Tampilkan postingan dengan label sedekah kaya raya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sedekah kaya raya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 September 2012

Sembuh dari Gagal Ginjal


Ada seorang wanita yang mengalami gagal ginjal -–kita memohon kepada Allah, semoga Dia memberikan keselamatan, kesehatan, dan kesembuhan bagi kaum muslimin yang sakit–. Ia sudah berulang kali memeriksakan dan mengobatkan sakit yang dideritanya tersebut. Akhirnya, ia mencari-cari sekiranya ada orang yang mau merelakan ginjalnya untuk disumbangkan kepada dirinya, ia siap membayar dengan uang sejumlah 20.000 riyal.
 
Tersebarlah berita tersebut di kalangan orang-orang ketika itu, hingga ada salah seorang wanita yang mendengar kabar tersebut yang akhirnya langsung menuju ke rumah sakit untuk mendonorkan ginjalnya. Ia menyetujui seluruh ketentuan-ketentuan yang diajukan kepadanya sebelum menjalani operasi.
 
Di hari yang telah ditentukan, perempuan yang sakit tersebut menemui sang pendonor, ternyata ia sedang menangis. Karena heran melihat keadaannya, ia pun bertanya, “Apakah Anda merasa terpaksa dan keberatan dengan operasi yang akan Anda jalani?” Wanita pendonor itu berkata, “Sebenarnya tidak ada yang mendorongku untuk mendonorkan ginjalku selain kemiskinan yang menimpa diriku dan karena aku sangat membutuhkan uang.”
 
Wanita pendonor itu kembali menangis tersedu-sedu, maka wanita yang sedang sakit itu menenangkannya dengan mengatakan, “Silahkan engkau ambil uang ini, dan aku tidak menghendaki sesuatu pun darimu…”. Beberapa hari kemudian perempuan yang sakit tersebut kembali ke rumah sakit. Ketika tim dokter memeriksa penyakitnya, begitu terkejutnya mereka, karena tidak mendapati sedikit pun bekas sakit pada dirinya. Al-hamdulillah, ternyata Allah telah menyembuhkannya.
 
Sumber : disini

Senin, 06 Agustus 2012

Paling Paling

Oleh : Anwar Sani 

Kalau kata orang Betawi, Carlos Slim Helu paling-paling dah. Bagaimana tidak. Dalam tiga tahun terakhir berturut-turut, pengusaha Meksiko ini selalu jadi orang paling kaya di dunia versi Majalah Forbes (9/3/2012). Tahun ini, harta kekayaannya mencapai $69 miliar. Jurnlah in! setara dengan Rp 627,84 Triliun atau sepertiga jumlah utang luar negeri Indonesia.

Selain itu, Helu juga dinobatkan sebagai orang paling dermawan di dunia. Tahun ini, meski hartanya berkurang $5 miliar daripada tahun lalu akibat turunnya harga saham raksasa telekomunikasi America Movil miliknya, tetap saja Helu menyumbangkan 90% kekayaannya melalui Yayasan Carlos Slim dan Yayasan Telmex.



Li Ka-Shingjuga orang yang paling-paling. Masih menurut Forbes, dia orang Asia pating kaya pada tahun 2012. Bahkan pengusaha Hongkong ini terrnasuk dalam jajaran 10 orang paling kaya di dunia dengan total kekayaan US$ 25,5 miliar dan memiliki 270.000 orang tenaga kerja yang tersebar di 53 negara.

Dia pun orang paling dermawan di Asia. Melalui Li Ka-Shing Foundation, CEO Cheung Kong Holdings Limited dan Hutchison Whampoa Limited ini menyumbangkan lebih dari US$ 1,6 miliar untuk mengembangkan pendidikan dan penelitian medis.

Joe Vitale, penulis spiritual marketing, menyimpulan bahwa semakin kita rela dan banyak bersedekah, semakin banyak pula yang kita dapatkan. Lihatlah, selalu saja orang-orang paling dermawan di dunia, juga adalah yang paling kaya di dunia.

Majalah Fortune pernah merilis daftar manusia paling tajir di muka burni pada 2007, berturut-turut adalah : Carlos Slim Helu dengan kekayaan 60 Milyar USD,William Henry Gates III alias Bill Gates dengan : 58 milyar USD, dan Warren Buffet dengan 42 Milyar . Ternyata, di tahun yang sama mereka bertiga pula manusia yang paling banyak berderma.



Itu bukan kebetulan. Benar, para rnilyuner kelas dunia itu telah bekerja keras untuk mendapatkan rejekinya di dunia.Tapi sebagian dari sukses besar mereka juga merupakan feed back dari derma mereka yang sangat besar. Sebab, Allah adalah Ar-Rahman, yaitu Yang Maha Pengasih terhadap seluruh makhluk (Tafsir Basmalah dalam Kitab Tafsir ibnu Jarir Ath-Thabari).

Sifat Allah SWT itu diakui Joe Vitale. Dla bilang, 'To give in order to get" adalah suatu hukum universal (sunatullah sosial) seperti yang terangkum dalam bukunya The Greatest Money-Making Secret secret in  History!

Kita bersyukur, yang paling dermawan dari berbagai umat beragarna di dunia, tetaplah kaum muslimin. Hasil survei The CNN Wire, London, pada 20 Juli 2011, menyebutkan, di antara berbagai agama, umat Islam memiliki persentasi kedermawanan tertinggi yakni 61 persen. Sedangkan Kristiani 24 persen, Budha 20 persen, dan Hindu 33 persen.

Lebih bersyukur lagi, di antara Negeri Muslim, Indonesia meraih kedermawanan dengan motivasi agama tertinggi. Sebanyak 91 persen Muslim Indonesia paling dermawan dibanding Arab Saudi 71 persen dan Turki yang hanya 33 persen.

Hasil itu tidak mengherankan, karena penelitian sebelumnya sudah menyatakan bahwa Bangsa Indonesia yang mayoritas (88,2%) Muslim adaiah bangsa paling gemar bersedekah dalam bentuk senyum. Sebagaimana wasiat Nabi Muhammad SAW: "Senyummu kepada saudaramu adaiah sedekah" (HR Imam Tirmidzi).

Berdasarkan hasil survei The Smiling Report 2009 yang dilansir AB Better Business yang berbasis di Swedia, Indonesia adaiah negara paling murah senyum di dunia dengan skor 98%.

