Tampilkan postingan dengan label proposal masjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label proposal masjid. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Juni 2012

Seorang Tukang Becak Yang Dermawan

Bai Fang Li, Tukang Becak yang dermawan, yang menjadi Penyumbang Ratusan Juta untuk Yatim Piatu, tak perlu menggembar-gemborkan sudah berapa banyak kita menyumbang orang karena mungkin belum sepadan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bai Fang Li ini. Kebanyakan dari kita menyumbang kalau sudah kelebihan uang. Jika hidup pas-pasan keinginan menyumbang bahkan nyaris tak ada.




Bai Fang Li berbeda. Ia menjalani hidup sebagai tukang becak. Hidupnya sederhana karena memang hanya tukang becak. Namun semangatnya tinggi. Pergi pagi pulang malam mengayuh becak mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya. Ia tinggal di gubuk sederhana di Tianjin, China.


Ia hampir tak pernah beli makanan karena makanan ia dapatkan dengan cara memulung. Begitupun pakaiannya. Apakah hasil membecaknya tak cukup untuk membeli makanan dan pakaian? Pendapatannya cukup memadai dan sebenarnya bisa membuatnya hidup lebih layak. Namun ia lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an anak tak mampu.
Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun. Saat itu ia tak sengaja melihat seorang anak usia 6 tahunan yang sedang menawarkan jasa untuk membantu ibu-ibu mengangkat belanjaannya di pasar. Usai mengangkat barang belanjaan, ia mendapat upah dari para ibu yang tertolong jasanya.

Namun yang membuat Bai Fang Li heran, si anak memungut makanan di tempat sampah untuk makannya. Padahal ia bisa membeli makanan layak untuk mengisi perutnya. Ketika ia tanya, ternyata si anak tak mau mengganggu uang hasil jerih payahnya itu untuk membeli makan. Ia gunakan uang itu untuk makan kedua adiknya yang berusia 3 dan 4 tahun di gubuk di mana mereka tinggal. Mereka hidup bertiga sebagai pemulung dan orangtuanya entah di mana.

Bai Fang Li yang berkesempatan mengantar anak itu ke tempat tinggalnya tersentuh. Setelah itu ia membawa ketiga anak itu ke yayasan yatim piatu di mana di sana ada ratusan anak yang diasuh. Sejak itu Bai Fang Li mengikuti cara si anak, tak menggunakan uang hasil mengayuh becaknya untuk kehidupan sehari-hari melainkan disumbangkan untuk yayasan yatim piatu tersebut.


Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya. Pada tahun 2001 usianya mencapai 91 tahun. Ia datang ke yayasan itu dengan ringkih. Ia bilang pada pengurus yayasan kalau ia sudah tak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk. Saat itu ia membawa sumbangan terakhir sebanyak 500 yuan atau setara dengan Rp 675.000.

Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya menyumbang ke yayasan tersebut. Tahun 2005, Bai Fang Li meninggal setelah terserang sakit kanker paru-paru.

Melihat semangatnya untuk menyumbang, Bai Fang Li memang orang yang luar biasa. Ia hidup tanpa pamrih dengan menolong anak-anak yang tak beruntung.  Meski hidup dari mengayuh becak (jika diukur jarak mengayuh becaknya sama dengan 18 kali keliling bumi), ia punya kepedulian yang tinggi yang tak terperikan.

Sumber : disini

Kamis, 14 Juni 2012

Sedekahnya Berbuah Umrah, Mobil dan Rumah

Begitulah yang terjadi dengan Abdoel  Rochimi. Setelah bergabung dengan Daarul Qur’an dan kemudian ikut membidani berdirinya lembaga Penghafal Al-Qur’an bersama Ustadz Yusuf Manshur,  ia semakin menyadari pentingnya berbagi (sedekah). Maka, sejak 2007, setiap bulannya, ia pun mulai membiasakan diri bersedekah dengan membagikan minimal 40 bungkus kepada para tetangga. “Makanan itu dimasak sendiri oleh istri saya,” ujar lelaki kelahiran Indramayu, 4 April 1976 ini.

Keajaiban berbagi itu sungguh tak terbatas. Di luar jangkauan nalar. 

Kebiasaan berbagi itu kemudian diteruskan di rumah barunya dengan mengundang teman-temannya saat kuliah dulu, terutama yang berasal dari organisasi Permai Ayu (Persatuan Mahasiswa Indramayu). Maka, dari sinilah lahir Ngopi Yu…! (ngobrol, pengajian, alumni, permai-ayu). Rochimi mengundang orang-orang yang tergabung dalam Ngopi Yu..! ini setiap bulannya. Mereka ngobrol dan mengaji al-Qur’an 30 juz. Usai acara, Rochimi pun membagikan nasi bungkus dan beberapa aneka makanan lainnya kepada mereka. Begitu yang dilakukan Rochimi setiap bulannya. Tentu, tidak itu saja kebiasaan berbagi Rochimi.

Keajaiban hidup pun kerapkali ia alami. Rumah bertingkat yang sangat megah dengan konsep minimalis dan harganya ditaksir ratusan juta rupiah yang kini menjadi tempat tinggalnya pun tidak terlepas dari konsep berbagi yang selama ini ia jalani.

Alkisah, istrinya yang saat itu mengandung anak keduanya, tiba-tiba, ngidam ingin tinggal di sebuah rumah yang cukup megah. Oleh Rochimi, keinginan istrinya ini ditimpali dengan candaan, “Ya tinggal masuk saja ke rumah orang kaya. Gitu aja repot!”

Tapi, lama-kelamaan, hal itu menjadi pemikiran Rochimi juga. Hingga, suatu saat, ia pun benar-benar membangunkan rumah yang asri untuk istri tercintanya. Maka, siang dan malam, ia dan istri sengaja mencari rumah yang bagus dan murah yang bisa dibelinya secara kredit. Tapi, yang dicarinya ternyata tidak mudah. Hingga suatu saat ia bertemu dengan salah seorang jemaah dan ia pun mengutarakan maksudnya ini.

Gayung bersambut, orang itu ternyata ingin membantu Rochimi. “Pak Ustadz, tinggal cari tanah saja yang bersertifikat, nanti saya bangunkan rumah di sana,” celetuk orang itu kepada Rochimi, yang memang sehari-hari dipanggil Pak Ustadz ini.



Tapi, Rochimi mengira hal itu hanya candaan. Yang ada dalam pikirannya, kalaupun nanti dibangunkan rumah, ia pasti akan berhutang juga kepada orang itu. Tetapi, ia pun tetap meniatkan mencari tanah dan akhirnya menemukannya.

