemampuan yang terbatas, logika berfikir kita normatif menyangkal realita yang ada, bahwa seseorang tetap bisa memenuhi kebutuhan dasar dengan situasi yang kita anggap kurang berpihak kepadanya.

Tapi itulah matematika Allah. Matematika yang sukar dinalar lewat perantara otak manusia. Matematika yang justeru menuntun kita untuk senantiasa menjaga derajat syukur kita di hadapan Allah dan mengusik mental kemandirian kita untuk tetap konsisten, optimis dalam menjalankan hidup.  Agus, Jono dan Salim adalah representasi matematika Allah yang harusnya menuntun kita menjadi pribadi yang bertakwa, bersyukur dan optimis dalam meraih kesuksesan dunia akhirat.  Allah jamin rizki hambanya.  … Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (at Thalaq : 3).

Allah berfirman,
“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap tia Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap tiap sesuatu.” (Ath Thalaq: 3)

sumber : disini 

Minggu, 11 Maret 2012

Jadi Qabil atau Habil ?


Salah satu kisah yang sangat monumental dalam kehidupan manusia, sebagaimana direkam oleh QS 5 : 27-30, adalah peristiwa Qabil dan Habil. Sebagaimana diketahui bersama bahwa Qabil dan Habil adalah putera dari Nabi Adam AS, dan termasuk ke dalam generasi pertama manusia di muka bumi. Pada saat itu, setiap bayi yang lahir dari rahim Siti Hawa selalu kembar sepasang laki-laki dan perempuan. Dengan kondisi tersebut, maka Allah SWT menetapkan ketentuan tentang aturan pernikahan silang. Kakak laki-laki hanya boleh menikahi adik perempuannya, demikian pula sebaliknya. Seseorang tidak boleh menikahi saudara kembarnya.

Singkat cerita, Qabil terlahir dengan memiliki saudara kembar perempuan yang jauh lebih cantik, menurut pandangannya, dibandingkan dengan saudara kembar Habil. Qabil pun berniat untuk melanggar syariat dengan menikahi saudara kembarnya sendiri. Ia pun ‘ngotot’ dengan keinginannya. Akhirnya, Nabi Adam AS mengatakan bahwa untuk menentukan boleh tidaknya keinginan tersebut dilaksanakan, maka ia memerintahkan kedua puteranya untuk mempersembahkan qurban terbaik di hadapan Allah SWT. Allah-lah yang kemudian akan menentukan.

Qabil adalah seorang petani, sementara Habil adalah seorang peternak. Mendengar perintah tersebut, maka Qabil segera mengumpulkan hasil panen dari tanaman yang ia miliki, sedangkan Habil segera mengumpulkan hewan ternaknya untuk dijadikan sebagai qurban. Namun demikian, yang Qabil berikan adalah persembahan terburuk dari hasil panennya. Berbeda dengan saudaranya, yang Habil berikan adalah ternak terbaik dari yang ia miliki. Kemudian, Allah SWT pun menerima persembahan Habil dan menolak persembahan Qabil. Ini juga berarti bahwa keinginan Qabil untuk “merubah” syariat Allah, mendapat penolakan. Dengan emosi yang memuncak, Qabil pun kemudian melakukan pembunuhan pertama dalam sejarah manusia, akibat kekecewaan dan hawa nafsu yang mengendalikannya.

Salah satu pelajaran dari kisah di atas terletak pada penggunaan logika “ekonomi berbagi” yang dipraktekkan Qabil dan Habil. Qabil menggunakan logika ‘sisa’, yang sangat menuhankan kepentingan individu, sedangkan Habil menggunakan logika ‘yang terbaik’. Penggunaan kedua logika ini akan memberikan implikasi berbeda dalam kehidupan kita. Ambil contoh sederhana dalam pengelolaan keuangan rumah tangga kita.