Tapi, senyuman saja tidak mengenyangkan tetangga yang kelaparan. Padahal, pesan Nabi SAW, laisal mu'minu billadzii yasyba'u wajaaruhu ja'al 'uniloa dzanbihii. "Bukanlah berlman orang yang kenyang perutnya, sedangkan tetangganya kelaparan hingga tampak tulang rusuknya" (HR Bukhari dari Ibnu Abbas ra).

Karena itu, kita wabil khusus para pengusaha Muslim, harus iri pada prestasi kedermawanan orang-orang seperti Carlos Helu dan Ka-Shing. Kata Rasulullah, "Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu orang yang Allah berikan harta lalu ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu lalu ia mengajarkannya kepada orang lain" (HR Muslim dari Ibnu Mas'ud ra).

Maka marilah kita panjatkan Al Fatihah untuk para pengusaha dermawan Indonesia seperti Sandiaga Salahuddin Uno (Saratoga Capital), A Pramono (Ayam Bakar Mas Mono), Jody Broto Suseno (Waroeng Steak), Supriyanto (Sanaya Cake&Bakery), dan lain-lain. Semoga kelak mereka termasuk dalam jajaran orang yang paling-paling dah.

Sumber : DAQU Edisi 002 - tahun V - Mei 2012/Jumadil Akhir 1433 H 

Kamis, 07 Juni 2012

Percaya Janji Allah atau Janji syetan?


sedekah“Saya nggak pernah mau memberi pinjaman kalau ada yang datang berhutang..” kata guru saya. Menurutnya, kalau dia meminjamkan uang, bisa jadi uang itu tidak pernah dikembalikan lagi kepadanya. Kalaupun misalnya dikembalikan, tetap saja uang kembali itu hanya sejumlah uang yang dia pinjamkan.

“Beda dengan sedekah. Kalau saya memberi sedekah, minimal akan dikembalikan 10x lipat, dan itu sudah dijanjikan Tuhan dalam Kitab Suci. Jadi daripada dia minjam sama saya, lebih baik saya beri saja dia uang sesuai kebutuhannya dan saya anggap sedekah saja” sambungnya enteng.

Saya hanya bisa tertawa geli mendengar alasannya.. Sekilas seperti bercanda. Tapi saya tahu betul karakter guru saya itu. Dia memang gemar memberi sedekah.. Bahkan dia punya cita- cita memberangkatkan orang lain pergi berhaji sebanyak 100 orang, dan sebagiannya sudah berhasil dia berangkatkan.

Begitulah, kalau sifat dermawan sudah menjadi karakter atau kebiasaan… Buat kita yang baru- baru belajar sedekah, pasti deh banyak mikirnya.. Mau sedekah yang agak gede aja pakai mikir berulang kali.. Trus saking kebanyakan mikirnya, sedekahnya nggak jadi.
Hal lain yang membuat kita berat untuk bersedekah itu selaras dengan keyakinan kita akan janji-Nya. Coba kita perhatikan poin dibawah ini.
- Tuhan berjanji ; “Menikahlah! jika miskin, Aku yang akan mengayakan”.. Yakinkah kita? Kalau yakin, pasti kita buru- buru nikah
- Tuhan berjanji ; “Sedekahlah (beri nafkahlah) maka Aku akan memberi nafkah kepadamu.” Yakinkah kita? Kalau yakin, pasti kita buru- buru sedekah
Mari sejenak kita renungkan dari ayat ini kenapa kita masih kikir?
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. 
Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. ( Al Baqarah 267- 268)
Jadi, kita percaya janji Allah atau janji syaitan? :D

sumber : www.pecintasedekah.com

Matematika Allah


 http://duels.cz/galerie/matematika.jpg

Saat sedang menjalankan tugas negara (begitulah kelakar saya ketika menunaikan tugas kemanusiaan), saya berkesempatan berdiskusi dengan salah satu staf yang menjadi bagian dari tim yang berangkat kali ini.  Sambil meminggirkan mobil, menyeruput es cendol, ditemani semilir angin sawah, saya iseng bertanya, “Agus, saya dengar anda kuliah S-2?” “Iya mas, alhamdulillah satu semester lag,i” jawab agus. “Wah mantap, beasiswa ya?” saya terus menimpali. “Gak mas, biaya sendiri. Walaupun gaji saya habis 70%-nya untuk kuliah, tapi saya percaya matematika Allah karena niat saya meningkatkan kualitas dan menghidupi keluarga pasti akan dibantu oleh yang Maha Kaya,” demikian agus berseloroh meyakinkan saya.

Setiba di rumah malam hari, saya masih merenungi ungkapan tegas rekan saya ini tentang matematika Allah dan kembali ke ingatan saya 5 tahun lalu saat saya iseng menyapa office boy di kantor saya yang baru seminggu menikah.  Usia Jono –demikian saya memanggilnya – baru 19 tahun, menghidupi 2 adik yang masih SMP dan seorang nenek. Ibunya sudah meninggal dan bapaknya entah ke mana pergi. Jono menikahi tetangganya yg berusia 18 tahun. Saat saya tanya kok berani, dia menjawab santai “kan ada Allah yang menjamin hidup saya”.

Hari ini pula saya dipertemukan dengan tukang kerupuk yang tunanetra, Salim yang dengan percaya dirinya berjualan dari gang ke gang, demi menjaga sebuah kemandirian hidup tanpa harus merengek iba kepada setiap orang.  Dari pagi sampai petang bergerilya dibantu tongkat besi yg sudah berkarat, demi sebuah harga diri, dia akan marah bila ada orang yang memberinya uang tapi tidak beli kerupuknya.

“Saya bukan pengemis, saya penjual kerupuk dan saya pantang menerima uang tanpa ada membeli kerupuk saya. Alhamdulillah, dari jualan kerupuk saya bisa ngontrak dan hidupi istri dan anak saya.” Sontak saya bisu sesaat dan emosi saya ada pada titik terendah saat pria ini berhenti bicara.

Saya yakin banyak cerita yang semirip di atas di mana kadang akal kita menangkap ketidakmungkinan seseorang bertahan hidup dengan akses dan kemampuan yang terbatas, logika berfikir kita normatif menyangkal realita yang ada, bahwa seseorang tetap bisa memenuhi kebutuhan dasar dengan situasi yang kita anggap kurang berpihak kepadanya.