Tanah itu milik orang keturunan Tionghoa yang harganya diperkirakan Rp. 200 juta. Namun, uang cash (kontan) yang ada di tangan Rochomi hanya Rp. 10 juta. Bagaimana bisa? Di sinilah keajaiban terjadi. Ternyata, orang keturunan Tionghoa itu tidak mengharuskan Rochimi untuk membayar cash alias bisa dikredit. Dan yang lebih menyenangkan lagi, bayarnya bisa kapan saja alias ketika ada uang saja, tidak harus tiap bulan.

Setelah tanah itu resmi dibeli dan surat-suratnya telah diurus, maka Rochimi pun menemui kembali orang yang hendak membantu untuk membangunkan rumahnya itu. Tidak pakai waktu lama, orang itu segera membangunkan rumah megah, bertingkat, dengan konsep minimalis. Namun, yang ada dalam bayangan Rochimi, rumah itu pasti tidak akan diberikan kepadanya begitu saja, tapi akan dihutangkannya. Di benaknya bergelayut tanda tanya: berapa puluh juta yang harus ia cicil setiap bulannya?

Belum saja rumah itu kelar dibangun, tiba-tiba, Rochimi mendapatkan hadiah umrah dari salah satu jemaah lainnya. Maka, takut dianggap punya uang oleh orang yang membangunkan rumah tersebut, Rochimi pun bicara terus terang, “Pak, insya Allah besok saya akan berangkat umrah. Alhamdulillah ada yang memberangkatkan saya.”

Mendengar perkataan Rochimi, orang itu malah ikut berbahagia dan minta didoakan agar hidupnya menjadi berkah. Maka, berangkatlah Rochimi ke Tanah Suci. Di sana, ia mengalami berbagai keajaiban, seperti bisa mencium Hajar Aswad dengan mudah, banyak orang yang memberi kurma dan air zamzam saat ia sedang zikir di masjid dan sebagainya.

Setelah itu Rochimi pulang ke Tanah Air. Ternyata keajaiban tersebut tidak berhenti sampai di sana. Ketika sampai di rumah yang akhirnya selesai dibangun, tiba-tiba ada mobil baru merk terkenal nangkring di garasi rumahnya. Ternyata, mobil itu merupakan pemberian orang dan surat-suratnya sudah menjadi atas namanya. Kebahagiaan Rochimi kian bertambah setelah rumah yang kini ditempatinya itu, memang benar-benar spesial dibangunkan untuk dirinya alias gratis. Jadi, ia tidak perlu berhutang ke orang itu. Orang itu hanya minta kepadanya agar didoakan saja.

Demikian berbagai keajaiban yang dialami Rochimi. Dalam satu waktu (sebulan), ia mendapatkan tiga keberkahan sekaligus: dibangunkan rumah megah, diberi mobil dan diumrahkan secara gratis. “Jika ditakar dengan gaji saya sebulan, mungkin seumur hidup saya tidak akan bisa mendapatkan semuanya itu, meski dicicil sekalipun,” ujarnya.

Bagi Rochimi, inilah yang disebut dengan rezeki tak terduga (min haitsu laa yahtasib). Menurutnya, rezeki itu ada tiga. Pertama, rezeki itu memang dari Allah. Artinya, rezeki itu diberikan kepada siapa saja, baik orang Islam, non-Islam, binatang, tumbuhan dan sebagainya. Kedua, rezeki karena kerja keras (kasab). Ketiga, rezeki karena tidak terduga datangnya. Dan apa yang ia alami selama ini, tidak lain merupakan rezeki yang tidak terduga yang dikasih Allah atas segala kebaikan yang dilakukannya, yaitu berbagi.

Rochimi pun kemudian berkisah bagaimana saat kelahiran anak keduanya. “Anak kedua saya ini lahir ketika usia kandungan masih delapan bulan,” ujarnya. Ketuban istrinya tiba-tiba pecah ketika usia kandungan belum sembilan bulan. Oleh Rochimi, sang istri pun segera dibawa ke rumah sakit terdekat di Pasar Rebo. Ternyata oleh dokter, istrinya harus dibedah caesar (sesar). Namun, ia menolaknya karena berbagai resiko yang ditanggungnya kemudian. Tapi, dokter tetap menyarankannya untuk disesar dan Rochimi tetap menolaknya. Akhirnya, jalan vakum pun dilakukan, yaitu dengan cara disedot, tentu dengan segala resikonya juga.

Ketegangan mewarnai Rochimi ketika istrinya melahirkan. “Seumur hidup saya, baru kali itu saya bisa khatam (tamat membaca, red) Yaasiin sampai sepuluh kali dalam sehari,” ujarnya. Ya, untuk mengusir ketegangan, ternyata Rochimi baca Yaasiin hingga khatam sampai 10 kali. Tidak lupa, ia juga mengirim doa dan al-Fatihah ke beberapa kyai. Akhirnya, ketika Maghrib tiba, istrinya pun bisa melahirkan dengan selamat.

Sang bayi segera dibawa ke inkubator dan harus dirawat dalam beberapa minggu. “Saat itu saya berpikir, berapa juta yang harus saya keluarkan kalau kelamaan di rumah sakit,” ujarnya. Namun, berbagai keajaiban akhirnya datang lagi. Ternyata, hanya dalam waktu dua hari saja, sang bayi bisa dibawa pulang.

Begitulah berbagai keajaiban kerapkali dialami Rochimi karena konsep sedekah yang sering ia lakukan kepada orang lain. Menurut lelaki yang sering dipanggil Raden oleh kawan-kawannya ini, sedekah itu banyak manfaatnya. Setidaknya, ada empat penting yang terkandung dalam sedekah yang mesti ditanamkan oleh setiap orang.

Pertama, sedekah itu bukan tinggal berapa, tetapi akan menjadi berapa. Artinya, ketika kita menyedekahkan sebagian uang kita, misalnya seribu dari 10 ribu rupiah. Maka, bukan menjadi 9 ribu (tinggal berapa), tetapi bertambah menjadi 19 ribu rupiah (menjadi berapa).

Kedua, sedekah itu tidak berkurang, tetapi bertambah. Penjelasannya hampir sama dengan yang di atas.

Ketiga, sedekah itu untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Artinya, kebaikan yang kita lakukan itu sejatinya untuk kebaikan diri kita sendiri, bukan untuk kebaikan orang lain. Misalnya, dengan sedekah akan mendatangkan rezeki, memanjangkan umur, menolak bala dan mengobati penyakit kita.      