Jika logika Qabil yang dipakai, maka setiap kali mendapat gaji, yang dipikirkan pertama kali adalah memenuhi kebutuhan sendiri dulu, membeli barang yang diinginkan, dan membayar utang (jika ada). Setelah itu baru disedekahkan. Itu pun kalau masih ada sisa.
Sebaliknya, dengan menggunakan logika Habil, maka yang akan dipikirkan pertama kali setelah mendapat gaji adalah keluarkan dulu zakatnya, lalu membayar infak dan sedekah, membayar utang (jika ada), dan baru sisanya untuk memenuhi kebutuhan kita. Jika saja logika Habil yang ditanamkan secara kuat, maka negeri ini insya Allah akan mampu mengatasi problem kemiskinannya. Jadi ingin menjadi siapakah anda saat ini, Qabil atau Habil ?

diambil dari sini setelah disesuaikan

---------------------------------------------------------------------
Dukungan dan Partisipasi Pembangunan Mushola Da'watul Islamiah
bisa dikirim melalui Bank Syariah Mandiri No. Rek. 7033118591 an. Iin Saein Bdn Mushola DI atau hubungi No Hp Ketua Panitia 0818-656-326 Bapak Iin Saein / Admin blog ini Gun Gun 0821-2483-5688.

Sabtu, 25 Februari 2012

5 Manfaat Sedekah Dunia dan Akhirat

Sungguh luar biasa keajaiban sedekah. Saking luar biasanya, Ibnu Qayyim dalam bukunya Zaadul Ma’ad mengatakan, “Dalam sedekah itu terdapat banyak hal luar biasa, termasuk dapat menolak beragam bencana dan malapetaka, sekalipun yang sedekah tersebut orang durhaka, banyak berbuat aniaya, atau orang kafir. Allah akan menolak segala bencana dan malapetaka. “

Mengingat banyak manfaat dari sedekah ini, pengarang kitab Tanhibul Ghafilin, Imam Samarqandi mengatakan, “Biasakan diri Anda untuk terus bersedekah, baik dalam jumlah kecil maupun besar. Karena, dalam sedekah itu ada sepuluh manfaat, lima akan diberikan di dunia, dan lima lagi akan diberikan di akhirat kelak.

Adapun lima manfaat yang akan diberikan di dunia adalah :
1. menyucikan harta;
2. menyucikan badan dari perbuatan dosa;
3. menolak beragam bencana dan penyakit;
4. memberikan kebahagiaan kepada orang miskin dan tidak ada perbuatan paling mulia selain memberikan kebahagiaan kepada sesama Muslim;
5. harta kekayaan akan lebih berkah;
6. juga rezeki akan lebih melimpah.

Adapun lima manfaat yang akan diperoleh kelak di akhirat adalah :
1. sedekah akan menjadi pelindung dari teriknya sengatan matahari akhirat kelak;
2. akan memperberat timbangan kebaikan;
3. dan dapat membantu melewati shirat (jembatan akhirat);
4. dapat menambah ketinggian derajat di surga kelak;
5. dan akan memperoleh ridha dari Allah.

Sumber : Buku Allah Maha Pelindung Maka Engkau Gampang Siasati Krisis karya Ustadz Yusuf Mansur hal 56

Rabu, 22 Februari 2012

Kisah uang Rp 1000 dan Rp 100.000.



Uang Rp 1000 & Rp 100.000 sama2 terbuat dari kertas, sama2 dicetak & diedarkan oleh BI. Suatu ketika secara bersamaan mereka keluar dan berpisah dari Bank dan beredar Di masyarakat, 4 bulan kemudian mereka bertemu lg secara tdk sengaja didlm dompet seorang pemuda. Kemudian Di antara kedua uang tsb terjadilah percakapan.

Yg Rp 100.000 bertanya kpd Rp 1000, "Knp badan km begitu lusuk, kotor dan bau amis?"