Tapi itulah matematika Allah. Matematika yang sukar dinalar lewat perantara otak manusia. Matematika yang justeru menuntun kita untuk senantiasa menjaga derajat syukur kita di hadapan Allah dan mengusik mental kemandirian kita untuk tetap konsisten, optimis dalam menjalankan hidup.  Agus, Jono dan Salim adalah representasi matematika Allah yang harusnya menuntun kita menjadi pribadi yang bertakwa, bersyukur dan optimis dalam meraih kesuksesan dunia akhirat.  Allah jamin rizki hambanya.  … Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (at Thalaq : 3).

Allah berfirman,
“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap tia Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap tiap sesuatu.” (Ath Thalaq: 3)

sumber : disini 

Selasa, 29 Mei 2012

Menolonglah Jika Ingin Ditolong

Di momen tahun baru ini, saya teringat setahun yang lalu saat hari-hari menjelang tahun baru 2011.  Saat itu saya yang kuliah di UGM menghabiskan waktu minggu tenang di rumah saya di Bogor, Jawa Barat. Setelah empat hari di rumah, saya berencana kembali lagi ke Jogja pada 1 Januari 2011 karena pada tanggal 3 Januari UAS akan dimulai.
.
Dua hari sebelum pulang ke Jogja, saya berencana membeli tiket kereta api untuk ke Jogjakarta. Sebenarnya saya ingin membeli tiket tersebut di agen travel, tetapi karena sedang ada gangguan system, maka saya harus langsung membeli tiket di Gambir.

Akhirnya, saya memutuskan untuk berangkat ke Gambir dengan menggunakan kereta dari stasiun Bogor. Setelah membeli tiket Pakuan Express, saya harus menunggu sekitar 45 menit sampai kereta diberangkatkan. Saya menunggu di dalam gerbong kereta sambil membaca koran. Tiket kereta saya masukkan ke dalam dompet supaya tidak hilang. Lima menit sebelum kereta diberangkatkan,  saya berniat mempersiapkan tiket kereta, agar ketika ada petugas yang memeriksa, saya tidak perlu repot-repot mencari lagi.
.
Saat itu saya baru sadar bahwa dompet saya tidak ada. Saya ingat betul dompet itu saya letakkan di pangkuan saya,  tetapi setelah mencari hingga ke kolong kursi, dompet tersebut tidak saya temukan. Karena kereta akan segera diberangkatkan, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari kereta. Tepat ketika saya turun dari kereta, pintu kereta ditutup dan kereta langsung berjalan.
.
Saat itu saya langsung menuju ruang informasi untuk meminta petugas mengumumkan berita kehilangan agar bila ada orang yang menemukan dompet saya, bisa langsung menghubungi petugas stasiun kereta api.
.
Saat itu saya bingung karena di dalam dompet saya, selain uang tunai juga berisi surat-surat penting seperti KTP, KTM, SIM, STNK, dan ATM yang tidak mudah dibuat ulang, harus melalui prosedur yang cukup panjang.
.
Setelah mengabarkan ayah saya, beliau bilang akan segera menjemput saya di stasiun. Ketika sedang menunggu ayah saya, tiba-tiba ada seorang ibu dengan tiga orang anaknya yang terlihat kebingungan. Ada dorongan dalam diri saya untuk menghampiri ibu tersebut. Kepada saya, ibu tersebut bercerita bahwa ia baru saja turun dari kereta ekonomi dan tersadar bahwa tas yang dibawanya sudah dirobek orang dan dompet serta handphone ibu ini dicopet. Ia bilang, ia tidak bisa pulang ke rumahnya karena semua uangnya ia taruh di dompet.
.
Saya pun bercerita kepada ibu itu bahwa saya pun baru kehilangan dompet di kereta. Namun,  saya teringat bahwa saya masih menyimpan uang sebesar Rp20.000 di saku celana. Akhirnya saya tanya kepada ibu itu, berapa ongkos untuk pulang ke rumahnya, dan ibu itu bilang sekitar 15.000. Akhirnya saya berikan semua uang saya agar ibu itu dan anak-anaknya bisa pulang ke rumah. Awalnya ibu tersebut menolak, karena berpikir saya juga memerlukan uang itu untuk pulang, namun setelah saya bilang bahwa saya akan dijemput ayah saya, ibu itu pun mau menerima dan ia mendoakan agar dompet saya dapat ditemukan.
.
Dua hari kemudian, ketika saya sudah di Jogjakarta, saya sedang bingung bagaimana saya harus mengurus surat-surat saya yang hilang, terutama STNK, karena menurut kepolisian, saya harus membuat berita kehilangan di koran atau radio terlebih dahulu jika ingin mengurus pergantian STNK. Di tengah-tengah kebingungan tersebut, saya menerima telepon dari ayah saya bahwa ada seseorang yang datang ke rumah (di Bogor) untuk mengembalikan dompet saya yang hilang di stasiun kereta tersebut.
.
Ayah saya bilang, semua surat-surat saya masih lengkap, tidak ada yang hilang satupun. Rasanya saya tidak percaya bahwa saya tidak perlu repot-repot mengurus pergantian surat-surat saya yang hilang yang tentunya akan sangat merepotkan dan memerlukan waktu lama.
.
Tiba-tiba saya teringat ibu yang waktu itu saya tolong di stasiun kereta. Saya ingat bahwa dia mendoakan agar dompet saya dapat ditemukan kembali. Saat itu saya merasakan kebaikan Allah Swt begitu nyata. Karena saya ikhlas membantu ibu yang sedang kesusahan tersebut, dan rela memberikan uang saya yang tersisa agar ibu itu dan anak-anaknya bisa pulang, Allah Swt membalasnya dengan membuat dompet saya kembali dan saya pun tidak perlu repot-repot mengurus pergantian surat-surat yang hilang.
.
Padahal, saat saya menolong ibu itu, saya tidak berpikir sama sekali Allah akan mengganti uang yang saya berikan kepada Ibu itu dengan balasan yang setimpal untuk saya. Saat itu, saya murni hanya ingin membantu ibu itu dan anak-anaknya agar bisa pulang ke rumah. Setelah dompet saya kembali, saya membayangkan apa jadinya bila Allah tidak bermurah hati kepada saya dengan membuat dompet saya kembali.
.
Tentunya saya akan kehilangan banyak waktu untuk mengurus surat-surat saya yang hilang padahal saat itu saya sedang menjalani UAS. Dan tentunya uang yang saya keluarkan untuk mengurus surat-surat saya yang hilang jumlahnya jauh di atas uang 20.000 yang saya berikan kepada ibu di stasiun itu.
.
Setelah mengalami keajaiban sedekah itu, terkadang “memancing rezeki” dengan bersedekah saya gunakan sebagai salah satu ikhtiar saya untuk mendapatkan sesuatu yang saya inginkan :D 

sumber : disini

Minggu, 27 Mei 2012

The Joy of Giving

What is the ultimate purpose of life? It's to give. Start giving. See the joy of giving. - Narayanan Krishnan
 