Keempat, sedekah itu di depan, bukan di belakang. Artinya, sedekah terbaik adalah ketika kita tidak punya. Misalnya, saat kita tidak punya uang karena belum gajian, lalu ada orang minta bantuan, maka sejatinya kita harus membantunya sebisa mungkin. Ini akan jauh lebih baik dibandingkan ketika harus membantunya setelah gajian.

Di mata Rochimi, jika seseorang telah meyakinkan diri dalam pikiran dan benaknya tentang empat prinsip sedekah tersebut, maka orang tidak akan ragu lagi untuk saling berbagi kepada orang lain. Maka, insya Allah, yang namanya penyakit korupsi dan teman-temannya, akan bisa dikikis di negeri ini.

Sumber : disini

Selasa, 12 Juni 2012

SEDEKAH BERBUAH PELAMINAN

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah: 256)


Poros sedekah memang tak lain adalah niat yang baik. Sumber kebaikan adalah Allah maka sewajarnyalah kita mengharapkan kebaikan dari-Nya. Caranya tak lain dengan berdekat-dekat dengannya dan berusaha menjalankan apa yang Dia perintahkan dan meninggalkan apa yang Dia larang.

Kisah ini dialami seorang guru madrasah di kota Bekasi. Namanya adalah Ustadz Ahmad. Laki-laki ini sehari-hari mengabdi di madrasah mengajar murid-murid Tsanawiyah pelajaran agama. Jarak antara rumahnya dengan tempat ia mengajar cukup jauh. Tapi terdorong rasa pengabdian ia hampir tak pernah absen mengajar. Keuntungannya, ia bisa menumpang mobil guru lain yang juga mengajar di madrasah yang sama.

Pekerjaan Ahmad tak mendatangkan income yang besar. Malah kalau dihitung rata-rata kebutuhan hidup orang Jakarta penghasilannya cukup minim. Ia harus pandai-pandai mengatur keuangannya. Tapi semua ia hadapi dengan rasa syukur. “Rezeki mah ada yang ngatur,” begitu katanya suatu waktu.    

Yang menjadi beban pikirannya adalah pasangan hidup. Wajar saja, usianya saat ini sudah menginjak angka 33, usia yang sangat layak untuk beristri. Masalah rezeki menurutnya tak terlalu sulit. Dapat dikit maka yang dibelanjakan sedikit, kalau kebetulan dapat agak banyak barulah dia bisa membeli kebutuhan hidupnya yang lain seperti baju dan sepatu. Tapi kalau masalah jodoh, singguh menjadi satu misteri bagi dirinya.

Masalah ini cukup menjadi beban pikirannya. Ia sadar Allah memang mengatur jodoh tiap-tiap hamba-Nya. Tapi ia juga sadar, sebagai makhluk ia harus berikhtiar karena itulah tuntunan yang diberikan agama. Maka Ahmad cukup gencar mencari-cari siapa kira-kira yang bisa ia jadikan istri untuk mendampingi hidupnya.
Salah satu bagian dari ikhtiarnya adalah bersedekah. Ahmad selalu rutin bersedekah ke masjid setiap shalat Jum’at. Jumlah memang tak terlalu besar, 5-10 ribu rupiah. Kalau kebetulan ia dapat gaji, ia akan meningkatkan sedekahnya itu menjadi 20 ribu rupiah. Demikianlah memang kemampuan sedekah yang dimiliki Ahmad mengingat penghasilan yang tak seberapa, hanya beberapa ratus ribu saja perbulan. Tapi ia selalu konsisten melakukan itu. Terselip doa agar sedekah itu bisa mendatangkan kebaikan baginya. Tak hanya masalah jodoh tapi juga masalah yang lainnya.


Demikianlah. Hal itu berjalan dalam beberapa bulan. Terselip keyakinan di hatinya bahwa doanya pastilah didengar Allah pada waktu dan keadaan yang tepat. Di luar itu ia memperbanyak ibadah. Itu semua membuat hatinya tenang dalam menjalani hari-harinya.

Tiga Wanita
Dalam waktu yang berjalan, Ahmad berkenalan dengan seorang wanita. Wanita ini ternyata seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi di daerah Jakarta Timur. Pertemuannya waktu halal bi halal idul fitri di kampungnya. Wanita tersebut ternyata masih tetangga dengannya. Ahmad tak mengenalinya karena memang sebagian besar waktunya tidak ia habiskan di rumah melainkan mengajar dan sebelumnya menuntut ilmu di pesantren.

Acara halal bi halal itu adalah mengunjungi rumah para ustadz dan sesepuh desa. Yang mengikutinya adalah kalangan anak-anak muda. Ahmad ditunjuk untuk menjadi salah satu koordinator karena ia relatif paling senior dibanding lainnya. Saat itulah ia berkenalan dengan wanita muslimah tersebut.

Sadar bahwa wanita yang ia dekati masih kuliah, Ahmad tak terlalu menaruh harap. Tapi ia menjalin hubungan baik. Di luar itu, ia juga menjalin komunikasi dengan 2 orang wanita lainnya. Wanita-wanita ini rata-rata menerimanya dengan baik, karena Ahmad memang laki-laki yang baik, santun dan tahu etika bergaul dengan lawan jenis.

Tak ingin lama-lama terjebak dengan hubungan yang tak menentu, Ahmad mulai ancang-ancang untuk menawari ketiga wanita itu posisi sebagai istrinya. Untuk menguatkan hatinya ia semakin memperbanyak ibadah dan tetap rutin bersedekah. Untuk bersedekah ia kali ini menemui salah seorang ustadznya yang menjadi pengurus sebuah masjid di dekat daerahnya. Ia membicarakan maksud hatinya kepada sang ustadz. Kali ini ia ingin bersedekah lebih besar dari biasanya yakni Rp. 50 ribu. Sang ustadz mengabarkan, kebiasaan di masjidnya, kalau ada orang bersedekah minimal 50 ribu ke atas maka akan diumumkan kepada jamaah dan didoakan. Macam-macam hajat orang bersedekah itu akan disebut dan dimintakan kepada Allah agar niat yang bersangkutan terkabul.

“Jujur saya ingin mendapat jodoh ustadz,” ujar Ahmad.
“O ya tidak apa-apa bagus sekali itu,” ujar ustadznya.

Maka Ahmad pun menyerahkan uang 50 ribu itu. Tapi ia berpesan agar namanya tak usah disebut. Demikianlah. Ahmad menunaikan sedekahnya. Ia tak tahu apakah sedekahnya betul-betul diumumkan atau tidak. Ia juga tak tahu apakah niatnya itu masuk dalam daftar doa yang dibacakan panitia masjid kepada jamaah. Tapi hatinya sudah ikhlas bersedekah seraya memanjatkan doa kepada-Nya.