Rp. 1.000 menjawab, "Karena aku begitu keluar dari Bank langsung Di tangan orang2 bawahan dari tukang becak, tukang sayur, penjual ikan dan ditangan pengemis"

Lalu Rp.1000.bertanya balik kpd Rp 100.000, "Knp km kelihatan begitu baru, rapi dan masih bersih?"

Dijawabnya, "Karena begitu aku keluar dari Bank, langsung disambut perempuan cantik, & beredarnyapun di restoran mahal, di mall & juga hotel2 berbintang serta keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet"

Lalu Rp 1000 bertanya lagi, "Pernahkah engkau mampir di tempat ibadah?"

Dijawablah, "Belum pernah"

Rp 1000 pun berkata lagi, "Ketahuilah walaupun aku hanya Rp 1.000, tetapi aku selalu mampir di rumah IBADAH dan di tangan anak anak yatim, bahkan aku selalu bersyukur dalam hidup ini. Aku tdk dipandang bukan sebuah nilai, tetapi adalah sebuah manfaat" Akhirnya menangislah Rp 100.000 karena merasa besar, hebat, tinggi tetapi tdk begitu bermanfaat selama ini.

sumber : http://id-id.facebook.com/pages/Sedekah-Setiap-Hari-Jumat-Rp-10000000/112791978796458

Sabtu, 18 Februari 2012

Sedekah Mengangkat Derajat Kami

Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri. Saya dan istri adalah seorang karyawan / karyawati di perusahaan swasta. Selama 15 tahun bekerja kami selalu kekurangan. tgl 1 gajian tgl 20 sudah tidak punya uang. tadinya saya berpikir dengan istri juga bekerja kehidupan kami akan membaik. Ternyata tidak, hutang kami malah dimana-mana.Di akhir thn 2008 saya mengenal ustad Yusuf Mansyur melalu internet. Saya jalankan semua yang disarankan ustad. Sedekah yang nendang kt ustad mansyur saya praktekan. 1 bulan gaji saya serahkan semua tanpa sepengetahuan istri. Sudah dipastikan tagihan rumah,tagihan motor, tagihan kartu kredit,tagihan pinjaman bank akan menjerit semua karena saya tidak bayarkan.Tapi semua masalah tsb saya serahkan sepenuhnya kpd Allah.

Dalam doa malam saya selalu menangis di hadapan Allah. Ya RABB ..saya serahkan semua hidup dan mati saya dan keluarga. Mudah2an engkau tunjukan kemurahanMU. 1 bulan berlalu blm menampakkan hasil. Saya sempat down memikirkan hal tsb.gaji bulan berikutnyapun habis untuk bayar tagihan yang double. saya kembali nihil (tidak pegang uang). Apa yang bisa saya lakukan dengan kondisi spt ini selain bersimpuh dan berdoa di malam hari. Akhirnya Allah menunjukan kemurahanNYA. Tepat di malam ke 40 saya mendapatkan sms berupa order yang nilainya berpuluh2 kali lipat dari sedekah saya.Akhirnya saya lunasi semua hutang2. Rumah, motor, kartu kredit, pinjaman bank.

Alhamdulillah sekarang genap 2 tahun saya dan sekeluarga menjalani. Simpanan di atm dan perhiasan istri bisa kami punyai. Saya bisa membantu saudara yang kekurangan. Membantu 80 orang anak yatim stp bulannya. juga sedekah harian.

Saya juga menyebarkan keajaiban sedekah ini di kantor. Alhamdulillah setiap pagi di musholla kantor kami banyak yang menjalankan sholat Dhuha. Setiap awal waktu sholat, musholla kami penuh dengan karyawan yang menjalankan sholat. Dan banyak dari mereka yang juga merasakan keajaiban sedekah.


Dukungan dan Partisipasi Pembangunan Mushola Da'watul Islamiah
bisa dikirim melalui Bank Syariah Mandiri No. Rek. 7033118591 an. Iin Saein Bdn Mushola DI atau hubungi No Hp Ketua Panitia 0818-656-326 Bapak Iin Saein.