Lahir di Madurai, Tamil Nadu pada tahun 1981. Narayanan Krishnan bekerja sebagai seorang koki dan memenangkan penghargaan kemudian terpilih untuk bekerja di sebuah hotel yang elit di Swiss. Dan sebelum ia berangkat ke Eropa, ia berkunjung ke keluarganya. Pada waktu itulah ia melihat seorang lansia yang kelaparan dan memakan limbah dari kemanusiaannya. Lalu, ia bergegas ke hotel terdekat dan bertanya apa yang mereka punya saat itu, kemudian ia memberikan makanan itu kepada lansia tersebut. Ia berkata, "Percayalah, saya belum pernah melihat orang makan dengan begitu cepat, dan saat ia memakan makanan itu, matanya berkaca-kaca. Itu adalah airmata kebahagiaan."

Pada tahun 2002, Krishnan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Dan ingin melayani tunawisma di Madurai, Tamil Nadu. Pada tahun 2003, ia berhasil mendirikan organisasi non-profitnya yang bernama Akshaya Trust yang membantu untuk memberi makan kepada para tuna wisma dan cacat mental di Madurai. Ia menyediakan sarapan, makan siang dan makan malam untuk 400 fakir miskin dan lansia. Ia juga membantu mereka menggunting rambut, mencukur dan memandikan dengan tujuan untuk memberikan martabat lebih untuk orang-orang yang dilayaninya.

Ia tidak hanya memasak sendiri, ia juga menghantar dan tidak segan untuk memeluk dan menyuapi mereka yang sangat haus dan lapar akan kasih sayang. Krishnan terpilih menjadi TOP 10 di CNNHeroes 2010.
Ia tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang pahlawan. Ia sekarang menjadi pahlawan pun bukan seperti pahlawan yang ada di film-film seperti Superman, atau Spiderman. Ia benar-benar pahlawan yang nyata di dunia. Iatidak pernah menyangka bahwa ia akan menjadi seorang pahlawan bagi banyak orang. Karena pada awalnya ia berpikir, ia bisa memberikan makan kepada banyak tamu di hotel, masakan ia membiarkan orang-orangnya hidup dalam kelaparan di luar sana ? Ia ingin terus turun ke jalan-jalan dan memberikan makanan kepada mereka yang terlupakan, yang terabaikan, terlebih ia ingin memberikan kasih kepada mereka.
 
Memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi pekerja sosial seperti yang dilakukan oleh Krishnan bukan sesuatu yang mudah. Bahkan sulit sekali untuk di lakukan. Tetapi, Krishnan mengajak kita semua untuk mulai memberi dan rasakan kebahagiaan dengan memberi. Mulailah dari hal yang kecil. Dan mulailah dari lingkungan kita sendiri. Bukan hanya sekadar memberi makanan atau nominal uang, tetapi kasih dan perlakuan yang tulus yang Anda berikan, itu adalah yang terpenting dalam memberi. See and feel the joy of giving.

Krishnan berkata, "Food is one part. Love is another part. So, the food will give them physical nutrition. The love and affection which you show will give them mental nutrition."

sumber : disini

Jumat, 04 Mei 2012

#SSS 25: Solusi Bagi Setiap Masalah

#SSS (Sedekah Super Story) kiriman Sumi Wijayanti (@sumiwijayanti / sumiwijayanti@gmail.com)
.
Saya mau share cerita tentang dahsyatnya sedekah yang dialami oleh teman kerja saya, sebut saja namanya Nisa. Nisa sedang mengalami kesulitan keuangan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Nisa sempat mengajukan pinjaman ke kantor tapi jumlah yang diajukan tidak disetujui oleh kantor kami. Saya sebagai temannya ingin bisa membantunya karena saya tahu betul kondisinya dengan 2 orang anak yang masih kecil, suami yang belum dapat kerjaan setelah di-PHK dan seorang ibu yang ikut dengan mereka. Tapi apa daya, saya juga tak memiliki uang sebanyak yang dia butuhkan.
.
Tapi kira-kira dua minggu yang lalu saya mendapat penawaran Kredit Tanpa Anggunan (KTA) dari pihak Bank yang mengeluarkan kartu kredit dengan cicilan dan bunga flat yang tidak terlalu besar dan tidak dibebankan ke dalam tagihan kartu kredit. Karena saya tidak memerlukannya maka saya coba tawarkan ke Nisa . Dia pun setuju untuk mengajukan pinjaman tersebut atas nama saya.
.
Proses pengajuan pun mulai dijalankan. Sekitar 10 hari sejak pengajuan aplikasi, kabar baik belum juga kami terima. Saya coba sms pihak Bank tapi tidak juga ada balasan. Sementara kebutuhan Nisa untuk anak-anaknya sudah benar-benar mendesak. Sudah terbayang jelas bahwa jika akhir bulan Desember ini dia terima gaji, semua gajinya hanya numpang lewat, dan untuk selanjutnya dia benar-benar akan kebingungan karena tidak ada simpanan.