Selang beberapa waktu, Ahmad pun menunaikan maksudnya untuk menanyakan langsung kepada tiga orang wanita yang berteman baik dengannya tawaran untuk menjadi istrinya. Ia sadar ia memang bukan laki-laki berkecukupan. Yang ada dihatinya adalah niat ibadah kepada-Nya, menyempurnakan separuh agamanya. Ia berniat tak ada hal yang akan ia tutup-tutupi perihal dirinya, pekerjaannya, juga penghasilannya kepada para wanita itu. 

Wanita pertama yang ia datangi menerima baik maksud Ahmad. Tapi ia mengajukan syarat untuk tidak menikah dalam tahun 2010 ini. Ia masih punya tanggungan membiayai adiknya yang kuliah. Ahmad pun mafhum. Perempuan ini tak bisa memenuhi niatnya.

Wanita kedua juga demikian. Ia menerima dengan baik tapi merasa belum punya kesiapan. Ia tak bisa jika harus menikah di tahun ini juga. Ahmad pun kembali mafhum dan memaklumi penjelasan itu. 

Wanita ketiga adalah wanita tetangganya yang pertama kali ia kenal di acara halal bi halal idul fitri tahun 2009 lalu. Wanita ini juga menerima dengan baik tapi juga merasa siap kalau ia sudah menyelesaikan studinya. Saat kabar itu didengar oleh orang tua si wanita, ternyata responnya juga baik. Masalah kuliah dinilai tak akan menjadi penghalang karena si wanita tetap bisa melanjutkan kuliahnya walaupun statusnya menikah.

Demikianlah. Dengan dukungan orangtuanya, si wanita menjadi berpikiran lain. Apalagi Ahmad yang ia lihat memang adalah laki-laki baik, mengerti agama dan memiliki kemampuan untuk menjadi imamnya. Jadi sayang juga kalau dilewatkan. Akhrinya ia menyanggupi tawaran itu, bersedia dilamar dan melangsungkan pernikahan tahun ini juga.

Ahmad sangat bersyukur dengan hal itu. Tak henti ia mengucapkan tahmid. Apalagi, ia tak dibebankan biaya sedikitpun untuk menyelenggarakan pernikahannya. Semuanya ditanggung oleh keluarga besarnya. Tentu ini adalah berkah yang tak terkira, karena ia tak perlu susah-susah mencari uang seperti beberapa orang teman sebayanya yang harus menyiapkan uang sendiri untuk membiayai pernikahan mereka. Dengan berbaju pengatin warna hijau, Ahmad duduk di pelaminan bersama istrinya.

Keyakinan Ahmad pun terbukti. Niat yang baik, ikhtiar yang baik, serta sedekah yang baik, pastilah berbuah sesuatu kebaikan pula. Kini ia mendapat bukti sendiri bagaimana sedekah memang merupakan sebuah pohon subur yang berbuah lebat. Setelah menikah ia semakin merutinkan dirinya untuk senantiasa bersedekah. Sebaik, dan semampu yang ia bisa. [ ]

sumber : disini

Kamis, 07 Juni 2012

Percaya Janji Allah atau Janji syetan?


sedekah“Saya nggak pernah mau memberi pinjaman kalau ada yang datang berhutang..” kata guru saya. Menurutnya, kalau dia meminjamkan uang, bisa jadi uang itu tidak pernah dikembalikan lagi kepadanya. Kalaupun misalnya dikembalikan, tetap saja uang kembali itu hanya sejumlah uang yang dia pinjamkan.

“Beda dengan sedekah. Kalau saya memberi sedekah, minimal akan dikembalikan 10x lipat, dan itu sudah dijanjikan Tuhan dalam Kitab Suci. Jadi daripada dia minjam sama saya, lebih baik saya beri saja dia uang sesuai kebutuhannya dan saya anggap sedekah saja” sambungnya enteng.

Saya hanya bisa tertawa geli mendengar alasannya.. Sekilas seperti bercanda. Tapi saya tahu betul karakter guru saya itu. Dia memang gemar memberi sedekah.. Bahkan dia punya cita- cita memberangkatkan orang lain pergi berhaji sebanyak 100 orang, dan sebagiannya sudah berhasil dia berangkatkan.

Begitulah, kalau sifat dermawan sudah menjadi karakter atau kebiasaan… Buat kita yang baru- baru belajar sedekah, pasti deh banyak mikirnya.. Mau sedekah yang agak gede aja pakai mikir berulang kali.. Trus saking kebanyakan mikirnya, sedekahnya nggak jadi.
Hal lain yang membuat kita berat untuk bersedekah itu selaras dengan keyakinan kita akan janji-Nya. Coba kita perhatikan poin dibawah ini.
- Tuhan berjanji ; “Menikahlah! jika miskin, Aku yang akan mengayakan”.. Yakinkah kita? Kalau yakin, pasti kita buru- buru nikah
- Tuhan berjanji ; “Sedekahlah (beri nafkahlah) maka Aku akan memberi nafkah kepadamu.” Yakinkah kita? Kalau yakin, pasti kita buru- buru sedekah
Mari sejenak kita renungkan dari ayat ini kenapa kita masih kikir?
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. 
Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. ( Al Baqarah 267- 268)
Jadi, kita percaya janji Allah atau janji syaitan? :D

sumber : www.pecintasedekah.com

Matematika Allah


 http://duels.cz/galerie/matematika.jpg

Saat sedang menjalankan tugas negara (begitulah kelakar saya ketika menunaikan tugas kemanusiaan), saya berkesempatan berdiskusi dengan salah satu staf yang menjadi bagian dari tim yang berangkat kali ini.  Sambil meminggirkan mobil, menyeruput es cendol, ditemani semilir angin sawah, saya iseng bertanya, “Agus, saya dengar anda kuliah S-2?” “Iya mas, alhamdulillah satu semester lag,i” jawab agus. “Wah mantap, beasiswa ya?” saya terus menimpali. “Gak mas, biaya sendiri. Walaupun gaji saya habis 70%-nya untuk kuliah, tapi saya percaya matematika Allah karena niat saya meningkatkan kualitas dan menghidupi keluarga pasti akan dibantu oleh yang Maha Kaya,” demikian agus berseloroh meyakinkan saya.

Setiba di rumah malam hari, saya masih merenungi ungkapan tegas rekan saya ini tentang matematika Allah dan kembali ke ingatan saya 5 tahun lalu saat saya iseng menyapa office boy di kantor saya yang baru seminggu menikah.  Usia Jono –demikian saya memanggilnya – baru 19 tahun, menghidupi 2 adik yang masih SMP dan seorang nenek. Ibunya sudah meninggal dan bapaknya entah ke mana pergi. Jono menikahi tetangganya yg berusia 18 tahun. Saat saya tanya kok berani, dia menjawab santai “kan ada Allah yang menjamin hidup saya”.