.
Kami berdua sudah berpikir mungkin aplikasi kami tidak disetujui apalagi sudah akhir tahun belum ada berita. Di saat kami sedang membahas soal KTA tersebut, ada seorang laki-laki sekitar umur 30 tahun dengan keadaan yang lusuh masuk ke kantor dan menyapa kami berdua yang memang berada di counter depan. Pria itu menawarkan dirinya untuk menjadi office boy sekiranya kantor kami memerlukan tenaganya dan memberikan nomer teleponnya ke saya.
.
Sebelum meninggalkan kantor kami, pria itu berkata, “Saya jalan kaki Bu dari Kelapa Gading kesini (Kemang) dan belum makan, kira-kira Ibu bisa kasih saya uang untuk makan atau ongkos?”  Saya diam terpaku karena pada saat itu kondisi saya benar-benar tidak ada uang yang cukup untuk dia beli makanan. Uang saya hanya tinggal recehan 100 – 300 Rupiah saja dan saya baru berencana ke ATM sepulang kerja nanti. Saya mau bilang maaf gak ada uang tapi kok gak tegaaa.. Lalu saya melirik Nisa, kemudian dia berdiri dan merogoh kantong celananya dan memberikan uang kepada pria tersebut.
.
Setelah pria itu pergi, Nisa curhat soal kesulitan keuangannya sambil meletakan kepalanya di atas tumpukan  buku “Notes From Qatar 1” dan “Notes From Qatar Limited Edition”. Kedua buku itu memang baru dia kembalikan setelah dipinjam olehnya 2 bulan yang lalu dan baru dibacanya akhir-akhir ini (itupun setelah berkali-kali saya ingatkan dan saya kasih ultimatum sampai akhir Desember ini tidak dibaca, kedua buku NFQ itu akan saya tarik lagi).
.
Kami lalu membahas buku tersebut. Nisa terkesan dengan konsep 3P’s (Positive, Persistence & Pray) yang ada dalam buku itu. Tapi tentang konsep sedekah yang diajarkan dalam buku itum Nisa agak tidak bisa menerimanya, karena menurut dia sangat aneh jika bersedekah tapi mengharapkan sesuatu dari Allah. Ya, biarlah pikir saya. Saya hargai pendapatnya.
.
Saat sedang berdiskusi itulah handphone saya berbunyi. Dalam hati saya berdoa semoga ini kabar baik dari Bank, dan ternyataaa memang betul telepon itu dari Bank dan alhamdulillah KTA saya disetujui sebesar Rp 10.000.000!!  Setelah 2 minggu kami menunggu, akhirnya KTA itupun disetujui. Kami berdua berpelukan dan saya ikut bahagia karena akhirnya ada jalan keluar untuk kesulitan Nisa walaupun dalam bentuk pinjaman yang harus dicicil tiap bulannya. Tapi tetap, itu merupakan jalan keluar yang diberikan Allah. Alhamdulillaaahh..
.
Beberapa hari setelahnya saya iseng bertanya kepada Nisa, berapa uang yang ia sedekahkan untuk pria berbaju lusuh waktu itu. Dengan malu-malu dia berkata, “Pokoke kalo dikaitkan dengan approval pinjaman KTA , aku dapat 1000x lipat hehehe.” Subhanallah, berarti Nisa sedekah Rp10.000 dan dibalas Rp10.000.000. Nisa cerita, waktu dia sedekahkan Rp 10.000, uang di sakunya tinggal Rp5.000, karena dia pikir masih cukuplah Rp5.000 untuk pulang, maka dia sedekahkan Rp10.000 tersebut.
.
Benar-benar luar biasa banget ya sedekah itu ya.. sekarang Nisa bisa tersenyum lega dalam mengatur keuangannya dan makin percaya bahwa memang sedekah itu sangat dahsyat dan kita boleh berharap kepada-Nya untuk menyelesaikan segala kesulitan kita dengan sedekah. Sedekah adalah solusi bagi setiap masalah yang kita alami. Alhamdulillah..

sumber : disini

--------------------------------------------------------------------- 
Dukungan dan Partisipasi Pembangunan Mushola Da'watul Islamiah
bisa dikirim melalui Bank Syariah Mandiri No. Rek. 7033118591 an. Iin Saein Bdn Mushola DI atau hubungi No Hp Ketua Panitia 0818-656-326 Bapak Iin Saein / Admin blog ini Gun Gun 0821-2483-5688.
.

Kamis, 29 Maret 2012

Membuang 1 Juta Mendapat 37 Milyar

Tak salah bila PT. Diana, Sidoarjo, diminta untuk melayani catering bagi petugas lapangan dan pengungsi akibat mud flow Lapindo senilai 37 milyar setahun. Namun, di luar pertimbangan bisnis, ada invisible hand yang menentukan deal mereka. Itulah takdir ilahi.

“Tanpa bantuan Allah Swt, mustahil kami mendapatkan rezeki yang sangat besar sehingga mengubah drastis usaha kami ini,” ucap Imam Syafei, pemilik PT. Diana. “Inilah berkah dari sedekah,” lanjut suami dari Diana dan bapak dari Kurnia Adi Prakoso (3).



Imam Syafei bertutur, pada 2006, ia dan istri tinggal memiliki uang Rp. 1 juta. Saat itu, usaha catering “Diana” milik mereka baru merangkak. Di waktu yang sama, rumah petak kontrakan yang mereka tempati sudah habis masa sewanya.

Demi membesarkan usaha, mereka berniat mencari rumah kontrakan yang sewanya sekitar Rp. 700 ribu pertahun. Berhari-hari, beberapa rumah yang diincar belum cocok harga.

Di tengah kelelahan dan kekhawatiran, suatu hari selepas ashar Imam Syafei mendengar taushiyah Ustadz Yusuf Mansyur. Lima menit terakhir taushiyah yang sempat disimaknya itu, memantapkan keyakinannya akan hikmah sedekah.

“Mari Bu, kita ikhlaskan dan mantapkan untuk “membuang” uang sejuta ini sebagai sedekah. Insya Allah aka nada pengganti yang lebih baik,” Imam Syafei membujuk istrinya untuk menyedekahkan semua uang milik mereka yang tersisa.

Alhamdulillah, disertai ketekunan ibadah dan doa, harapan suami istri itu terkabul. Mereka mendapat order catering partai besar yang memberi keuntungan Rp. 5 juta.

Selain untuk membayar kontrakan rumah Rp. 600 ribu setahun dan belanja kebutuhan hidup, sebagian keuntungan itu disisihkan untuk sedekah.

“Sejak saat itu, rezeki kami terus mengalir” kata Imam Syafei.

Sampailah kemudian, catering “Diana” mendapat kontrak sebagai supplier untuk pengungsi Lapindo dengan nilai yang luar biasa besar untuk ukuran usaha kecil.

Rezeki itu memacu cepat perkembangan usaha Imam Syafei dan istri. Kini, dalam tempo setahun, perusahaan mereka telah menjadi tiga yaitu PT. Diana (catering), PT. Kurnia (persewaan alat catering), dan PT.Prakoso (supplier produksi catering). Usaha catering mereka bahkan ditabalkan sebagai yang terbesar kedua di Jawa Timur. Sebanyak 120 karyawan dan keluarganya bernaung di tiga perusahaan tersebut.

Salah satu bentuk syukur Imam Syafei, tahun lalu ia menghajikan 13 anggota keluarga besarnya, termasuk si kecil Kurnia Adi Prakoso. Sedekah pun jalan terus, karena inilah kunci kesuksesan mereka.

Sumber : Buku Senjata Kaum Beriman hal 82 - 84    

Minggu, 18 Maret 2012

Tolong Doakan … Nanti saya akan bersedekah !



Malam itu di sebuah pesantren yatim-piatu Jawa Timur datanglah seorang pengusaha untuk bersilaturahmi ke kyai pengasuh pesantren.

“Pak kyai, saya datang ke sini mau minta doa agar hajat saya dikabul oleh Allah Swt.” Ujar si pengusaha.

“Begini Pak kyai, saya punya usaha, bidang migas. Saya sedang ikut tender di Caltex Riau (sekarang perusahaan ini bernama Chevron). Doakan agar saya bisa menang tender!” jelas si pengusaha.

“Mmmm …” pak kyai bergumam tanpa sedikitpun memberi tanggapan.

Entah apa gerangan, mungkin untuk meyakinkan pak kyai tiba-tiba si pengusaha menambahkan, “Tolong doakan saya dalam tender ini Pak Kyai, insya Allah andai saya menang tender, pasti saya akan bersedekah ke pesantren ini!”

Menanggapi pernyataan si pengusaha, pak kyai yang asli Madura bertanya, “Sampeyan hapal surat Al – Fatihah?” SI pengusaha menjawab ia hafal.

“Tolong bacakan surat Al Fatihah itu!” pinta kyai.

“Memangnya ada apa pak kyai, kok tiba-tiba ingin mendengar saya baca Al Fatihah ?” tanya si pengusaha. “Sudah baca aja, saya mau dengar” tukas pak kyai.

“Bismillahirrahmanirrahim .. Alhamdulillahi rabiil alamiin .. Ar rahmaanir rahiim.. Maliki yaumiddiin.. Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin..”

“Sudah-sudah cukup, berhenti sampai di situ!” pinta pak kyai.

“Ayat yang terakhir sampeyan baca itu mengerti maksudnya?” Tanya pak kyai.

“IYYAKA NA’BUDU WA IYYAKA NASTA’IIN, pak kyai?” tanya si pengusaha menegaskan.

“Oh itu saya tahu artinya : KEPADA-MU YA ALLAH KAMI MENGABDI. KEPADA-MU YA ALLAH KAMI MEMOHON PERTOLONGAN!’ tandas si pengusaha.

Pak Kyai lalu berujar enteng, “Oh, rupanya masih sama Al Fatihah sampeyan dengan saya !”

“Saya kira Al Fatihah sampeyan sudah terbalik menjadi IYYAKA NASTA’IIN WA IYYAKA NA’BUDU!” jawab Pak Kyai.

Si pengusaha bingung mendengar penjelasan pak kyai, “Saya masih belum mengerti pak Kyai!”

Pak kyai tersenyum melihat kebingungan sang pengusaha, “Tadi sampeyan bilang kalau sampeyan menang tender, sampeyan akan sedekah ke pesantren ini. Menurut saya itu mah IYYAKA NASTA’IIN WA IYYAKA NA’BUDU. Kalau Al Fatihah sampeyan gak terbalik, pasti sampeyan sedekah dulu ke pesantren ini, insya Allah pasti menang tender!”

Deggg!!! Keras sekali smash sindiran menghujam jantung hati si pengusaha. Malu terasa bagi si pengusaha. Rupanya kalimat janji si pengusaha begitu mudah dipatahkan sang kyai. Tak lama berselang, si pengusaha pun pamit pulang sebab malu.

Ba’da zuhur esok harinya, HP pak kyai berdering. “Mohon dicek pak kyai, saya barusan transfer ke rekening pesantren.” telpon itu pun ditutup. Pak kyai pergi menuju bank membawa buku tabungan.

Mata pak kyai terbelalak melihat angka yang amat panjang. Pak kyai pun bertanya kepada teller bank, “Mbak, tolong bantu saya berapa dana yang ditransfer ke rekening saya ini ? Sang teller berujar, “Nilainya 200 juta, pak kyai!”

Mendengar penuturan teller bank, mata pak kyai berbinar. Berulang kali ucapan hamdalah terdengar. Segera beliau pulang ke pesantren.

Sehabis magrib pak kyai mengumpulkan seluruh ustadz dan santri di pesantren yatim, membaca Al Qur’an, dzikir & doa yang panjang untuk hajat yang ingin dicapai sang pengusaha.

Arsy Allah Swt malam itu mungkin bergetar. Pintu-pintu langit mungkin terbauka. Sebab doa yang dipanjatkan oleh pak kyai & para santri yatim.

Tak sampai satu minggu berselang sang pengusaha menelpon pak kyai dengan nada kegirangan. “Pak kyai , saya ingin mengucapkan terima kasih atas doanya tempo hari. Alhamdulillah, perusahaan saya mengenang tender dengan nilai proyek yang cukup besar!”

Pak kyai turut bersyukur kepada Allah Swt mendengar berita gembira ini, “Memangnya berapa nilai tender yang didapat?!” Pengusaha itu berkata, ”Alhamdulillah, nilainya Rp. 9,8 milyar”.

Mengabdilah kepada-Nya lalu mintalah pertolongan dari-Nya! Siapa yang banyak mengabdi kepada-Nya maka akan banyak mendapat pertolongan-Nya.