Hari ini pula saya dipertemukan dengan tukang kerupuk yang tunanetra, Salim yang dengan percaya dirinya berjualan dari gang ke gang, demi menjaga sebuah kemandirian hidup tanpa harus merengek iba kepada setiap orang.  Dari pagi sampai petang bergerilya dibantu tongkat besi yg sudah berkarat, demi sebuah harga diri, dia akan marah bila ada orang yang memberinya uang tapi tidak beli kerupuknya.

“Saya bukan pengemis, saya penjual kerupuk dan saya pantang menerima uang tanpa ada membeli kerupuk saya. Alhamdulillah, dari jualan kerupuk saya bisa ngontrak dan hidupi istri dan anak saya.” Sontak saya bisu sesaat dan emosi saya ada pada titik terendah saat pria ini berhenti bicara.

Saya yakin banyak cerita yang semirip di atas di mana kadang akal kita menangkap ketidakmungkinan seseorang bertahan hidup dengan akses dan kemampuan yang terbatas, logika berfikir kita normatif menyangkal realita yang ada, bahwa seseorang tetap bisa memenuhi kebutuhan dasar dengan situasi yang kita anggap kurang berpihak kepadanya.

Tapi itulah matematika Allah. Matematika yang sukar dinalar lewat perantara otak manusia. Matematika yang justeru menuntun kita untuk senantiasa menjaga derajat syukur kita di hadapan Allah dan mengusik mental kemandirian kita untuk tetap konsisten, optimis dalam menjalankan hidup.  Agus, Jono dan Salim adalah representasi matematika Allah yang harusnya menuntun kita menjadi pribadi yang bertakwa, bersyukur dan optimis dalam meraih kesuksesan dunia akhirat.  Allah jamin rizki hambanya.  … Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (at Thalaq : 3).

Allah berfirman,
“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap tia Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap tiap sesuatu.” (Ath Thalaq: 3)

sumber : disini 

Selasa, 29 Mei 2012

Menolonglah Jika Ingin Ditolong

Di momen tahun baru ini, saya teringat setahun yang lalu saat hari-hari menjelang tahun baru 2011.  Saat itu saya yang kuliah di UGM menghabiskan waktu minggu tenang di rumah saya di Bogor, Jawa Barat. Setelah empat hari di rumah, saya berencana kembali lagi ke Jogja pada 1 Januari 2011 karena pada tanggal 3 Januari UAS akan dimulai.
.
Dua hari sebelum pulang ke Jogja, saya berencana membeli tiket kereta api untuk ke Jogjakarta. Sebenarnya saya ingin membeli tiket tersebut di agen travel, tetapi karena sedang ada gangguan system, maka saya harus langsung membeli tiket di Gambir.

Akhirnya, saya memutuskan untuk berangkat ke Gambir dengan menggunakan kereta dari stasiun Bogor. Setelah membeli tiket Pakuan Express, saya harus menunggu sekitar 45 menit sampai kereta diberangkatkan. Saya menunggu di dalam gerbong kereta sambil membaca koran. Tiket kereta saya masukkan ke dalam dompet supaya tidak hilang. Lima menit sebelum kereta diberangkatkan,  saya berniat mempersiapkan tiket kereta, agar ketika ada petugas yang memeriksa, saya tidak perlu repot-repot mencari lagi.
.
Saat itu saya baru sadar bahwa dompet saya tidak ada. Saya ingat betul dompet itu saya letakkan di pangkuan saya,  tetapi setelah mencari hingga ke kolong kursi, dompet tersebut tidak saya temukan. Karena kereta akan segera diberangkatkan, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari kereta. Tepat ketika saya turun dari kereta, pintu kereta ditutup dan kereta langsung berjalan.
.
Saat itu saya langsung menuju ruang informasi untuk meminta petugas mengumumkan berita kehilangan agar bila ada orang yang menemukan dompet saya, bisa langsung menghubungi petugas stasiun kereta api.
.
Saat itu saya bingung karena di dalam dompet saya, selain uang tunai juga berisi surat-surat penting seperti KTP, KTM, SIM, STNK, dan ATM yang tidak mudah dibuat ulang, harus melalui prosedur yang cukup panjang.
.
Setelah mengabarkan ayah saya, beliau bilang akan segera menjemput saya di stasiun. Ketika sedang menunggu ayah saya, tiba-tiba ada seorang ibu dengan tiga orang anaknya yang terlihat kebingungan. Ada dorongan dalam diri saya untuk menghampiri ibu tersebut. Kepada saya, ibu tersebut bercerita bahwa ia baru saja turun dari kereta ekonomi dan tersadar bahwa tas yang dibawanya sudah dirobek orang dan dompet serta handphone ibu ini dicopet. Ia bilang, ia tidak bisa pulang ke rumahnya karena semua uangnya ia taruh di dompet.
.
Saya pun bercerita kepada ibu itu bahwa saya pun baru kehilangan dompet di kereta. Namun,  saya teringat bahwa saya masih menyimpan uang sebesar Rp20.000 di saku celana. Akhirnya saya tanya kepada ibu itu, berapa ongkos untuk pulang ke rumahnya, dan ibu itu bilang sekitar 15.000. Akhirnya saya berikan semua uang saya agar ibu itu dan anak-anaknya bisa pulang ke rumah. Awalnya ibu tersebut menolak, karena berpikir saya juga memerlukan uang itu untuk pulang, namun setelah saya bilang bahwa saya akan dijemput ayah saya, ibu itu pun mau menerima dan ia mendoakan agar dompet saya dapat ditemukan.
.
Dua hari kemudian, ketika saya sudah di Jogjakarta, saya sedang bingung bagaimana saya harus mengurus surat-surat saya yang hilang, terutama STNK, karena menurut kepolisian, saya harus membuat berita kehilangan di koran atau radio terlebih dahulu jika ingin mengurus pergantian STNK. Di tengah-tengah kebingungan tersebut, saya menerima telepon dari ayah saya bahwa ada seseorang yang datang ke rumah (di Bogor) untuk mengembalikan dompet saya yang hilang di stasiun kereta tersebut.
.
Ayah saya bilang, semua surat-surat saya masih lengkap, tidak ada yang hilang satupun. Rasanya saya tidak percaya bahwa saya tidak perlu repot-repot mengurus pergantian surat-surat saya yang hilang yang tentunya akan sangat merepotkan dan memerlukan waktu lama.
.
Tiba-tiba saya teringat ibu yang waktu itu saya tolong di stasiun kereta. Saya ingat bahwa dia mendoakan agar dompet saya dapat ditemukan kembali. Saat itu saya merasakan kebaikan Allah Swt begitu nyata. Karena saya ikhlas membantu ibu yang sedang kesusahan tersebut, dan rela memberikan uang saya yang tersisa agar ibu itu dan anak-anaknya bisa pulang, Allah Swt membalasnya dengan membuat dompet saya kembali dan saya pun tidak perlu repot-repot mengurus pergantian surat-surat yang hilang.
.
Padahal, saat saya menolong ibu itu, saya tidak berpikir sama sekali Allah akan mengganti uang yang saya berikan kepada Ibu itu dengan balasan yang setimpal untuk saya. Saat itu, saya murni hanya ingin membantu ibu itu dan anak-anaknya agar bisa pulang ke rumah. Setelah dompet saya kembali, saya membayangkan apa jadinya bila Allah tidak bermurah hati kepada saya dengan membuat dompet saya kembali.
.
Tentunya saya akan kehilangan banyak waktu untuk mengurus surat-surat saya yang hilang padahal saat itu saya sedang menjalani UAS. Dan tentunya uang yang saya keluarkan untuk mengurus surat-surat saya yang hilang jumlahnya jauh di atas uang 20.000 yang saya berikan kepada ibu di stasiun itu.
.
Setelah mengalami keajaiban sedekah itu, terkadang “memancing rezeki” dengan bersedekah saya gunakan sebagai salah satu ikhtiar saya untuk mendapatkan sesuatu yang saya inginkan :D 

sumber : disini

Minggu, 27 Mei 2012

The Joy of Giving

What is the ultimate purpose of life? It's to give. Start giving. See the joy of giving. - Narayanan Krishnan
 
Lahir di Madurai, Tamil Nadu pada tahun 1981. Narayanan Krishnan bekerja sebagai seorang koki dan memenangkan penghargaan kemudian terpilih untuk bekerja di sebuah hotel yang elit di Swiss. Dan sebelum ia berangkat ke Eropa, ia berkunjung ke keluarganya. Pada waktu itulah ia melihat seorang lansia yang kelaparan dan memakan limbah dari kemanusiaannya. Lalu, ia bergegas ke hotel terdekat dan bertanya apa yang mereka punya saat itu, kemudian ia memberikan makanan itu kepada lansia tersebut. Ia berkata, "Percayalah, saya belum pernah melihat orang makan dengan begitu cepat, dan saat ia memakan makanan itu, matanya berkaca-kaca. Itu adalah airmata kebahagiaan."

Pada tahun 2002, Krishnan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Dan ingin melayani tunawisma di Madurai, Tamil Nadu. Pada tahun 2003, ia berhasil mendirikan organisasi non-profitnya yang bernama Akshaya Trust yang membantu untuk memberi makan kepada para tuna wisma dan cacat mental di Madurai. Ia menyediakan sarapan, makan siang dan makan malam untuk 400 fakir miskin dan lansia. Ia juga membantu mereka menggunting rambut, mencukur dan memandikan dengan tujuan untuk memberikan martabat lebih untuk orang-orang yang dilayaninya.

Ia tidak hanya memasak sendiri, ia juga menghantar dan tidak segan untuk memeluk dan menyuapi mereka yang sangat haus dan lapar akan kasih sayang. Krishnan terpilih menjadi TOP 10 di CNNHeroes 2010.
Ia tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang pahlawan. Ia sekarang menjadi pahlawan pun bukan seperti pahlawan yang ada di film-film seperti Superman, atau Spiderman. Ia benar-benar pahlawan yang nyata di dunia. Iatidak pernah menyangka bahwa ia akan menjadi seorang pahlawan bagi banyak orang. Karena pada awalnya ia berpikir, ia bisa memberikan makan kepada banyak tamu di hotel, masakan ia membiarkan orang-orangnya hidup dalam kelaparan di luar sana ? Ia ingin terus turun ke jalan-jalan dan memberikan makanan kepada mereka yang terlupakan, yang terabaikan, terlebih ia ingin memberikan kasih kepada mereka.
 
Memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi pekerja sosial seperti yang dilakukan oleh Krishnan bukan sesuatu yang mudah. Bahkan sulit sekali untuk di lakukan. Tetapi, Krishnan mengajak kita semua untuk mulai memberi dan rasakan kebahagiaan dengan memberi. Mulailah dari hal yang kecil. Dan mulailah dari lingkungan kita sendiri. Bukan hanya sekadar memberi makanan atau nominal uang, tetapi kasih dan perlakuan yang tulus yang Anda berikan, itu adalah yang terpenting dalam memberi. See and feel the joy of giving.

Krishnan berkata, "Food is one part. Love is another part. So, the food will give them physical nutrition. The love and affection which you show will give them mental nutrition."