Oleh : Bobby Herwibowo

Sumber : Newsletter Masakini edisi Sya’ban 1430 H

---------------------------------------------------------------------
Dukungan dan Partisipasi Pembangunan Mushola Da'watul Islamiah
bisa dikirim melalui Bank Syariah Mandiri No. Rek. 7033118591 an. Iin Saein Bdn Mushola DIatau hubungi No Hp Ketua Panitia 0818-656-326 Bapak Iin Saein / Admin blog ini Gun Gun 0821-2483-5688.

Senin, 05 Maret 2012

Mustahik Jadi Miliarder



Saya punya cerita nyata bener-bener nyata tentang seorang yang miskin dan sekarang dah jadi miliarder. Wah gimana ceritanya tuh ?

Semua orang pasti ingin sukses, ingin makmur, ingin punya rizki yang banyak, ingin bisa hidup sejahtera, ingin beli rumah, ingin bisa nyekolahin anak ke sekolah yang bagus dan lain sebagainya. Hal ini menjadi hak siapa saja, bukan hanya orang kaya tapi juga mustahik sekalipun.

Suatu hari, datang seseorang ke sebuah lembaga zakat, sebut saja namanya Andrian. Dia adalah seorang ibnu sabil. Dalam surat At-Taubah 60 dijelaskan bahwa seseorang yang dalam perjalanan dan kehabisan bekal merupakan mustahik yang berhak atas dana zakat. Andrian perantau asal Jawa Timur, berbekal ijasah Sarjana Ekonomi (SE), dan istrinya seorang dokter hewan, pada tahun 2008 pasangan muda ini menuju Jakarta untuk mengadu nasib.

Harapan dan doa dipanjatkan agar Allah senantiasa memberikan jalan terbaik untuk mencari rizki. Sesampainya di Jakarta, ternyata justru musibah menimpanya.

Tas dan seluruh isinya termasuk dompet dan HP satu-satunya pun, raib diambil orang tak dikenal pada saat ia dan istrinya terlelap tidur di atas kereta. Tidak ada yang tersisa, semuanya hilang, bahkan bajunya pun tinggal yang menempel di badannya saja. Ijasah suami istri itu pun ikut raib. Dalam kebingungan yang luar bisa, Andrian teringat dengan kata “zakat”.
Maka, dia mencari informasi tentang lembaga zakat di Jakarta dan kemudian mendatanginya berharap untuk mendapatkan bantuan.

Ikhtiarnya menuju sebuah lembaga zakat ditempuh dengan berjalan kaki, dan selama perjalanan Adrian berargumentasi dengan hati dan pikirannya.

“Saya ke Jakarta harusnya bisa jadi muzzaki (pembayar zakat), tapi hari ini justru jadi mustahik (penerima zakat)”, bisaknya dalam hati.

Maka ikhtiarnya tidak sia-sia, sebuah lembaga amil zakat membantunya, Walaupun tidak besar dana yang diterima, namun uang itu sebagai modal awal untuk bergerak di Jakarta.

Andrian tidak patah arang. Justru lebih mendidih semangatnya untuk mewujudkan impian. Andrian kemudian bekerja sebagai sopir, istrinya menjadi babby siter, beberapa bulan kemudian menjadi sales. Ada nilai semangat dari setiap makanan yang ia nikmati dari zakat.

Andrian berucap, “Satu suap makanan yang masuk kedalam mulut ini, harus menjadi sepuluh suap buat orang lain”. Masya Allah.

Bisikan hati itu, seakan menembus langit. Apa yang dibatin Andrian mewujud. Hari ini, ia telah menjadi Presiden Direktur perusahaan konsultan property miliknya sendiri dengan asset milyaran rupiah.

Nilai spiritual dalam berbagi itulah, ternyata yang menjadi kunci sukses Adrian. Semangat mengantarnya menjadi milyader dalam kurun 3 tahun. Saya meyakini, bukan hanya karena pintar, kerja keras dan optimis saja akan tetapi ada kekuatan lain, yaitu dengan melibatkan Allah Swt melalui berbagi.

Kebanyakan orang yang kesulitan cenderung “menikmati” menjadi peminta-minta, maka banyak lembaga zakat yang melayani mustahik dari bulan ke bulan, yang datang mereka lagi mereka lagi. Bukannya nggak boleh , memang itu hak mereka, akan tetapi semangat maju dan sukses harus tumbuh dari diri sendiri.

Bukankah dalam Al-Qur’an Surat 13:11 Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa pada diri mereka”.

Dalam kesuksesan Andrian hari ini, ia makin meyakini bahwa “Kitalah yang Butuh Zakat, bukan mereka”. Semakin orang berzakat dan bersedekah, maka Allah hadirkan kesuburan rizki dan pelipatgandaan yang banyak serta keberkahan. Subhanallah.

Semoga ini menjadi inspirasi buat kita semua, juga buat para mustahik, bahwa keberhasilan bukan dominasi orang kaya, namun keberhasilan adalah milik kita semua. Insya Allah. Wallahu’alam.

Oleh : Ust. M. Anwar Sani

Sumber : majalah DAQU Edisi : 001 – Tahun V – Januari 2012/Shafar 1433 H

Minggu, 04 Maret 2012

40 Hari Menuju Kaya




Assalamu'alaikum wr wb.

Sebenarnya ini mau saya kirimkan pas mendapatkannya 20 hari yang lalu.. tapi sempat ragu juga apakah benar2 akan bisa berhasil atau tidak.

Akhirnya saya putuskan untuk mencobanya terlebih dahulu. Beberapa hari menjalankan, akhirnya hampir semua pengurus group Pencinta Sedekah menjalankan program ini.

Sungguh banyak hal-hal yang mengejutkan kami temui selama menjalankan program ini. Satu persatu masalah yang ada mulai ada jalan keluar.. satu persatu peluang dan tawaran bahkan rezeki yang tak pernah disangka-sangka menghampiri satu persatu pengurus yang menjalani Program ini bahkan di HARI PERTAMA.!!

Kami sering kumpul dan sharing sesama pengurus group, terkaget-kaget karena programnya betul2 berhasil diatas harapan kami.

Program ini sebenarnya kami dapatkan dari ustadz Yusuf Mansur. Berikut forward message beliau :

****

Riyadhah 40 Hari

"Sesiapa yang berjalan menuju Allah, Allah akan berlari menuju dia.
Siapa yang berlari menuju Allah, maka Allah akan melompat kepadanya".