sumber : disini

Selasa, 22 Mei 2012

Tangan-tangan Tidak Terlihat

Greeting from Melbourne! Sekarang saya sedang ada di Melbourne dan pengen sharing gimana ceritanya saya bisa sampai di sini. Selain karena “the power of mind setting”, saya bisa sampai disini karena “tangan-tangan tidak terlihat”.
.
Sebenernya saya juga ga tau kenapa memilih Melbourne sebagai kota yang dituju, walaupun yang tinggal di sini kebanyakan bilang kota ini hidupnya cuma sampe jam 5 sore. Dan ternyata emang bener! Tadi sore saya baru aja ke Melbourne Central dan sekitar jam 5an mereka sudah siap-siap mau tutup toko.
.
Jadi begini ceritanya, di kampus saya memang mengharuskan setiap muridnya untuk melakukan internship atau magang. Seperti kebanyakan orang, beberapa bulan kemaren saya mencoba apply ke beberapa perusahaan yang ada di Melbourne. Seperti jalanan yang tidak selalu mulus, begitu juga nasib aplikasi lamaran pekerjaan saya. Ada yang nolak lah, ada yang ga bales lah, dll.
.
Sampai akhirnya ada satu perusahaan yang membalas email saya. Awalnya mereka minta sample kerjaan yang pernah saya buat. Pertamanya agak ga pede gitu buat ngasih, tapi setelah dapet dorongan yang gede banget dari orang-orang terdekat, saya pun memberanikan diri untuk ngasih ke mereka, dan ternyata mereka suka! Senengnya ga kebeli lho, dan dari situ saya belajar banyak dari orang bule yang menghargai hasil karya orang.
.
Setelah saya kirim hasil kerjaan, mereka jadi ngegantung ga jelas gitu. Saya sempet cerita ke kakak, dan dia bilang, “keep positive thinking aja. Berusaha dan berdoa maksimal, hasil akhirnya nanti biar Allah yang atur.” Saya pun juga sudah mengilhami dalam-dalam kata-kata ini. Saya percaya bahwa semua memang sudah ada yang mengatur, yang penting kita berusaha dan berdoa maksimal.
.
Kalo kata Muhammad Assad di blog Notes From Qatar waktu dia ingin mengejar cita-cita, “Kalo emang dibolehin kesana, pasti Allah akan mempermudah segala sesuatunya. Kalo ga dibolehin, coba berdoa lagi ke Allah minta dipikirin lagi karena saya pengen banget kesana.” Agak konyol sih, tapi ya bener juga.
.
Di masa-masa menunggu, saya coba memastikan lagi dengan nanya ke mereka, “Could you be specifically explain me what to do next? So I can meet your expectation. Thank you and look forward to receiving your reply.” Langsung saya pencet SENT!
.
Ditunggu-tunggu mereka balesnya agak lama juga hampir sekitar seminggu. Gila seminggu itu gw deg-degan mampus. Tiap kali buka email takut. Galau. Ah masa-masa itu..
.
Ga disangka, waktu dia bales, dia nanya-nanya detail gitu saya mau tinggal dimana nanti di Melbourne, bisa kerjanya mulai bulan apa, dst. Yak, makin digantung aja saya, soalnya dia ngasih statement yang bilang, “Yes we accept you to work in our company.” Dapet balesan gitu saya jadi rancu, takut disangka kepedean.
.
Saya pun lalu memberanikan diri untuk bertanya, “I just would like to confirm, are you accepting me to work as intern?” dan mereka menjawab, “Yes we are accepting you to do internship here.” Kira-kira seperti ini jawaban mereka.
.
25 March 2011
Dear Jessica,
Liqouid would be pleased to offer you an internship at our design studio in Melbourne during the month of May and June.
Yours sincerely,
Sue Palmer
Director
.
Wowww!! Ga nyangka!! Saya inget banget terima email itu pas lagi di kelas, dan saya pun senyum-senyum sendiri ga jelas hahaha.. Abis itu ada lagi yang bikin saya pusing yaitu soal visa dan segala tetekbengeknya itu. Walaupun rencananya internship 2 bulan, tapi ternyata embassy cuma ngasih sebulan. Yaudah lah gpp juga, yang penting pengalamannya.
.
Inilah ruang kerja saya selama internship di Melbourne.
.

Kalau saya ingat-ingat lagi, banyak cara yang saya lakukan buat sampe ke Melbourne. Believe it or not, ini bukan cara-cara yang ribet tapi sangat simple, yaitu mind setting. Menurut saya ini keren banget, karena setelah ngeliat hasilnya saya bener-bener kaget dan ga percaya! I call this, “The power of mind setting”.
.
Pertama-tama dengan menempel notes kecil di depan meja belajar dengan tulisan “Internship in Australia”. Hal ini untuk memotivasi karena lebih mudah untuk divisiualisasikan. Kedua, sama seperti yang Kak Assad selalu bilang, SEDEKAH. Iseng-iseng saya coba praktekkin.
.
Jadi waktu menunggu jawaban dari perusahaan tempat magang itu, saya pergi ke supermarket, dan ngeliat ada orang jualan tissue gitu di pinggir jalan. Di dompet saya waktu itu cuma ada sekitar S$25 karena ya emang ga rencana mau belanja banyak. Akhirnya saya pake duit untuk belanja S$10 aja dan sisanya saya sedekahin untuk orang yang jualan tissue tadi itu, yang buka lapak di deket MRT (Mass Rapid Transportation).
.
Harga tissuenya sih cuma S$1, tapi saya kasih dia S$15. Sebenernya sih ga seberapa ya cuma S$15 dolar. Cuma karena waktu itu kondisinya duit saya emang tinggal segitunya dan saya bener-bener tulus ngasihnya. Ditambah lagi orang itu sangat terlihat bahagia waktu dapet duit itu. Dia bilang, “Thank you so much, God bless you.” Ahhh.. I suddenly feel so blessed!
.
Setelah ngeliat hasilnya yang sangat luar biasa, saya jadi teringat kata-kata nyokap dan Kak Assad yang selalu nanemin setiap orang untuk bersedekah. Nyokap pernah bilang, “Itulah alasan kenapa orang harus terus berbuat baik. Dengan berbuat baik, maka akan semakin banyak tangan-tangan tidak terlihat yang menolong kita kapanpun dan dimanapun, atau ada aja rezeki yang datang ke kita.”
.
Mungkin bisa dibilang seperti hukum tabur tuai. Contoh misalkan kita nanam jambu, ya pasti tumbuhnya juga jambu kan? Ga mungkin tumbuhnya jadi apel atau manga. Sama saja saat kita menanam kebaikan atau kejahatan, hasilnya akan sama persis dengan apa yang kita tanam. Jadi jangan merasa pernah rugi saat menolong orang lain atau berbuat kebaikan, karena yang akan memetik hasilnya itu kita sendiri.
.
Tenang aja, semua kebaikan kita sudah pasti akan dicatat dan pasti akan dibayar lunas sama Tuhan, dan mungkin saja plus bonus. Akhirnya saya merasa sangat bersyukur bisa mendapat kesempatan magang di Melbourne. Pengalaman dan gaji yang saya terima jauh banget kalo dibandingkan dengan sedekah saya yang ‘cuma’ S$15. Balasan dari sedekah memang sangat luar biasa!
.
Ini beberapa foto sebelum balik ke Indonesia. Foto pertama di tempat duduk besar bernama The Giant’s Chair. Gede banget emang kursinya.
.
Foto kedua waktu bareng 2 bos saya, mereka ngajak ke salah satu tempat terkenal gitu di Melbourne bernama Great Ocean Road. Kok malah kaya foto Ayah, Ibu dan anak ya? Hehehe…
.
Lastly thanks for sharing many stories about sedekah, Kak. Even though I am not a muslim, but I prove it so many times about the power of sedekah and it works! :) 

Sumber : disini 

Selasa, 15 Mei 2012

Sedekah Mobil Semua Lancar (Pengalaman Anwar Sani)


Tahun 2004 itu saya beringinan memiliki sebuah mobil. Lalu saya pun membayar uang muka, yang hasil dari utang. Dan cicilan mobil, saya minta paling lama. Agar cicilan terbayar, mobil pun saya sewakan. Tapi, cicilan mobil tidak selalu mulus, saya tertatih membayarnya karena penyewa sering telat membayar. Belum lagi, mobil saya pernah hilang selama dua bulan oleh penyewa. Saya dibuat pusing karena cukup berat mencicilnya. Tidak tahan den­gan masalah cicilan, saya sampaikan hal ini kepada ustadz Mansyur. Hasil diskusi, ustadz Masyur bilang, cara saya mencicil itu cara lama. Kalau mau lancar, mobil harus disedekah­kan. Ucapannya tentu bikin saya terkejut. Bagaimana mungkin mobil yang saya cicil dengan susah payah itu disedekahkan? Yang benar saja. Tapi katanya lagi, Allah yang akan membayar. Saya tambah terkejut. Saya tahu konsep sedekah, tapi kan tidak begini-begini amat deh.