• Jaga Shalat Tahajjud 8 Rakaat + Witir 3 Rakaat.
• Jaga Shalat Shubuh, Zuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. (Khusus soal shalat, terkandung di dalamnya menjaga berjamaah, di masjid, lengkap dg qabliyah dan ba'diyahnya. Juga Sunnah Tahiyyatul Masjid, sbg tanda kita dtg sebelom wktnya azan/pra-ontime).
• Jaga Waaqi'ah sesudah shubuh atau sesudah ashar (boleh pilih).
• Jaga Shalat dhuha 6 Rakaat. Yang kuat, 12 rakaat.
• Baca zikir usai shalat, plus yaa fattaah yaa rozzaaq 11x, plus ayat kursi, plus qulhu 3x. Ini setiap usai shalat.
• Khusus usai shalat shubuh dan ashar, ditambah 4 ayat terakhir surah al Hasyr.
• Jaga setiap hari membaca 300x laa hawla walaa quwwata illaa billaah. Boleh 100x. Dan boleh dibagi-bagi di 5 waktu shalat.
• Jaga setiap hari baca Istighfar 100x.
• Jaga setiap hari baca subhaanallaahi wabihamdihi subhaanallaahil 'adzhiem 100x pagi dan 100x sore. (Boleh habis dhuha dan habis ashar/jelang maghrib).
• Jaga setiap hari baca Yaasiin (bebas waktunya kapan saja, yg penting 1hr 1x).
• Tutup malam dg shalat sunnah 2 rakaat; baca Qulyaa di rakaat pertama, Qulhu di rakaat kedua. Setelahnya baca salah satu dari as Sajdah, Tabaarok, atau ar Rohmaan.

Jaga ini selama 40 hari. Berjuang ya. Terutama shalat tepat waktu, di masjid, plus qabliyah ba'diyahnya. Barengi dengan Puasa Daud supaya enteng.

Semoga Allah menyegarkan badan kita semua, menyehatkan kita semua. Yah, dihitung-hitung daripada lembur ga keruan, kerja rodi ga keruan dlm mencari rizki, dan daripada berobat ke rumah sakit. Mending ngelakuin riyadhah dah. Ampuh banget-banget. Kepada Allah dan untuk Allah kita lurusin niat kita ya. Amin.


(ust. Yusuf mansur)

Bagi anda yang serius ingin ikut menjalankan program ini, sebagai alat bantu check list amalannya, kami punya formnya yg bisa diprint. silahkan disini

Sumber : disini

---------------------------------------------------------------------
Dukungan dan Partisipasi Pembangunan Mushola Da'watul Islamiah
bisa dikirim melalui Bank Syariah Mandiri No. Rek. 7033118591 an. Iin Saein Bdn Mushola DI atau hubungi No Hp Ketua Panitia 0818-656-326 Bapak Iin Saein / Admin blog ini Gun Gun 0821-2483-5688.

Jumat, 02 Maret 2012

Menjual Semua Hartanya untuk Sedekah, Malah Kaya Raya (Kisah Nyata)

Ini kisah nyata yang dialami teman guru SMA saya beberapa tahun yang lalu. Kisah ini berhubungan dengan sedekah yang dilakukan dengan keiklasan luar biasa. Bagi saya terdengar agak ganjil dan mustahil, tapi memang itulah kenyataannya. Sepasang suami istri yang menyedekahkan hampir semua hartanya di jalan Allah, kemudian hidup mereka dipasrahkan pada Allah.

Pertama kali mendengar cerita ini, saya kurang percaya, tetapi melihat siapa yang menceritakan saya sangat mempercayai kebenaran cerita ini. Sayang sekali sewaktu saya dan guru SMA saya akan mampir ke rumah pengusaha ini, sang pengusaha sedang keluar rumah.

Kisah ini sebenarnya diawali kegundahan sepasang suami istri akan kebahagiaan yang mereka dapatkan dari harta yang dimiliki. Mereka seakan tidak merasa bahagia walaupun hartanya berlimpah. Bagi mereka, yang terpenting adalah ketenangan hidup. Akhirnya suami istri ini mengambil keputusan yang tergolong nekat. Mereka memberikan hampir semua hartanya untuk mereka sedekahkan di jalan Allah. Hanya satu tujuan mereka; ingin hidup tenang dan tidak terbelenggu dengan nikmat sementara duniawi. Mobil dan beberapa harta berharga lain mereka jual dan mereka sedekahkan. Mereka tidak takut akan kelaparan, karena mereka yakin Allah pasti akan menolong dan memberikan jalan terbaik bagi mereka.

Allahu Akbar! Bukan kesengsaraan yang mereka dapatkan akibat membuang hampir semua harta mereka demi ingin memulai hidup sederhana itu, tetapi kekayaan suami istri ini malahan berlipat-lipat tak terhingga. Kini mereka mempunyai dua perusahaan besar, seakan-akan perusahaan yang dulu dijual untuk disedekahkan malahan diganti 2 perusahaan yang jauh lebih besar dan sangat terkenal oleh Allah.
Kini mereka sangat bahagia dengan kekayaan yang mereka miliki. Lebih dahsyat lagi, sepasang suami istri ini ingin memulai lagi seperti yang mereka lakukan beberapa tahun yang lalu. Mereka akan menyedekahkan dua perusahaan itu, bukan imbalan Allah yang mereka harapkan, tapi perasaan sangat dekat dengan Allah dan merasa diperhatikan dan disayang Allah itulah yang tidak bisa digambarkan oleh mereka saat melakukan cara ini.

Sebenarnya langkah yang dilakukan oleh sepasang suami istri ini adalah langkah logis, cuma belum banyak orang yang berani melakukannya. Tentang sedekah Allah bahkan menjanjikan langsung akan melipat gandakan beberapa kali lipat jika manusia melakukannya dengan ikhlas hanya untuk Allah semata. Bahkan balasan atau pahala dari sedekah akan lebih berlipat-lipat lagi jika dilakukan untuk keperluan berjuang di jalan Allah. Semoga kisah di atas bisa membuka mata hati kita akan kekuatan sedekah. Sedekah seperti bernafas, kita harus mengeluarkan nafas kotor banyak untuk bisa menghirup udara bersih banyak pula. Jika mengeluarkan nafas kotor sedikit, akan sedikit pula udara bersih yang bisa kita hirup.

Sukses untuk anda…..

Sumber : disini