Tapi akhirnya mobil saya sede­kahkan jua, ke sebuah pesantren. Itulah sedekah terbesar saya yang pernah saya lakukan. Tapi semenjak itu rezeki saya berkecukupan. Cicilan selalu teratasi dan ada saja jalannya. Yang tidak saya sangka, ada orang Freeport melihat keberhasilan mana­jemen AAPU (Al Azhar Peduli Ummat , red), lalu meminta saya pin­dah ke sana untuk mengelola lem­baga zakat Freeport. Saya ditawari gaji tinggi plus fasilitas memadai. Tapi pengurus AAPU menahan saya dan gaji saya dinaikan 80 persen. Cicilan mobil makin lancer, bahkan saya mendapat mobil dari AAPU.

sumber : internet 


Senin, 14 Mei 2012

Sedekah Mengantarkan Ke Negeri Tulip

Mau cerita sedikit nih soal campaign sedekah dari Notes From Qatar dimana saya jadi salah satu “korban beruntungnya” Alhamdulillah.. :)
.
Awalnya saya ketemu blog and promosi buku Notes From Qatar ini dari akun twitternya penyanti muda favorit saya, Andien. Terus saya pesen deh buku Notes From Qatar edisi pertama itu plus dapet tanda tangan dari penulisnya, Mas Assad. Jujur aja,pertama kali baca buku itu saya antara kagum dan ragu. Kagum karena cerita-cerita yang ditulis Mas Assad bener-bener banyak kekuasaan dan campur tangan Allah yang luar biasa. Ragu karena apa iya semua orang bisa seberuntung Mas Assad???!!
.
Sampai pada sekitar setahun kemudian, saya tiba-tiba membaca ulang buku Notes From Qatar ini dan saya memutuskan untuk mencoba teori sedekah yang Mas Assad ceritakan di buku itu. Kebetulan waktu itu saya baru saja mendapatkan panggilan dari kantor untuk mengikuti seleksi short course kerja sama kantor saya dengan Pemerintah Belanda. Sebenarnya short course yang ditawarkan itu berkaitan dengan Legal Drafting, sedangkan pekerjaan saya sehari-hari jauh sekali dari urusan ngedraft peraturan.
.
Terlebih lagi, pegawai lain yang mengikuti seleksi short course itu banyak yang sudah eselon IV ke atas atau kalau pun masih staf seperti saya kebanyakan berasal dari unit kerja yang sehari-harinya memang bergelut di bidang peraturan atau masalah hukum. Tapi kata-kata Belanda membuat saya bersemangat untuk mendaftar, karena Belanda adalah salah satu negara impian yang ingin saya kunjungi sejak masa kuliah. Saya juga pernah iseng kursus bahasa Belanda dengan bermimpi siapa tau suatu saat nanti saya bisa ke Belanda. Saya juga suka sekali membaca buku Diary of Anne Frank, bahkan sering berkhayal kalau suatu saat nanti saya bisa berkunjung ke Museum Anne Frank di Amsterdam hehe..
.
Jadi, bismillah sajalah, saya ikuti tes seleksinya dan mencoba teori sedekah yang  ada di buku NFQ. Saya yang biasa bersedekah hanya puluhan ribu, kali ini mencoba bersedekah dengan nilai ratusan ribu, dan yang paling penting saat bersedekah itu saya selipkan doa: “Ya Allah, saya pengen banget dapet short course ke Belanda, Amiiiin..” Jujur saja, baru kali itu loh saya sedekah dengan “pamrih” yang nyata-nyata saya sebutkan.hehe.. Tapi kan di NFQ bilang,kalo kita emang punya keinginan ya sebutin aja,toh kita mintanya kan sama Allah,Tuhan kita sendiri, Yang Maha Segalanya.

Selepas tes seleksi, diberitahu bahwa pengumuman hasilnya akan disampaikan sekitar 2 minggu kemudian. Saya menunggu pengumumannya tidak juga ada kabar. Sampai akhirnya saya memperoleh informasi dari seorang teman bahwa yang mendapatkan short course itu adalah teman-teman dari unit kerja perundang-undangan. Hmm,,ya sudahlah mungkin belum rejeki saya dan teori sedekah itu belum terjadi pada diri saya, ternyata saya tidak seberuntung Mas Assad dalam buku NFQ nya.
.
Dua bulan kemudian, pada suatu sore, saya mendapatkan SMS dari sekretaris atasan saya yang menyampaikan ucapan selamat karena ada surat panggilan yang menyatakan bahwa saya menjadi salah satu peserta short course yang akan berangkat ke Belanda. 

Reaksi pertama saya tentu saja kaget dan tidak percaya, sampai saya meminta kepada mba sekretaris buat baca bener-bener dan teliti surat tersebut, bahkan saya sempat berpikir itu bukan surat panggilan melainkan surat pengembalian berkas pendaftaran saya. Sampai pada esok harinya,saya menerima surat tersebut di atas meja saya dan membaca sendiri surat panggilan tersebut.
.
Astaghfirullah,,saya mohon ampun sama Allah karena sempat merasa ragu akan kuasa-Nya. Dan Subhanallah,,bahwa memang Allah tuh punya sejuta cara buat mengabulkan permohonan hamba-Nya. Saya mengikuti short course tersebut selama satu bulan di Belanda. Ya, Belanda, impian saya. Belajar dan mengunjungi tempat-tempat yang dulu cuma ada di benak saja,feels like dream comes true. Dan yang paling luar biasa adalah, ini menjadi kado ulang tahun yang indah dari Allah buat saya, karena saya berangkat ke Belanda tepat sehari setelah hari ulang tahun saya.
.
Thanks ya Mas Assad dan bukunya yang begitu menginspirasi..Yuks temen-temen kita perbanyak sedekah!

sumber : disini